Nasional Bola

Srđan Lopičić, Sang Gelandang Antik

Cukup banyak pemain Eropa Timur yang beredar di Liga Indonesia tiap musimnya, tapi tidak banyak yang bisa konsisten menampilkan performa terbaiknya, dan Srđan Lopičić merupakan salah satu pemain dengan kontribusi positif itu.

Lopi, sapaan akrabnya, hampir tak pernah terganti di tiap klub yang dibelanya di Indonesia. Mulai dari Persisam Putra Samarinda, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Borneo FC, Arema Cronus, hingga Persiba Balikpapan musim lalu, ia selalu menjadi andalan di lini tengah.

Kemampuannya memang terhitung komplet sebagai seorang gelandang, yang dideskripsikan dengan sangat lengkap oleh Gabriel Budi Liminto, agen Lopi, ketika dihubungi Football Tribe Indonesia.

“Lopičić merupakan playmaker genius yang bermain sangat efektif dan efisien. Mobile bergerak untuk tim, passing luar biasa, set pieces spesial, dan punya naluri gol yang bagus. Ia sudah bekerja sama dengan saya selama beberapa tahun, baik di Indonesia maupun Hong Kong. Dia lebih dari sekadar pemain dan merupakan seorang sahabat,” ujar agen asal Surabaya tersebut.

Sederet keahlian kelas wahid dan kepribadian baik itu menjadikannya salah satu gelandang antik di Liga Indonesia, karena di usianya yang semakin menua, ia masih dapat menciptakan karya seni tinggi di atas lapangan rumput.

Ketika bermain di Persela Lamongan contohnya, yang menjadi periode terbaik Lopi di Indonesia sejauh ini. Bertanding melawan Persepam Madura United, Lopi berhasil mencetak gol pertamanya bagi Persela. Namun, ia tidak hanya mencetak satu, melainkan tiga!

Hattrick Lopi diawali dengan eksekusi penalti di menit ke-16, dan dilanjutkan dengan dua gol tambahan lewat permainan terbuka pada menit ke-55 dan 12 menit setelahnya. Selama musim itu, di pentas Indonesia Super League (ISL) 2014, Lopi menjadi salah satu pemain favorit LA Mania, dan mendapat pujian khusus dari Fadeli, Bupati Lamongan yang juga Pembina Persela.

“Banyak pemain sepak bola yang bagus, tapi tidak bisa bermain dalam tim. Lopičić ini bukan hanya bagus, namun juga seorang pemain tim. Ini adalah pilihan terbaik pelatih dan manajemen Persela”, ujarnya kepada Goal Indonesia.

Kredit: Instagram lopicic_ivana__10

Keunikan dengan Gustavo Lopez dan Milomir Šešlija

Jalan karier Lopičić di Liga Indonesia cukup unik, karena ada dua figur yang sangat berkaitan dengannya, tapi dalam aspek yang berbeda.

Pertama adalah Gustavo Lopez. Apa hubungannya pemain asal Montenegro ini dengan playmaker dari Argentina tersebut? Jawabannya adalah, Lopi pernah dua kali direkrut sebagai pengganti Gustavo, di dua tim yang berbeda.

Saat didatangkan Persela, Lopi difungsikan untuk menutup lubang yang ditinggalkan Gustavo Lopez, yang hengkang ke Arema. Uniknya, ketika Arema linglung setelah ditinggal Gustavo, dua musim kemudian Lopi kembali menjadi sosok pengganti dengan berlabuh ke klub kebanggaan warga Malang tersebut di Torabika Soccer Championship (TSC) A 2016 .

Kemudian dengan coach Milo, Lopi punya kedekatan sejak mereka bekerja sama di Arema Cronus pada TSC A 2016. Lopi yang saat itu diplot sebagai gelandang serang, awalnya diprediksi akan membentuk komposisi lini tengah mematikan bersama Raphael Maitimo, Ahmad Bustomi, Dendi Santoso, dan Esteban Vizcarra.

Sayangnya, kiprah Lopi di Arema Cronus sedikit ternoda dengan berbagai cedera yang menderanya. Dimulai dari sakit demam berdarah, ia kemudian harus kembali menepi selama dua bulan karena cedera siku, padahal itu merupakan laga comeback-nya setelah pulih dari sakit.

Ia akhirnya dilepas Arema pada paruh musim TSC, dan tepat setelah pulih dari cederanya tersebut, Lopi bergabung dengan South China, klub tersukses di Liga Hong Kong, yang dinakhodai oleh Dejan Antonić.

Hingga akhirnya, di Go-Jek Traveloka Liga 1 putaran kedua, Lopi kembali ke Indonesia untuk memperkuat Persiba Balikpapan. Ia kembali menjadi anak asuh coach Milo, meski hanya berlangsung beberapa pekan, karena kemudian sang pelatih mengundurkan diri.

Hari ini, tepat 34 tahun yang lalu, seorang bayi bernama Srđan Lopičić lahir di Montenegro. Ia kemudian tumbuh sebagai pesepak bola, sempat bermain untuk Montenegro U-21, dan kini tetap dapat menunjukkan daya magisnya, meski ia tak muda lagi, bahkan klubnya terdegradasi.

Wish you always be happy, Lopi!

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.