Nasional Bola

Para Pemain Eropa Timur Terbaik di Liga Indonesia

Gelandang

Kredit: Goal

Srđan Lopičić

Gelandang serang kelahiran Montenegro ini dikenal sebagai kreator serangan yang memiliki umpan-umpan terukur. Ketika membela Arema Cronus di TSC 2016, pemain kelahiran 20 November 1983 ini membentuk kuartet lini tengah yang tangguh bersama Raphael Maitimo, Esteban Vizcarra dan Hendro Siswanto.

Dari semua klub yang ia bela di Liga Indonesia, mulai dari Persisam Putra Samarinda, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan dan Pusamania Borneo FC, Lopičić selalu dapat menampilkan performa terbaiknya. Kini, setelah setahun meninggalkan Indonesia, ia kembali untuk membela Persiba Balikpapan dan diharapkan dapat mengangkat Laskar Beruang Madu dari zona degradasi.

Kredit: Alchetron

Nastja Čeh

Nama pemain asal Slovenia ini pasti sangat lekat di telinga para suporter PSMS Medan. Gelandang berambut pirang ini memang hanya setahun berkiprah di Liga Indonesia dan hanya dihabiskan bersama Ayam Kinantan, tapi aksinya tak mudah untuk dilupakan. Eks pemain Club Brugge dan Austria Wien ini selalu memanjakan para rekannya dengan umpan-umpan matang dan tak jarang menebar ancaman lewat eksekusi tendangan bebas.

Ketika ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya pada Juni 2012 lalu, suporter PSMS tak kuasa menahan haru dan membentangkan spandung bertuliskan “We hope you still with us, Nastja Ceh” sebagai tanda kecintaan mereka pada pemilik 46 caps di timnas Slovenia ini.

Kredit: Bobotoh ID

Miljan Radović

Setiap kiper yang menghadapi tendangan bebas Radović mungkin merasakan hal yang sama dengan para kiper yang menghadapi eksekusi bola mati Juninho Pernambucano. Dari 17 gol yang dicetaknya bersama Maung Bandung, mayoritas berasal dari tendangan bebas. Ia bahkan menjadi top skor Persib di musim 2011/2012.

Selama dua tahun menetap di Indonesia, gelandang kelahiran Montenegro ini hanya membela dua tim asal Bandung. Setelah dilepas Persib, ia bergabung dengan Pelita Bandung Raya namun sinarnya tak lagi terang di sana. Ia pun meninggalkan Indonesia pada 2013 lalu, meninggalkan memori indah dari tendangan bebas yang akan selalu melekat di ingatan para pencinta sepak bola nasional.

Kredit: Okezone

Balša Božović

Gelandang yang pernah bermain di kualifikasi Liga Champions dan Liga Europa ini memilih klub yang tepat untuk melakukan debutnya di Indonesia. Bersama Persela Lamongan, Božović mengikuti jejak para pendahulunya, Gustavo Lopez dan Srđan Lopičić, untuk menjadi gelandang asing jempolan yang diorbitkan Laskar Joko Tingkir.

Keunggulan utama pemain bernomor punggung 10 ini terletak pada dua kakinya yang sama-sama hidup serta stamina yang mendukung untuk bermain selama 90 menit penuh. Hal mana yang langsung ia tunjukkan di laga debutnya saat bermain di ajang Surya Citra Media (SCM) Cup 2015.

Kredit: Striker ID

Roman Chmelo

Dari Slovakia untuk Arema, Roman Chmelo membius para penikmat sepak bola nasional dengan aksi energik ala pesepak bola berdarah Balkan. Sejak 2009 hingga 2012, tendangan keras pemain bernomor punggung 9 ini setia menemani kiprah Arema di Indonesia Super League (ISL), membentuk duet lini tengah mematikan bersama Esteban Guillen untuk menyokong duo pemain Singapura, Noh Alam Shah dan Muhammad Ridhuan.

Roman Chmelo merupakan satu dari segelintir pemain Eropa yang langsung sukses di musim pertamanya merumput di Indonesia. Gaya bermainnya menurut saya mirip dengan Dejan Stanković di Internazionale Milano. Hingga saat ini, ia tetap menjadi pemain idola Aremania berkat semangat juang yang selalu ia tunjukkan kala bertanding.