Eropa Spanyol

Mengapa Barcelona Menginginkan Mesut Özil?

Kabar ketertarikan Barcelona kepada Mesut Özil seperti dimulai dari riak kecil saja. Lionel Messi, sang katarsis Blaugrana, dikabarkan secara khusus meminta manajemen mendatangkan Özil. Kabar tersebut dianggap hanya angin lalu. Namun, dalam dua hari terakhir, kabar tersebut mengalir semakin deras dan siap menghanyutkan siapa saja yang tak siap.

Adalah Mundo Deportivo yang mengangkat sebuah berita bahwa perwailan Özil sudah bertemu dengan manajemen Barcelona. Konon, pertemuan tersebut terjadi atas seizin Arsene Wenger, pelatih Arsenal. Gelagatnya, Wenger pun enggan kehilangan salah satu pemain terbaiknya secara gratis di akhir musim 2017/2018.

Arsenal memang terancam kehilangan Özil secara cuma-cuma karena kontrak yang tinggal menyisakan satu musim saja. Untuk alasan ini pula, nilai pasar pemain asal Jerman tersebut terjun bebas. Didatangkan dari Real Madrid dengan banderol 42 juta paun, kini The Gunners kemungkinan harus merelakan Özil hengkang hanya dengan 17,7 juta paun atau 20 juta euro saja.

Harga yang begitu murah ini pula yang menjadi salah satu latar belakang ketertarikan Barcelona kepada Özil. Buruan utama Barcelona tentu saja masih Philippe Coutinho. Namun, sikap keras manajemen Liverpool sebagai pemilik Coutinho menghambat terjadinya proses transfer. Mencari opsi, adalah langkah selanjutnya yang dilakukan Barcelona.

Untuk mendapatkan Coutinho, Barcelona dikabarkan harus sudah siap berpisah dengan uang senilai 100 juta paun lebih. Tentu seperti langit dan bumi ketika membandingkan harga Coutinho dengan nilai pasar Özil saat ini. Maka menjadi masuk akal apabila Barcelona akan bergerak cepat untuk mendapatkan tanda tangan Özil.

Perwakilan Özil sendiri, Erkut Sögüt, sudah menegaskan bahwa Barcelona harus secepatnya memasukkan proposal penawaran. Alasannya, saat ini, ada enam klub yang sudah menyatakan tertarik mendatangkan Özil di bulan Januari.

Barcelona sendiri menyadari bahwa mereka membutuhkan sumur kreativitas baru di lini depan. Khususnya, dari pemain yang bisa bermain di Liga Champions, seperti Özil. Aspek kedua yang dipertimbangkan Barcelona tentu saja nama besar si pemain. Hal ini berkaitan dengan sisi investasi yang dilakukan klub ketika membeli pemain baru. Misalnya, menghitung dampak penjualan kaos asli Barcelona dari pembelian seorang Özil.

Salah satu hal yang ditanyakan perwakilan Özil adalah soal posisi dan peran di atas lapangan. Tentu pertanyaan ini masuk akal lantaran di atas kertas, Barcelona seperti tidak membutuhkan tenaga mantan pemain Werder Bremen tersebut. Analisis soal peran dan posisi inilah yang kemungkinan besar menjadi latar belakang ketertarikan Barcelona kepada Özil.

 

kabar transfer Özil

Interior yang berposisi lebih dalam

Memperkirakan posisi dan peran Özil bersama Barcelona, artinya mencoba meraba skema yang biasa digunakan Ernesto Valverde. Pelatih asal Spanyol tersebut, setidaknya, di atas lapangan menggunakan dua skema, yaitu 4-3-3 dan 4-4-2.

Masalah yang tengah dihadapi Barcelona adalah kinerja lini kedua yang tak selalu meyakinkan. Andres Iniesta sudah berusia 33 tahun dan tak mungkin bermain di semua pertandingan. Sementara itu, Ivan Rakitic tengah menjadi sasaran kritik favorit pendukung Barcelona. Gelandang asal Kroasia tersebut memang seperti kehilangan visi dan kejelasan permainan.

Oleh sebab itu, dalam skema 4-3-3, Özil akan bermain sebagai interior sebelah kiri (gelandang tengah sebelah kiri). Bisa juga, Özil digeser ke arah kanan, jika Iniesta mendapatkan menit bermain. Tujuan utamanya adalah mencari pengganti Rakitic, sementara Barcelona belum bisa memberi kepercayaan kepada Denis Suarez dan Andre Gomes.

Ketika timnas Jerman dijamu Inggris dalam sebuah uji tanding, Özil ditempatkan sebagai gelandang sentral. Posisi ini lebih dalam ketimbang posisi favoritnya, yaitu sebagai pemain nomor 10 (gelandang serang), atau wide-playmaker baik di kanan maupun kiri.

Tujuan penempatan Özil di area yang lebih dalam adalah membantu si pemain mendapatkan akses ruang yang lebih lega di depan barisan lini tengah Inggris. Ketika mendapatkan akses ruang yang lega, Özil juga akan mendapatkan waktu yang lebih longgar untuk menentukan arah sirkulasi bola.

Pun,  meski berposisi “lebih dalam”, jarak antara Özil dengan gelandang serang dan penyerang tidak terlalu jauh. Misalnya, di satu momen dari sekitar lingkaran tengah, Özil bisa melepaskan umpan terobosan untuk Timo Werner. Di sekitar lingkaran tengah, Özil menemukan ruang yang lebar dan waktu yang longgar karena lini tengah Inggris tertarik mundur oleh pergerakan gelandang serang.

Bersama timnas Jerman, Özil berperan seperti deep playmaker, meskipun posisinya tak sebegitu dalam. Mungkin, Anda boleh menyebutnya posisi yang nanggung, karena berada di antara gelandang tengah lainnya yang berposisi lebih dalam (seperti gelandang bertahan) dan gelandang serang di atas lingkaran tengah.

Posisi dan peran yang sama bisa dilakoni Özil bersama Barcelona. Ketika bermain bersama Iniesta dan Sergio Busquets, Özil bisa ditempatkan di antara mereka. Pun, untuk situasi tertentu, posisi Iniesta dan Özil bisa saling bertukar.

4-3-3 ala Valverde adalah asimetris, seperti yang ditunjukkan ilustrasi di atas. Di dalam ilustrasi di atas, Özil berposisi lebih dalam, tidak sejajar dengan Iniesta (staggering). Untuk situasi tertentu, bisa saja Özil yang lebih tinggi ketimbang Iniesta, yang bergerak turun. Penyesuaian posisi dan peran berubah sesuai situasi pertandingan.

Ketika Iniesta ikut dalam “rombongan” pemain Barcelona yang naik menyerang, Özil bisa mengatur jarak dengan barisan di depannya. Pada situasi tertentu, ketika lawan bertahan menggunakan blok yang kompak, bola bisa disirkulasikan lagi ke belakang menggunakan Özil. Jika memungkinkan, Özil bisa memindahkan bola ke salah satu bek sayap yang naik dan menyediakan width.

Jadi, keberadaan Özil bukan hanya soal “Kapan melepaskan umpan kunci dan membuat asis?” Narasi soal Özil adalah memaksimalkan olah bola, teknik umpan, dan visi untuk menjaga penguasaan bola. Dan tentu saja, menjadi solusi berupa umpan terobosan dari lini kedua.

Satu hal lagi. Özil sudah berusia 29 tahun. Mungkin akan lebih ideal baginya untuk bermain di lini kedua dan mengurangi intensitas berakselerasi dan membebani otot. Ketika masuk usia yang mulai senja, bermain sebagai gelandang sentral akan (sedikit) lebih nyaman, ketimbang banyak bergerak di sisi lapangan.

 

Kekhawatiran

Jika berbicara soal Özil, salah satu gambaran yang ditangkap adalah julukan “pemain malas”. Tentu, julukan tersebut akan membuat Özil dipandang tak sesuai untuk Barcelona karena akan membebani tim ketika bertahan. Misalnya, ketika enggan melakukan track back.

Perlu diingat, julukan di atas sangat jahat dan tak adil. Mengapa? Karena ketika membela Werder Bremen dan Real Madrid, Özil sangat dinamis bergerak. Bukti yang lebih kekinian adalah ketika Özil bermain penuh determinasi di derbi London Utara, Arsenal melawan Tottenham Hotspur. Pun ketika membela timnas Jerman, Özil menunjukkan intensitas yang cukup memuaskan.

Semuanya kembali ke sistem dan ide bermain sebuah klub. Ketika klub bisa membantu pemain mengeluarkan kemampuan terbaik, atau setidaknya mampu menyediakan ekosistem yang menunjang, determinasi yang dicari akan datang dengan sendirinya. Jika sudah bahagia, tak ada alasan bagi seseorang untuk mengecewakan si pemberi kebahagiaan.

Pada akhirnya, Özil adalah solusi yang lebih murah ketimbang Coutinho dan masuk akal untuk kepentingan skuat Liga Champions. Kreativitas Özil juga dibutuhkan untuk lini kedua Barcelona. Segala aspek sudah nampak cocok. Tinggal apakah si pemain akhirnya akan hengkang dari London yang mulai ia cintai?

Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen