Suara Pembaca

PS Daygun dan Harapan Sepak Bola Lombok Utara

Biarlah politik melebur dalam tubuh sepak bola sebagaimana industri merasuki dengan cara yang serupa.

Terpenting adalah eksistensi PS Daygun yang konsisten tampil di Liga Nusantara rayon Nusa Tenggara Barat saja sudah terbilang bagus.

Terakhir, dalam edisi 2019, mereka bercokol di dasar klasmen akhir Zona Pulau Lombok Grup A dengan rincian tidak pernah menang dalam tiga laga.  

Memang apa yang didapat oleh PS Daygun musim lalu dapat dijadikan menjadi evaluasi menengok usia mereka yang hendak menyentuh satu dekade dengan prestasi yang masih berjalan di tempat.

Namun, dengan segenap upaya mereka adalah jawaban doa dari masyarakat Lombok Utara akan sebuah tim sepak bola kedaerahan.

Tentu doa yang dipanjatkan sama seperti tiap doa seorang fan untuk tim idolanya, semoga finansial dan politisasi tidak akan menjerat leher mereka secara perlahan, pula semoga dihindarkan dari kata musnah dan relokasi dadakan. 

Semoga saja obrolan di dalam Berugak —cakruk khas Nusa Tenggara— tidak melulu membahas Bali United yang jauh di seberang pulau. Tidak terus-terusan Real Madrid dan Barcelona yang difavoritkan—walau sebenarnya sah-sah saja, sih.

Hal ini agar suasana di lereng Rinjani menjadi hangat dengan obrolan seputar PS Daygun dan tuak di tangan kanan, decitan Berugak yang kian riuh dalam menampung sebuah perkumpulan, terselip sebuah kalimat.

“PS. Daygun itu harapan bagi anak cucu kita, merawat, mengawasi dan mendukung adalah kewajiban bersama.”

*Penulis adalah penggemar sepak bola Asia Tenggara, dengan diary pribadi di pukulrata-sepakbola.blogspot.com. Bisa disapa di akun twitter @gustiaditiaa