Kolom Indonesia

Banyak Jalan ke Roma (Eropa)

Setelah Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman, tidak ada pesepak bola muda Indonesia yang paling digadang-gadang lekas menyusul ke Eropa selain Amiruddin Bagus Kahfi. Sudah moncer sejak di kelompok umur U-16, Bagus yang baru berusia 18 tahun sudah kenyang pengalaman di level junior. Namanya masuk sebagai top skor Piala Soeratin U-15 tahun 2017 dan top skor Piala AFF U-16 setahun berselang pada 2018.

Dengan sederet prestasi mentereng dan kemampuannya yang memang di atas rata-rata, Bagus mulai mengintip Eropa. Yang terbaru, tawaran menarik datang dari peserta Eredivisie, FC Utrecht. Klub papan tengah kasta tertinggi Liga Belanda itu dikabarkan sudah mengajukan penawaran resmi ke Barito Putera. Namun seperti yang kita tahu kemudian, Laskar Antasari tak merespons tawaran transfer itu. Barito tak bergeming, Bagus Kahfi terikat kontrak di sana hingga 2021, titik.

 

Banyak jalan menuju Roma (Eropa)

Saya pernah bertemu Bagus Kahfi di Inggris, bulan Februari tahun ini, hanya beberapa minggu sebelum pandemi COVID-19 menyerbu Indonesia. Karena ia yang lebih senior dan banyak rekan-rekan setimnya menjadikannya sosok panutan, Bagus memang jadi media darling. Gaya bicaranya asyik, bila diperlukan ia bisa sangat diplomatis dalam berbicara ke media. Apalagi, seperti layaknya anak tongkrongan, Bagus juga humoris, terbuka, ceplas-ceplos, dan mudah akrab dengan banyak orang.

Mimpi ke Eropa, bagi Bagus, bukan hanya sebatas mimpi saja, karena sependek yang saya tahu, banyak klub Inggris yang juga memantau perkembangan Bagus Kahfi di Garuda Select. Dari obrolan-obrolan ringan yang sering kami lakukan selama 10 hari di Inggris kala itu, bahkan ada tawaran trial dari salah satu negara Eropa yang untuk satu dan lain hal, saya belum dapat izin untuk publikasikan di tulisan ini.

Bagus memang istimewa. Dua periode dia bermain di Garuda Select, namanya selalu mencuat jadi bintang paling terang di skuat. Tanpa mengecilkan peran pemain-pemain lain, kualitas Bagus Kahfi memang yang paling top. Kaki kirinya kuat, pun tak canggung memakai kaki kanan saat dalam posisi mencetak gol yang bagus. Larinya kencang, fisik pun tangguh dalam berduel dengan bek-bek Inggris yang jangkung dan kuat. Bagus, seperti saya selalu yakini, adalah prototipe striker modern untuk masa depan Timnas Indonesia.

Dan Eropa, terasa lebih dekat selama dua musim Bagus di Inggris. Tapi Bagus tak perlu lama-lama terpuruk, sebab seperti yang ia sendiri tahu, banyak jalan menuju Roma (Eropa).

 

Timnas U-19 dan proyeksi Piala Dunia U-20 2021

Agenda Timnas U-19 bisa jadi pelipur lara sekaligus pembuka jalan bagi Bagus Kahfi. Dalam agenda terbaru yang diberitakan PSSI, Timnas U-19 asuhan Shin Tae-yong akan jalani training centre (TC) ke Spanyol. Dengan fisik yang pulih dari cedera dan siap menerima panggilan timnas, saya rasa Bagus Kahfi akan semakin memperkuat skuat Timnas U-19 yang memang butuh sosok goal getter ulung.

TC selama di Kroasia menunjukkan ketergantungan besar Garuda Nusantara pada sosok Witan Sulaeman. Beroperasi di sisi sayap kanan, Witan punya beban sebagai sumber kreativitas dan solusi mencetak gol. Kombinasinya di kanan bersama Bagas Kaffa memang menjanjikan, namun Witan bukan goal getter.

Panggilan Timnas U-19 dan peluang menampilkan yang terbaik selama TC di Spanyol bisa jadi target jangka pendek Bagus Kahfi menyikapi kegagalan transfer ke Utrecht ini. Apalagi, melihat daftar pemain Timnas U-19 sebelumnya, rasa-rasanya hampir tidak ada striker seumuran Bagus yang punya kualitas dan pengalaman bertanding seperti yang ia miliki.

Target kedua, adalah target jangka menengah. Jika semua berjalan mulus, besar peluang Bagus Kahfi jadi striker utama Timnas Indonesia di Piala Dunia U-20 2021. Seperti yang sering kita ketahui, banyak pemandu bakat dari seluruh penjuru dunia memanfaatkan momen Piala Dunia junior untuk berburu talenta muda. Kebetulan, Bagus akan bermain di rumah sendiri dan bisa jadi tambahan energi serta semangat.

Bukan tak mungkin, jalan ke Eropa untuk kesekian kalinya akan terbuka untuk Bagus dari dua target jangka pendek dan menengah ini, sembari tentu saja menjalankan tugas mulia yakni bela negara di kancah sepak bola.

 

Pengalaman dan ujian profesionalitas

Apa yang dialami Bagus Kahfi dengan Barito Putera di momen ini adalah musibah juga berkah. Benar, mimpinya ke Eropa yang lagi-lagi ada di depan mata, kembali tertunda. Namun, ini juga sebuah pengalaman berharga yang harus ia hadapi dan terima saat usianya masih sangat muda, 18 tahun. Di dunia sepak bola yang bak hutan rimba ini, salah satu ujian terbesar bagi atlet adalah profesionalitas.

Kontrak dan legalitas adalah perkara profesionalitas. Kita tidak bisa memakai argumen nasionalisme atau mengharumkan nama bangsa untuk konteks ini. Ada hitam di atas putih dan atas nama profesionalisme, saya rasa ini akan jadi pelajaran berharga untuk pemuda kelahiran Magelang ini.

Bagus pemain hebat, salah satu yang terbaik (kalau bukan yang PALING BAIK) di usianya untuk level pemain muda di Indonesia. Jalan masih panjang, Gus, sebab selalu banyak jalan untuk ke Roma (Eropa).