Nasional Bola

Membandingkan Kehebatan Skuat Persija 2000-an dan Persija 2010-an

Akhir-akhir ini, Anda tentu sudah melihat bagaimana Bleacherreport mengadu sebuah tim sepak bola Eropa dari generasi yang berbeda. Sampel hitungan waktu dipersempit yaitu kumpulan pemain dari generasi tahun 2000-an serta pemain dari satu dekade setelahnya yaitu 2010 dan seterusnya. Lalu, bagaimana seandainya yang diadu adalah tim-tim sepak bola Indonesia? Kami memulai daftarnya dengan tim ibu kota, Persija Jakarta.

Persija Jakarta 2000-an XI

Harus diakui, highlight besar tim Persija Jakarta pada tahun 2000-an adalah ketika mereka berhasil meraih gelar juara liga pada tahun 2001. Prestasi tersebut sulit terulang bahkan hingga hari ini. Tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut bahkan sempat sial bukan main ketika berhasil melaju ke dua partai final kompetisi yaitu Liga dan Copa Indonesia pada tahun 2005, namun sayangnya mereka gagal membawa pulang trofi pada kesempatan tersebut.

Posisi kiper tim Persija Jakarta 2000an sudah tentu akan diisi oleh Mambalou Mbeng Jean. Memang pada era tersebut, ada beberapa kiper hebat lain yang mengawal gawang Persija, seperti Mukti Ali Raja dan Hendro Kartiko. Akan tetapi, Mbeng Jean adalah kiper yang turut serta membawa Persija meraih gelar juara liga pada tahun 2001.

Nur’alim tentu tidak bisa dilewatkan dari tim Persija era 2000-an. Bek yang akrab disapa “Jabrik” ini begitu dekat dengan Jakmania, suporter Persija. Jabrik juga sebenarnya merupakan kapten tim sebelum kedatangan Budiman Yunus. Sementara nama lain di lini belakang tim Persija 2000-an adalah Hamka Hamzah dan bek asing asal Kamerun, Abanda Herman.

Hamka datang ke Persija sebagai bek muda potensial yang kariernya tengah menanjak. Ia berada di sana selama tiga musim. Come as a boy, leave as a man. Sementara Abanda, harus diakui meski ia kemudian menyeberang ke Persib Bandung, Abanda adalah salah satu bek asing terbaik yang pernah dimiliki oleh Persija. Meskipun tinggi besar, ia juga cepat dan tangguh ketika mesti berduel dengan penyerang lawan.

Posisi bek sayap kanan sudah tentu akan ditempati oleh Ismed Sofyan yang mendarat di Persija pada tahun 2003. Sementara untuk posisi gelandang sudah tentu ada nama Luciano “Luci” Leandro yang menjadi otak permainan tim ketika meraih kesuksesan pada tahun 2001. Agus Indra Kurniawan akan menjadi tandem Luci di lini tengah. Sama seperti Hamka, Agus Indra datang ke Persija sebagai pemain muda dan keluar sebagai pemain bintang yang dikenal luas. Satu posisi lain diberikan kepada Anang Ma’ruf yang sudah memainkan peran sebagai bek sayap modern di era tersebut.

Bambang Pamungkas yang mencetak dua gol di partai final liga sudah pasti dimasukkan. Momen juara tersebut juga yang kemudian melambungkan nama pemain yang akrab disapa Bepe tersebut di kancah sepak bola nasional. Tandem Bepe di musim kompetisi 2001, Widodo C. Putro, yang kini menjadi pelatih Bali United, juga masuk dalam skuat ini mengalahkan penyerang-penyerang lokal lain seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Gendut Dony, dan Budi Sudarsono. Satu nama lain adalah penyerang asing asal Kamerun yang betul-betul ikonik, Urbain Roger Batoum.

Untuk pelatih, Sofyan Hadi yang menjadi aristek keberhasilan Persija meraih gelar juara pada tahun 2001 tentu menjadi pilihan utama. Ia mengalahkan pelatih-pelatih asing seperti Sergei Dubrovin, Ivan Kolev, atau Arcan Iurie. Sofyan Hadi mampu memaksimalkan bakat lokal dan memadukannya dengan para pemain bintang.

Persija Jakarta 2010-an XI

Persija mengalami fase yang agak sulit terutama sejak lepas dari APBD. Ada masa di mana Persija kesulitan untuk mengontrak pemain bintang, bahkan sama kesulitan untuk bermain di area Jakarta dan sekitarnya. Prestasi terbaik Persija di tahun 2010 dan tahun-tahun setelahnya adalah ketika berada di peringkat ketiga klasemen akhir Liga Super Indonesia 2011.

Posisi kiper mutlak diberikan kepada Andritany Ardhiyasa. Andri merangkak dari kiper pelapis, sampai kemudian posisinya tidak tergantikan di bawah mistar Macan Kemayoran. Refleksnya kelas satu dan ia juga sangat percaya diri ketika mengawal gawang. Andritany merupakan calon pemimpin Persija di masa mendatang.

Meskipun sudah uzur, peran Ismed masih sulit untuk tergantikan. Ia memang tidak secepat dulu, akan tetapi umpan-umpannya masih sangat terukur dan akurat. Dua bek asing Fabiano Beltrame dan Precious Emeujeraye akan bahu-membahu di jantung pertahanan. Keberadaan Fabiano begitu berkesan bagi Jakmania.

Sementara Precious, ia tampil lebih baik ketimbang para pemain asing asal Singapura lain, Baihakki Khaizan dan Mustafic Fachruddin. Satu nama lain adalah Rezaldi Hehanusa yang menjadi simbol era baru tim Persija Jakarta. Bek muda asal Ciputat ini memiliki potensi besar untuk menjadi legenda tim.

Ada cinta yang sangat besar ditunjukan Ramdani Lestaluhu untuk Persija Jakarta yang terlihat dari bagaimana permainan maksimal yang selalu ditunjukan oleh pemain asal Tulehu ini. Ramdani merasakan segalanya bersama Persija. Dua nama lain di posisi gelandang akan diisi oleh dua legiun asing yaitu Rohit Chand dan Robertino Pugliara.

Rohit datang dari negara asing yang rasanya sepak bola tidak akan dimainkan di sana, yaitu Nepal. Rohit pun memiliki kecintaan besar terhadap Persija. Seringkali ia bahkan sampai rela terbang pulang pergi Nepal-Indonesia hanya untuk bermain bagi Macan Kemayoran.

Sementara itu, ada cerita unik soal Robertino Pugliara. Ia sempat ditolak ketika mengikuti seleksi bersama tim rival, Persib. Namun, Robertino kemudian dikontrak Persija dan justru tampil bersinar. Di masa jayanya, Robertino benar-benar merupakan gelandang yang luar biasa. Ia bukan saja andal dalam merancang serangan, tetapi juga sanggup mencetak gol.

Trio ABG di lini serang yang diisi oleh Aliyuddin, Bambang Pamungkas, dan Greg Nwokolo sudah tentu menjadi pengisi lini serang tim Persija tahun 2010-an. Ada masa di mana trio ABG merupakan salah satu trio terbaik di kancah sepak bola Indonesia. Greg yang bertugas mengobrak-abrik pertahanan lawan, Bepe yang menyelesaikan peluang, sementara Ali menjadi penyambung antara keduanya. Satu-satunya yang kurang dari trio ABG ini adalah mereka tidak bisa memberikan gelar juara untuk tim Macan Kemayoran.

Rahmad Darmawan memang terlihat menjadi pilihat terbaik sebagai pelatih yang menangani tim Persija tahun 2010-an, tetapi pelatih Persija saat ini, Stefano Teco Cugurra, sudah melakukan hal yang betul-betul luar biasa. Dengan skuat minimalis, mengandalkan bakat-bakat lokal, dan bahkan posisinya sempat terancam, Teco kemudian mengubah Persija menjadi lebih baik di musim ini.

Jadi menurut Anda, tim mana yang akan memenangkan pertandingan apabila bertemu dalam sebuah pertandingan? Tim Persija 2000-an atau tim Persija 2010-an?

Author: Aun Rahman (@aunrrahman)
Penikmat sepak bola dalam negeri yang (masih) percaya Indonesia mampu tampil di Piala Dunia