Pada tanggal 13 Februari kemarin, Tottenham Hotspur yang bertandang ke Italia guna melawan Juventus di laga 16 besar Liga Champions leg pertama, berhasil mengejutkan para Juventini. Bagaimana tidak, Harry Kane dan kolega saat itu justru mampu menahan tim tuan rumah dengan skor 2-2 kendati tertinggal 2-0 lebih dahulu.
Hasil yang tidak memuaskan itu membuat jantung Juventini berdebar-debar menyambut leg kedua yang dimainkan dini hari tadi (8/3). Beberapa orang kawan saya yang menjadi penggemar setia klub berjuluk I Bianconeri itu pun mulai banyak yang membesarkan hati dengan sejumlah kalimat-kalimat motivasi. Terlebih, performa The Lilywhites saat bertempur di kandang musim ini cukup brilian.
Dalam kondisi kalah agresivitas gol tandang, satu-satunya cara bagi Juventus adalah memenangi partai kedua melawan Tottenham. Kalaupun tidak, mereka wajib beroleh hasil seri dengan skor besar seperti 3-3, 4-4 atau lebih supaya lolos dengan klausul agresivitas gol tandang yang memang krusial di fase knockout Liga Champions.
Dipandang dari sisi manapun, misi Juventus dalam lawatannya ke Inggris tentu tidak mudah. Mereka butuh segalanya, baik faktor internal seperti semangat dan usaha keras maupun faktor eksternal macam keberuntungan serta mukjizat, untuk menuntaskan tugasnya.
Entah seperti apa kondisi detak jantung Juventini saat wasit yang menengahi jalannya pertandingan, Szymon Marciniak, meniup peluit tanda dimulainya sepak mula. Namun saya yakin, pasti tersirat rasa gelisah yang luar biasa. Andaikata ada keyakinan yang tersembul, pastilah perasaan itu tertutupi oleh ketegangan. Sebuah keniscayaan yang sampai hari ini saya yakini, cuma ada di dunia olahraga.
Di menit ke-39, segala asa yang dimiliki Juventini perihal langkah klub kesayangannya di kompetisi antarklub Eropa nomor wahid ini barangkali terasa semakin buram tatkala gelandang energik asal Korea Selatan, Son Heung-min, sanggup membobol gawang Gianluigi Buffon usai memaksimalkan umpan Kieran Trippier. Keunggulan buat Tottenham ini sendiri bertahan sampai babak pertama selesai.
Ada di situasi genting, dibayangi tekanan masif berupa kegagalan dan masih banyak aura horor lainnya, I Bianconeri malah bertransformasi jadi seekor monster yang mengerikan. Entah kalimat apa yang diucapkan oleh Massimiliano Allegri di ruang ganti, tapi Lo Spirito Juve benar-benar meledak di 45 menit kedua.
Seperti karakter yang biasa ditunjukkan klub sekelas Barcelona, Bayern München, dan Real Madrid dalam menghadapi semua situasi sulit kala berjibaku di ajang Liga Champions, Buffon dan kawan-kawan juga berhasil memperlihatkannya secara paripurna.
Layaknya aksi klimaks superheroes di scene akhir pertempurannya melawan para liyan, Juventus pun tampil gagah berani nan heroik buat mengubah jalannya pertandingan.
Hanya dalam tempo tiga menit, Juventus mampu membalikkan keadaan. Mereka sukses menjebol gawang Tottenham yang dijaga Hugo Lloris sebanyak dua kali lewat sepasang penggawa asal Argentina, Gonzalo Higuain dan Paulo Dybala. Gol-gol itu sendiri disambut sorak-sorai Juventini, baik yang hadir di Stadion Wembley maupun yang tersebar di penjuru Bumi. Comeback!
Di sisi lain, giliran pendukung setia The Lilywhites yang dadanya berdegup kencang tak karuan. Ketar-ketir jikalau tim idola mereka jadi pihak yang harus angkat koper di pengujung laga.
Benar saja, usai mengemas dua gol sekaligus mengubah kedudukan menjadi 2-1, Juventus tak sedikitpun menginjak pedal rem. Mereka tampil kokoh dan kompak buat membawa pulang kemenangan dari London sekaligus mengamankan satu tempat di fase perempat-final.
Seringkali, kata tradisi dicatut oleh banyak kalangan sebagai salah satu resep meraih kejayaan di Liga Champions. Lagi-lagi, kesebelasan seperti Barcelona, Bayern dan Madrid, punya syarat penting yang satu itu.
Walau demikian, harus disadari bahwa karakter yang kuat juga menjadi jurus jitu buat mentas di kompetisi idaman seluruh klub Eropa ini. Berbekal karakter kuat, sebuah klub takkan mudah tersandung langkahnya meski berdiri di situasi yang amat sulit.
Juventus yang selama ini diejek sebagai spesialis gagal di Liga Champions (memegang rekor terbanyak keok di partai final), akhirnya membuktikan diri bahwa mereka punya karakter kuat seperti yang biasa diperlihatkan para rival dan langganan juara.
Dengan kepastian lolos ke perempat-final, asa I Bianconeri untuk mencoba peruntungannya demi menggenggam trofi Liga Champions yang begitu lama diimpikan kembali terbuka, tak peduli seberat apapun tantangan yang menanti di depan mata.
Juventini tak perlu memungkiri fakta bahwa klub kesayangan mereka begitu sering gagal di Liga Champions sehingga kerap dijadikan olok-olok, tapi jangan pernah meragu pula bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang akan memetik hasil manisnya. Lagipula, melakukan percobaan kendati diwarnai kegagalan tentu lebih heroik daripada tak pernah sekalipun mencobanya akibat gagal mentas lagi di Liga Champions, bukan?
Kegagalan yang selama ini akrab dengan I Bianconeri di Liga Champions telah menempa karakter tim. Hal tersebut dan balutan upaya ekstra keras dari Buffon beserta rekan-rekan sejauh ini di atas lapangan adalah isyarat nyata jika mereka ingin berbuat lebih dari sebelumnya di Liga Champions.
Keberadaan mereka di perempat-final pun memiliki satu makna penting, peluang Juventus untuk menyudahi paceklik titel Liga Champions masih bisa diperjuangkan hingga titik darah penghabisan.
Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional