Kolom

Juventus 2-1 Monaco: Perihal Superioritas Dani Alves

Babak kedua

Di awal babak kedua, Monaco masih terlihat melakukan progresi build-up belakang mereka melalui duo nomor 6 (Bakayoko dan Moutinho). Dalam prosesnya, salah satu nomor 6 bergeser ke halfspace sisi bola berada sementara nomor 6 lainnya mengisi area tengah.

Kehadiran pemain di ruang-ruang ini dimanfaatkan oleh bek tengah Monaco di sisi bola untuk membentuk segitiga dan memainkan umpan perlahan untuk memungkinkan nomor 6 di sisi tengah melakukan progres serangan.

Salah satu struktur posisional dalam progresi Monaco. Setelah menerima sodoran umpan Bakayoko, progres bola Moutinho diarahkan kepada salah stau dari Silva/Falcao yang turun menjemput bola.

Perubahan (pergantian pemain) dilakukan oleh Jardim. Sidibe digeser sebagai bek kiri. Komposisi pemain berubah. Pada gilirannya, hal ini kemudian membawa efek kepada struktur posisional serangan mereka.

Modal Monaco untuk memainkan bek sayap yang difungsikan untuk melalukan penetrasi langsung ke kotak penalti Juventus menjadi kurang maksimal. Karena Sidibe, yang dimainkan sebagai bek kiri, berkaki kanan, sementara di bek kanan, Raggi, pada dasarnya, merupakan bek tengah.

Efek ini terlihat dalam overload Monaco di sisi kanan Juventus, misalnya. Sidibe lebih fleksibel bergerak ke tengah sementara sisi sayap, secara situasional, dilindungi oleh Fabinho. Ini juga menyebabkan Monaco tidak lagi menggunakan model serang overload kanan-pindah-ke-kiri sebagai prinsip taktik mereka.

Struktur posisional mereka sangat masif ditujukan untuk mendorong Juventus bertahan semakin dalam. Kedua bek sayap Monaco masuk hingga sepertiga akhir, tetapi tidak mengokupansi sisi sayap secara kaku. Hanya Raggi yang mengokupansi tepi kanan lapangan, sementara Sidibe bergerak masuk sampai ke halfspace atau tengah. Dalam hal ini, Monaco memilih mengesampingkan aspek width (tidak ada pemain di koridor tepi lapangan atau pos sayap) demi kebutuhan meng-overload area tengah dan halfspace.

Dalam overload ini Monaco menggunakan satu atau dua pemain yang menjadi konektor vertikal dalam overload mereka. Secara prinsip, anak asuh Jardim memainkan bentuk dinamis 2-2-2-4 atau 2-3-1-4 menghadapi blok rendah Juventus.

Contoh 2-2-2-4 Monaco vs 5-3-2 blok rendah Juventus.

Sedikit perubahan juga dilakukan Jardim kepada Mbappe. Penyerang muda timnas Prancis ini lebih banyak bergerak sampai ke sayap kiri ketimbang yang ia lakukan di babak pertama.

Juventus sendiri juga terlihat mengandalkan kombinasi antara Dybala dan Alves di sekitar halfspace kanan untuk masuk ke kotak penalti Monaco. Sampai akhirnya di menit ke-54, Allegri melakukan perubahan dengan menarik keluar Dybala dan menggantikannya dengan Cuadrado.

Dengan kondisi yang bugar ditambah kemampuannya yang eksplosif, Cuadrado banyak dimanfaatkan Juventus dengan mengombinasikannya dengan Alves guna membuka akses serang di sepertiga awal lawan, di sisi kanan.

Keduanya bergantian mengisi sisi sayap dan halfspace kanan untuk mendapatkan kesempatan masuk (baik lewat crossing atau dribble melalui halfspace terdekat) ke kotak 16 Monaco. Perubahan lain dengan masuknya Cuadrado (ditambah keunggulan agregat) adalah perubahan dalam bentuk pressing Juventus. Yang awalnya lebih ke 4-4-2, dengan masuknya Cuadrado, bentuk pressing Juventus lebih ke 5-4-1.

Dengan keunggulan agregat 4-1 dan pertandingan tersisa 15 menit, Juventus semakin memperlihatkan betapa mereka berfokus ke blok menengah dalam pressing mereka. Menggunakan pola dasar 5-4-1 Juventus akan segera turun ke sepertiga tengah memancing Monaco untuk naik menyerang.

Catatan akhir

Dalam usaha Juventus memanfaatkan kemampuan sundulan Mandzukic untuk memenangkan bola kedua, terkadang tidak didukung oleh kerapatan formasi yang memberikan jaminan keamanan terkait siapa yang akan mengambil bola kedua. Contoh, setelah sundulan Mandzukic, baik Higuain, sebagai sasaran, maupun pemain dari lini tengah berada terlalu jauh dari bola dan lawan yang menyebabkan Juventus kehilangan akses terhadap bola dan lawan. Hasilnya, Monaco yang memenangkan bola kedua.

Kalau harus memilih pemain terbaik, tidak lain tidak, Dani Alves menjadi pilihan pribadi. Lepas dari ia membuat gol dan berperan dalam gol Mandzukic, lebih dari itu, Alves berkali-kali memenangkan duel satu lawan satu dan Alves berkali-kali melakukan backward-press (press ke arah gawang sendiri) yang membuat Juventus merebut penguasaan bola. Penempatan posisinya terkait permainan posisional dalam fase menyerang pun tepat dalam menjamin “bersihnya”pola sirkulasi dan progresi Juventus.

Sampai jumpa di final, Juventini!

[perfectpullquote align=”full” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Baca juga: Atletico Madrid 2-1 Real Madrid, Superioritas Jumlah di Lini Tengah Banyak Membantu El Real[/perfectpullquote]

Author: Ryan Tank (@ryantank100)