Derby Del Sole: Ketika Kawan Menjadi Lawan

Dalam tatanan sosial di Italia, kawasan utara yang diwakili kota-kota seperti Milan dan Turin, kerap disebut-sebut sebagai wajah sesungguhnya Negeri Spaghetti di mata dunia. Hal ini disebabkan oleh kultur masyarakat di utara yang lekat dengan karakter borjuis, parlente, dan berpendidikan.

‘Pemecahan’ status yang sudah terjadi sejak dahulu kala ini nyatanya justru sering menghadirkan kecemburuan sosial dari kawasan Italia yang lain, utamanya masyarakat di pesisir selatan. Pasalnya, area yang satu ini lebih identik dengan strata yang rendah karena dianggap miskin, kriminalis, sarang mafia, dan kolot.

Berdasarkan pada hal itu juga, di kancah sepak bola, tim-tim kuat yang berasal dari Italia bagian utara seperti AC Milan, Internazionale Milano, dan Juventus, begitu dibenci oleh kesebelasan yang berasal dari area selatan layaknya AS Roma dan Napoli. Terlebih, prestasi yang dicatat tiga klub yang disebut pertama memang jauh lebih mentereng, baik di level domestik, regional, dan bahkan dunia.

Kebencian-kebencian itulah yang lantas membuat kubu Roma dan Napoli beserta tifosi setia mereka menjalin persahabatan yang erat. Keduanya berjuang untuk menjadi tim dari selatan yang siap berperan sebagai oposisi dan mendobrak kemapanan dari klub-klub wilayah utara.

Tatkala bertemu pertama kali di era 1920-an, suasana akrab begitu tercermin jelas di dalam stadion. Masing-masing suporter, termasuk ultras garis kerasnya, memperlihatkan keakraban mereka dengan cara yang elegan serta romantis. Tifosi Roma menyanyikan chantNapoli, Napoli, Napoli” yang lantas dibalas tifosi Napoli dengan chant “Roma, Roma, Roma”.

Tak sampai di situ, setiap pertemuan yang melibatkan kedua kesebelasan juga selalu didahului prosesi pertukaran bendera, entah saat berlaga di Stadion Olimpico maupun Stadion San Paolo. Para pembawa bendera dari masing-masing kubu ini kemudian berlari mengelilingi lapangan bak sedang melakukan parade. Situasi tersebut berlangsung sampai era 1980-an.

Namun di pertengahan 1980-an, kongsi dari tifosi Roma dan Napoli mulai retak secara perlahan. Ada sejumlah alasan yang dikemukakan menjadi latar belakang memburuknya hubungan dari tifosi kedua belah tim. Salah satu di antaranya adalah semakin bagusnya grafik I Partenopei di atas lapangan usai kedatangan Diego Maradona serta friksi yang terjadi akibat kesalahpahaman dari ultras masing-masing.

Kedatangan Maradona memang mengubah wajah Napoli secara keseluruhan, Sang Dewa sepak bola dari Argentina itu memberi harapan kepada masyarakat Napoli bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Hal ini menyebabkan partai-partai kandang I Partenopei di Stadion San Paolo selalu penuh sesak.

Hingga pada musim kompetisi 1985/1986, tifosi Roma yang berkunjung ke sana guna menyaksikan laga Derby Del Sole, ‘dipaksa’ untuk berpindah tempat ke tribun bagian bawah Stadion San Paolo karena sesaknya stadion. Padahal, sebelumnya mereka selalu mengisi salah satu tribun di bagian atas.

Merasa dipermalukan, ultras Roma lantas berupaya untuk kembali mengisi tribun yang biasa mereka tempati setiap kali bertandang ke Napoli. Sayangnya, hal tersebut justru menghadirkan masalah karena tifosi Napoli yang menempati tribun tersebut merasa terganggu (kelompok ini tidak mengetahui jika ultras Roma punya hubungan erat dengan ultras Napoli). Alhasil, mereka pun terlibat baku pukul dan menyebabkan beberapa orang terluka serta ditahan oleh pihak kepolisian.

Pertemuan keduanya di Stadion Olimpico pada musim kompetisi 1986/1987 juga menghadirkan kericuhan tersendiri. Pasalnya, keputusan Napoli mendatangkan Bruno Giordano, penyerang ciamik yang jadi pujaan tifosi Lazio, rival sekota Roma, justru mendapat cibiran dari tifosi I Giallorossi.

Napoli sendiri memenangi laga tersebut dengan skor tipis 1-0 via gol Maradona yang dirancang dengan brilian oleh Giordano. Awalnya, tak ada masalah yang terjadi di antara kedua kubu. Namun, kebencian tifosi Roma kepada sosok Giordano membuat mereka menyanyikan lagu-lagu hinaan kepadanya. Merasa bahwa ada yang salah, tifosi Napoli pun membalas perbuatan tersebut dengan mencaci pemain kebanggaan Romanisti, Bruno Conti.

Pada akhirnya, situasi ini justru menimbulkan friksi yang semakin panas di antara masing-masing pihak. Kondisi tersebut juga diperparah dengan adanya sejumlah masalah di dalam internal ultras masing-masing tim. Nuansa romantis dalam Derby Del Sole pun semakin terkikis.

Makin renggangnya relasi di antara tifosi Roma dan Napoli juga muncul akibat kelakuan Salvatore Bagni, gelandang I Partenopei era 1980-an yang menunjukkan umbrella gesture (bermakna cacian) di hadapan tifosi Roma yang menempati Curva Sud saat kedua tim berjumpa pada laga Serie A musim 1987/1988 di Stadion Olimpico.

Setelah itu, pertemuan Roma dan Napoli makin sering berujung dengan bentrokan dan saling caci antar-suporter. Tak jarang ada banyak kerusakan yang ditimbulkan akibat chaos tersebut, entah di Stadion Olimpico maupun Stadion San Paolo, jalanan hingga stasiun di kedua kota itu. Rivalitas panas yang terjadi di antara tifosi Roma dan Napoli bahkan terjadi juga ketika kedua tim pujaan mereka tidak bertemu.

Panasnya Derby Del Sole semakin terasa pada tahun 2014 silam. Kala itu, Napoli harus bertanding melawan Fiorentina di Stadion Olimpico dalam babak final Piala Italia. Meski menang dengan skor 3-1 atas La Viola, keberhasilan I Partenopei justru dinodai dengan peristiwa tragis.

Salah seorang tifosi mereka, Ciro Esposito, harus meregang nyawa akibat ditembak oleh seorang tifosi Roma, Daniele De Santis. Hal ini terjadi setelah keduanya berpapasan di kawasan Tor di Quinto. Esposito sempat dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan intensif selama 53 hari sebelum menghembuskan napas terakhir. Karena perbuatannya itu, De Santis mendapat hukuman penjara selama 26 tahun.

Ikatan romantis yang sempat terjadi di antara Roma dan Napoli dalam wujud Derby Del Sole tak lebih dari kenangan dan jejak masa lampau semata. Sebab kini, Derby Del Sole menjadi representasi nyata panasnya rivalitas kedua belah pihak, kubu yang dahulu kawan namun sekarang memilih untuk menjadi lawan.

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional

Related Posts