Suara Pembaca

Ketika Sampdoria adalah Raksasa Serie A…

Wajar Sampdoria tak lebih diunggulkan dibanding klub lain untuk menjuarai Serie A. Juventus memiliki Roberto Baggio yang baru bergabung dari Fiorentina. AC Milan memiliki trio Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard yang pernah juara Piala Eropa dengan Belanda.

Sementara Inter diperkuat Andreas Brehme, Lothar Matthaeus, dan Juergen Klinsmann dari sang juara dunia Jerman.

Lalu masih ada Napoli dengan Diego Maradona yang pernah menjadi juara dunia dengan Argentina. Saingan sekota, Genoa yang kemudian menempati peringkat 4, memiliki duet Carlos Aguilera dan Tomáš Skuhravý yang kemudian sama-sama mencetak 15 gol.

Sementara itu Rudi Voeller, juga juara dunia dengan Jerman, masih bermain di AS Roma. Serie A ketika itu belum dibanjiri pemain asing karena pembatasan hanya 3 pemain impor. Maka wajar pemain asing yang masuk memang berkualitas.

BACA JUGA: Seksisme di Sepak Bola, Perkara yang Tiada Habisnya

Gelar tersebut masih menjadi gelar satu-satunya yang bisa diraih Sampdoria sampai sekarang. Setelah itu perlahan Sampdoria menurun, terlebih setelah kematian Paolo Mantovani.

Beberapa pemain lalu datang dan pergi. Namun penurunan Sampdoria tak tercegah. Memang mereka tidak langsung jatuh.

Semusim setelah scudetto diraih, Sampdoria melaju ke final Piala Champions sebelum tumbang oleh Barcelona.

Mereka juga masih sekali lagi menjuarai Coppa Italia tahun 1994, juga masuk ke semi-final Piala Winners 1994/1995.

Akan tetapi kurang dari 10 tahun setelah scudetto diraih, Sampdoria turun ke Serie B pada musim 1998/1999. 

BACA JUGA: Tentang Beragam Kampanye Jakmania