Mengenang Stadion Lebak Bulus dan Maknanya bagi Persija Jakarta

 

Stadion kandang tentu memiliki nilai tersendiri bagi sebuah klub. Bahkan ada beberapa yang menolak untuk mengganti lokasi stadion mereka karena ada nilai tersendiri dan keterkaitan dengan penggemar. Alternatif yang dilakukan biasanya klub-klub tersebut akan memugar stadion lama mereka agar bisa lebih modern dan menampung lebih banyak penonton. Pilihan tersebut lebih sering diambil ketimbang klub harus mengganti lokasi markas mereka.

Persoalan stadion kandang juga mendera klub Persija Jakarta sejak beberapa tahun ke belakang. Ini adalah fenomena yang miris karena sebelumnya mereka memiliki homebase yang sangat khas dan angker bagi rival dan lawan-lawan mereka bernama stadion Lebak Bulus. Dan bila bertanya kepada The Jakmania, penggemar Persija, mereka akan menjawab dengan lantang bahwa stadion yang berlokasi di daerah Jakarta Selatan tersebut adalah yang terbaik.

Jawaban tersebut wajar karena stadion Lebak Bulus memiliki banyak kenangan manis. Hijrah dari stadion Menteng, tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut kemudian menempati stadion Lebak Bulus yang sebelumnya merupakan markas Pelita Jaya ketika berkompetisi di Galatama.

Stadion berkapasitas maksimal 15.000 penonton tersebut menjadi kandang Persija meskipun dalam beberapa kesempatan mereka juga masih menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai kandang mereka. Termasuk ketika Bambang Pamungkas dan kawan-kawan menjadi juara nasional pada tahun 2001. Di sana juga banyak tersaji laga-laga luar biasa yang akan bisa diceritakan kepada generasi mendatang.

Perpisahan manis di akhir tahun 2007

Satu dekade lamanya Persija menghuni Lebak Bulus. Tepat pada kompetisi terakhir Liga Indonesia sebelum bertransformasi menjadi Liga Super, Persija memainkan musim terakhir mereka menggunakan Lebak Bulus sebagai stadion kandang. Karena setelahnya operator Liga Super menganggap Lebak Bulus bukan stadion yang layak untuk menggelar pertandingan sepak bola di level kompetisi tertinggi.

Musim kompetisi 2007/2008 menjadi yang terakhir bagi Persija untuk menempati stadion Lebak Bulus. Komposisi tim yang merupakan kombinasi antara pemain muda dan senior menjadi kunci tim Macan Kemayoran untuk mengarungi Kompetisi.  Lini belakang menjadi yang paling banyak diisi pemain muda potensial seperti Hamka Hamzah, Muhammad Roby, dan Leo Tupamahu. Sementara itu winger muda, Atep, semakin matang dan memantapkan posisinya di tim utama.

Untuk legiun asing, Persija mengontrak Evgeny Hmaruc, Abandah Herman, Samuel Tayo, Gustavo Ortiz, dan Javier Rocha. Namun jelang putaran kedua Tayo, Ortiz, dan Rocha kemudian dilepas manajemen berdasarkan evaluasi bahwa penampilan mereka tidak memuaskan sepanjang putaran pertama.

Sebagai gantinya Ruben Cecco, Mustapha Sama, dan Robertino Pugliara dikontrak manajemen. Nama terakhir menjadi salah satu pemain asing yang paling berkesan bagi penggemar Persija.

Sementara untuk mengantisipasi hijrahnya Rahmad Darmawan ke Sriwijaya FC, manajemen kemudian mengontrak Sergei Dubrovin yang sempat mengantarkan Petrokimia ke tangga juara Liga Indonesia pada tahun 2002. Dan Isman Jasulmei tetap dipertahankan sebagai asisten pelatih. Sehingga kohesi dan kekompakan yang sudah terjalin sebelumnya tetap terjaga.

Tim ibu kota mengawali musim tersebut dengan cukup baik. Empat kemenangan dari lima pertandingan awal. Mereka hanya kalah sekali dari rival sekota, Persitara, dengan skor tipis 1-2. Namun langkah mereka sempat goyah karena kekalahan telak dari musuh bebuyutan Persib Bandung 3-0 di stadion Siliwangi.

Kala itu penampilan kiper asal Moldova, Evgeny Hmaruc benar-benar menjadi sorotan. Ditambah lagi, sosok kiper yang konon merupakan kiper utama timnas Moldova tersebut, melakukan blunder konyol ketika Persija berhadapan dengan PSDS Deli Serdang pada 8 April 2007.

Agak kesulitan di putaran pertama. Persija kemudian tampil jauh lebih baik di putaran kedua. Para penggawa baru mereka, terutama Robertino memberikan banyak dampak positif. Semenjak awal bulan Desember, Persija terus menempel ketat Sriwijaya FC sebagai peringkat pertama klasemen wilayah barat.

Di partai terakhir mereka di wilayah barat, Persija berhasil memberikan kemenangan dihadapan pulihan ribu The Jakmania. Lawan kala itu, Semen Padang, dihantam dengan skor telak 4-0. Kapten tim Bambang Pamungkas memborong dua gol. Sementara dua lainnya merupakan lesakan dari Muhammad Ilham dan Aliyudin. Sebuah perpisahan yang manis.

Sebenarnya Persija bisa saja memberikan perpisahan yang lebih baik lagi. Melaju ke babak delapan besar lalu kemudian tampil tak terkalahkan.

Persija kemudian berhadapan dengan Sriwijaya FC di babak semifinal. Dalam laga yang digelar di Gelora Bung Karno tersebut Persija mesti mengalah dari tim yang diasuh oleh mantan pelatih mereka, Rahmad Darmawan, dengan skor tipis 1-0.

Tanpa kandang dan kejayaan yang sulit terulang

Persija sudah tidak diperbolehkan memakai Lebak Bulus sejak tahun 2008. Bahkan kemudian, stadion ini mesti dirobohkan dengan alasan faktor kemacetan dan nantinya akan digunakan sebagai salah satu jalur transportasi modern.

Persija dan The Jakmania baru benar-benar memberikan perpisahan yang layak kepada stadion Lebak Bulus pada 21 Desember 2014. Tepat pada perayaan hari ulang tahun The Jakmania ke-14. Baru pada tahun 2015 lalu stadion Lebak Bulus resmi dibongkar.

Setelah tidak diperbolehkan menggunakan stadion Lebak Bulus. Persija sempat dalam beberapa musim menggunakan Gelora Bung Karno. Namun menjadi pelik karena stadion tersebut merupakan stadion nasional sehinggal jadwal bertanding Persija sering berbenturan dengan acara-acara nasional.

Alhasil, Persija mesti mengungsi ke stadion lain yang bahkan letaknya benar-benar jauh dari Jakarta. Termasuk untuk gelaran Liga 1 nanti kabarnya Persija akan bermain menggunakan stadion Patriot yang terletak di Bekasi.

Berbicara soal stadion Lebak Bulus tentu menyangkut masa keemasan Persija Jakarta sebagai salah satu tim besar di Indonesia. Bisa jadi permasalahan stadion ini adalah isu utama yang membuat penampilan mereka benar-benar merosot dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Karena dengan bermain seperti tim musafir, tidak pernah benar-benar nyaman laiknya bermain di rumah sendiri, bukan?

Author: Aun Rahman (@aunrrahman)
Penikmat sepak bola dalam negeri yang (masih) percaya Indonesia mampu tampil di Piala Dunia