Eropa Lainnya

Periode Negatif Pelatih Belanda di Liga Top Eropa

Kemunduran. Kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi sepak bola Belanda saat ini. Usai timnasnya gagal melaju ke Piala Dunia dan tak ada satupun wakilnya yang melaju ke fase gugur Liga Champions maupun Liga Europa, para pelatih mereka juga mengalami periode buruk musim ini.

Dimulai dari dipecatnya Frank de Boer, dan dalam 90 hari kemudian disusul Andries Jonker, Ronald Koeman, serta Peter Bosz, membuat Belanda tak memiliki satupun pelatih yang menangani kesebelasan di lima liga top Eropa, hingga tulisan ini dirilis.

Padahal, musim lalu klub Belanda maupun pelatihnya masih bertaji di kancah Eropa. Ajax Amsterdam bersama Peter Bosz berhasil melaju ke final Liga Europa, dan Ronald Koeman sukses meloloskan Everton ke kompetisi Eropa sejak musim 2014/2015. Namun, segalanya berubah 180 derajat musim ini.

Teka-teki pun menyeruak. Apa yang sebenarnya terjadi dengan negara empunya Totaal Voetbal ini?

Sulit beradaptasi dan minim kreasi

Dalam wawancaranya dengan Independent, Wilfried Zaha mengatakan bahwa Frank de Boer adalah sosok yang keras kepala. Sang pelatih tetap bersikeras mengusung skema penguasaan bola, padahal materi pemain Crystal Palace kurang mumpuni untuk melakukannya.

Selain itu, muncul kabar juga bahwa antara de Boer dan manajemen Crystal Palace tidak sepaham dalam menjalankan klub. De Boer beralasan klub kurang berkomitmen untuk membentuk tim yang tangguh, sedangkan pihak manajemen mengatakan bahwa pemain-pemain yang diminta de Boer adalah overrated dan melebihi dana di bursa transfer.

Ditambah dengan sifat de Boer yang pendiam dan merasa sudah melakukan semuanya dengan benar, jadilah ia hanya bertahan 77 hari di kesebelasan yang warna bajunya mirip Barcelona itu. Ia didepak setelah Crystal Palace mengalami empat kekalahan beruntun tanpa sekalipun mencetak gol. Hanya Preston North End di musim 1924/1925 yang memiliki awalan lebih buruk dari The Eagles musim ini.

Serupa tapi tak sama, Andries Jonker juga kehilangan jabatannya di VfL Wolfsburg usai gagal mengangkat performa tim di awal musim. Sangat disayangkan sebenarnya, karena musim lalu ia menjadi pahlawan dari keberhasilan Wolfsburg bertahan di Bundesliga.

Ditunjuk sebagai juru taktik sejak Februari 2017, Jonker hanya sanggup bertahan di 19 pertandingan bersama Die Wolfe, dengan hasil 8 kemenangan, 4 imbang, dan 7 kekalahan. Takluknya Wolfsburg dari tim promosi, Stuttgart, membuat Jonker harus rela didepak, meninggalkan tim yang dibawanya terjerumus ke peringkat 14.

Dilansir dari Daily Mail, pihak klub mengatakan bahwa Wolfsburg tidak mengalami perkembangan berarti sejak ditangani Jonker. Pernyataan tersebut seakan mengukuhkan bahwa pelatih berusia 55 tahun tersebut tidak pandai membangun tim, karena ia didepak dari tim tim junior Arsenal juga dengan alasan yang sama.

Arsène Wenger pernah mengungkapkan bahwa tim junior Arsenal semakin tertinggal dari para rivalnya sejak ditangani Jonker pada musim panas 2014. Ketika tim junior Chelsea tiga kali menjuarai FA Youth Cup secara beruntun dan tim junior Manchester City dua kali lolos ke partai puncak dalam ajang yang sama, anak-anak muda asuhan Jonker justru tersisih dini setelah tumbang di tangan Blackburn Rovers.

Tak hanya itu, kesalahan lain dari Jonker yang membuat Wenger berang adalah kebijakan Jonker yang mengharuskan anggota akademi Arsenal tampil sebaik mungkin demi mendapatkan kontrak profesional. Menurut Wenger, apa yang dilakukan Jonker tersebut justru membuat para pemain muda tertekan dan membuka peluang bagi klub lain untuk membajak berlian muda mereka yang belum selesai diasah.

Sebagai perbandingan, sebelum era Jonker, akademi Arsenal menerapkan peraturan kontrak profesional secara otomatis jika pemain akademi mereka telah menginjak usia 17 tahun. Apakah nantinya sang pemain akan berkembang atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting pemain tersebut sudah diikat dulu secara profesional oleh The Gunners.

Lalu bagaimana dengan Peter Bosz? Di awal musim ia sempat membuat Borussia Dortmund tampil perkasa dengan meraih lima clean sheets beruntun di Bundesliga, tapi menjelang paruh musim, performa Die Borussen justru merosot tajam.

Dari data yang tertera di situswes resmi Bundesliga, penyebab yang paling jelas terlihat adalah absennya pemain utama, dan Bosz tidak memiliki rencana cadangan lain. Ketika Łukasz Piszczek cedera, Bosz menurunkan tujuh susunan pemain belakang yang berbeda dalam delapan laga terakhirnya di Dortmund.

Dengan komposisi yang selalu berganti tiap pekannya, chemistry antar-pemain tak kunjung terbentuk, dan kokohnya pertahanan Dortmund di awal musim pun menguap begitu saja. Terkait hal ini, Bosz memang sudah diprediksi tidak akan bertahan lama di Dortmund karena taktik yang ia gunakan terlalu monoton.

Pelatih berkepala plontos tersebut sangat mendewakan formasi 4-3-3, bahkan saking cintanya dengan formasi itu, ia sempat mendapat pertanyaan dari wartawan di sebuah konferensi pers. “Apakah Anda tidak memiliki alternatif formasi lain?” Bosz menjawabnya dengan enteng, tapi terkesan asal bicara. “Tentu kami memiliki alternatif, dan sedang kami pikir matang-matang saat ini”.

Di pekan-pekan berikutnya ia memang mengganti formasi ke 3-4-3 dan 3-4-1-2, tapi justru membawa Dortmund ke jurang kehancuran. Bahkan, formasi yang disebutkan terakhir membuat Dortmund kehilangan keunggulan empat gol saat melawan Schalke, sehingga hasil akhir menjadi imbang 4-4.

Hal lain yang membuat pelatih berkepala botak ini terdepak adalah lambatnya beradaptasi dengan iklim sepak bola Jerman. Di Bundesliga, tempo permainan sangat cepat seperti Eredivisie, tapi rataan usia skuat Bosz di Dortmund lebih tua empat tahun dari yang dimilikinya di Ajax musim lalu.

Memang, anak asuh Bosz di Dortmund lebih unggul jam terbang dan sedang berada di usia keemasan, tapi di beberapa pertandingan Bundesliga dibutuhkan pemain-pemain dengan usia awal 20-an yang masih segar bugar sehingga lebih bertenaga, dan Bosz tidak banyak memilikinya.

 

Ronald Koeman

Apesnya Ronald Koeman

Sedikit berbeda dengan tiga nama di atas, perjalanan Ronald Koeman di Everton bisa dibilang berakhir karena nasib apes, tapi juga ada andil dari dangkalnya variasi taktik yang dimilikinya.

Bermula dari hengkangnya Romelu Lukaku, Koeman sebenarnya sudah mengantongi kandidat pengganti dalam diri Olivier Giroud. Kesepakatan sudah hampir terjalin, tapi tiba-tiba Giroud memutuskan bertahan di Arsenal, yang membuat Koeman tidak memiliki pemain dengan spesifikasi mirip Lukaku.

Baca juga: Olivier Giroud adalah Penyebab Dipecatnya Ronald Koeman

“Skuat Everton dibentuk dengan skema bola-bola atas dengan mengandalkan Lukaku di lini depan. Giroud bisa menjadi pengganti yang tepat, tapi jelang hari penutupan ia membatalkan niatnya untuk hengkang. Kami memang masih memiliki Wayne Rooney dan Sandro Ramírez, tapi keduanya adalah penyerang yang selalu meminta bola di kaki, sedangkan para gelandang dan bek terlanjur terbiasa dengan bola lambung”, curhat-nya pada Independent.

Apesnya, masa transisi yang harus dialami Everton tidak dibarengi dengan jadwal yang bersahabat di liga domestik. Dari sembilan pekan pertama, lima di antaranya adalah tim-tim yang menghuni enam besar musim lalu, yaitu Chelsea, Tottenhan, duo Manchester, dan Arsenal.

Phew”. Nada keresahan itupun muncul dari mulut Koeman, saat ia menerima surel jadwal Liga Primer Inggris di masa liburannya. Saat itu juga, ia sudah bersiap jika hari-harinya di Everton tidak akan bertahan lama, walau telah menggelontorkan dana ratusan juta paun di bursa transfer untuk memboyong pemain-pemain ternama.

***

Dari analisis yang disaring dari berbagai sumber tersebut, bisa disimpulkan bahwa ego para pelatih Belanda masih sulit untuk dilunakkan. Berbekal status pelatih dari negara yang mencetuskan skema sepak bola atraktif, tampaknya beberapa pelatih asal Belanda masih percaya kalau racikan mereka adalah yang terbaik, dan enggan beradaptasi dengan situasi yang sedang mereka hadapi. Atau, lebih buruk lagi, jika sulit belajar dari pengalaman, seperti yang dialami Jonker dan de Boer.

Jika ini terus berlanjut, kondisi di masa depan tak akan banyak berubah. Para pelatih dari Negeri Kincir Angin hanya akan menjadi figuran belaka di tengah panggung sepak bola Eropa yang berdiri megah dan menyedot atensi seluruh pencinta sepak bola.

Sangat disayangkan, karena sebelumnya Belanda pernah melahirkan cukup banyak pelatih fenomenal seperti Rinus Michels, Johan Cruyff, Frank Rijkaard, Bert van Marwijk, dan Louis van Gaal.

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.