Turun Minum Serba-Serbi

8 Transfer Terburuk Pelatih Kelas Dunia

Louis van Gaal Angel di Maria

Louis van Gaal: Angel di Maria

Bila masa-masanya di Old Trafford dapat dianggap sebuah penghinaan terhadap tradisi dan sejarah panjang tim yang susah payah dibangun oleh Matt Busby dan Alex Ferguson itu, uang yang digelontorkan van Gaal untuk membeli pemain Argentina ini seharusnya sudah cukup untuk membuat para suporter kembali mendirikan FC United of Manchester versi baru.

59,7 juta paun dibayar dari kocek keluarga Glazer untuk mendatangkan gelandang sayap kurus alumnus padepokan yang sama dengan Lionel Messi ini. Yang mereka dapatkan adalah 32 penampilan kompetitif dengan 4 gol dan sederet kejadian memalukan.

Van Gaal sukses membuat para suporter United gemas kala melihat pemain berbanderol selangit itu mengenakan kaus nomor 7 yang legendaris dan kemudian mencengkeram kaus wasit di Piala FA. Serangkaian cedera dan kartu-kartu diakhiri dengan kejadian konyol di mana Di Maria tak ikut serta terbang bersama tim utama United ke Amerika Serikat untuk tur pramusim.

Apa kata Van Gaal? “Saya tidak tahu mengapa.”

Pantas saja keluarga Glazer menendangnya keluar dan menggantikannya dengan Mourinho. Setidaknya Mourinho bisa bersilat lidah.

Fabio Capello Antonio Cassano

Fabio Capello: Antonio Cassano

Bila Anda membeli Antonio Cassano, Anda harus tahu bahwa yang Anda beli adalah Antonio Cassano. Fabio Capello gagal memahami pelajaran sederhana ini.

“Saya memukulnya,” ujar lelaki yang pernah bermain dan melatih untuk Roma, Juventus, dan AC Milan. Capello juga orang yang mengangkat nama Fantantonio dengan merekrutnya seharga 30 juta euro pada 2001: rekor transfer nasional untuk remaja bengal dari Bari berumur 19 tahun itu.

Hikayat Capello-Cassano berlangsung di Roma dari 2001 hingga 2004 dan di Real Madrid dari 2006 hingga 2007. Sang pemain, purwarupa terakhir dari spesies pesepak bola yang tak kenal dunia tanpa alkohol, wanita, dan obat-obatan, tak pernah cocok dengan sang pelatih yang didaktis, metodis, dan berupa-rupa is-is lainnya. Kelakuan bengalnya membuat berang Capello, gentleman asli Italia gaya lama yang begitu menekanan penghormatan terhadap otoritas seorang pelatih.

“Anarkisme selalu berada di sisi Cassano,” Capello pernah berkata. Dia sendiri tak cepat menyadari hal itu saat merekrutnya dan melambungkan namanya ke jagat dunia.

Author: Ramzy Muliawan (@ramzymuliawan)
Penulis dan pembaca. Penikmat kopi hitam, punk rock dan Luca Toni.