Cerita

Lebih Dekat dengan Anggita Oktaviani, Bek Kiri Andalan Persija Putri

Kehadiran Liga 1 Putri 2019 diiringi juga dengan munculnya idola-idola baru sepak bola. Salah-satunya Anggita Oktaviani. Tanpa mengecilkan pemain lain, Anggita merupakan salah satu pemain Persija Putri yang mendapat sorotan lebih di dalam maupun di luar lapangan.

Dengan sifat ceria dan keramahannya, pemilik pos bek kiri Persija Putri dengan cepat menjelma idola para Jakmania. Sebelum dan setelah pertandingan kolom sosial medianya dipastikan penuh dengan kata-kata dukungan.

Tidak hanya itu. Baik saat pertandingan maupun sesi latihan, tidak sedikit supporter hadir untuk memberi dukungan langsung pada mahasiswa Jurusan D3 Perpajakan Universitas Trisakti tersebut. Bahkan pernah dalam satu laga uji coba di PSSI National Youth Training Centre, Sawangan, sekelompok supporter secara khusus hadir untuk memberi dukungan padanya. Banner dan chant khusus hadir untuknya.

Sebelum bergabung dengan Persija Putri, Anggita adalah anggota tim sepak bola DKI yang sedang berjuang dalam persiapan PON 2020 mendatang.

Baca juga: Kembalinya Kompetisi Sepak Bola Putri di Indonesia

Meski melesat menjadi idola melalui sepak bola, Cabe -sapaan dari rekannya- lebih dulu menggeluti futsal wanita. Nama Anggita Oktaviani telah berpartisipasi dalam ajang Futsal Liga Nusantara 2017. Selain itu, Anggita juga merupakan pemilik nomor 13 Student Athlete Futsal Universitas Trisakti di Liga Mahasiswa.

Bukan hanya melompat dari futsal ke sepak bola, ia pernah berprestasi di olah raga lain. Menjadi perwakilan DKI Jakarta di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) sebagai atlet atletik dan volly pernah dijalani.

Bagi gadis berusia 20 tahun yang memang bercita-cita menjadi atlet profesional, sebuah kebanggaan dapat masuk dalam skuat Persija Liga 1 Putri yang baru pertama kali diadakan. Baginya, banyaknya dukungan pada tim ini membuat ia dan rekan-rekannya lebih semangat.

“Perasaannya sih bangga. Karena ini baru pertama kali kan ada Liga 1 Putri, terus aku masuk skuad Persija. Bawa nama Persija tuh seneng banget. Banyak dukungan dari teman-teman semua. Support dan dukungannya bikin tim kami tambah semangat,” ucapnya.

Sayangnya bukan hanya dukungan positif yang hadir untuk Anggita dan pesepak bola wanita lainnya. Candaan dan komentar berbau seksis bahkan hingga mengarah pada hal yang melecehkan dapat dengan mudah ditemui. Siulan, kata-kata menggoda, candaan mengenai bentuk tubuh wanita banyak betebaran.

Di tribun juga di linimasa media sosial hal demikian banyak dihadirkan oleh mereka yang belum sepenuhnya dapat menerima sepak bola wanita. Mereka yang masih melihat para pemain sebatas obyek dari sepak bola wanita.

Baca juga: Sepak Bola Wanita Bukan Tentang Wanitanya

Mengenai hal demikian, Anggita memberi tanggapannya. Dengan sikap cueknya, ia pribadi tidak mementingkan  komentar-komentar yang dianggap tidak jelas. Karena menurutnya, ia hanya ingin bermain dan membawa timnya juara Liga 1 Putri 2019.

“Untuk tanggapan komentar, aku lebih ke cuek aja tetang komentar yang nggak jelas. Karena menurut aku, aku cuma mau main fair play dan bawa nama Persija menang di liga ini. So, aku lebih nggak terlalu mentingin sama komentar yang tidak jelas,” kata Anggita.

Meski mengaku tidak terganggu, dan mengganggap setiap orang berhak berkomentar apapun, gadis yang juga memiliki hobi kuliner ala street food ini merasa akan lebih baik bila dukungan yang hadir sepenuhnya mengenai sepak bola.

“Tapi ya lebih baik si semoga aja support-nya untuk dukung main bola. Bukan ke hal lain,” pungkasnya.