Suara Pembaca

Sebuah Tafsir untuk Dedik Setiawan, Sang Pembelah Ruang

Dalam dua musim terakhir, Arema FC mungkin termasuk salah satu tim yang selalu tak beruntung dalam hal mendatangkan penyerang asing. Semua juru gedor impor yang mereka datangkan tak pernah sesuai harapan.

Mulai dari Thiago Furtuoso yang kedatangannya memang “sedikit” tidak diharapkan Aremania, hingga Robert Lima ‘Gladiator’ yang digadang-gadang sebagai Noh Alam Shah baru, semua tampil di bawah harapan. Namun kesialan dalam mendapatkan juru gedor asing itu justru merupakan berkah tersendiri bagi ujung tombak lokal Singo Edan.

Adalah Dedik Setiawan yang berhasil memanfaatkan situasi pelik tersebut. Penyerang berusia 25 tahun ini berhasil memikat pencinta sepak bola Indonesia dengan permainan ciamiknya sejak musim 2017, dan semakin matang di musim 2018.

10 gol yang ia torehkan membuat namanya menempati posisi kedua dari pencetak gol terbanyak Arema musim lalu, selisih 3 gol dari Makan Konate. Musim ini pun pemain yang mendapatkan julukan ‘Drogba’ tersebut sudah mengoleksi 5 gol, menahbiskan ia sebagai pemain lokal tersubur Shopee Liga 1 2019 hingga pekan kesepuluh saat ini.

Melihat fakta betapa moncernya Dedik Setiawan musim ini, tentu membuat banyak pengamat memberikan analisis di balik permainan gemilangnya.

Baca juga: Bhayangkara FC dan Tonggak Awal Kemunculan Dedik Setiawan

Ada yang mengatakan Dedik beruntung karena mendapat menit bermain yang cukup, tapi banyak pula yang berpendapat putra daerah Malang tersebut memang punya potensi menjadi ujung tombak lokal yang garang, sesuatu yang dirindukan banyak suporter timnas Indonesia.

Lalu, apa alasan sebenarnya di balik garangnya penampilan Dedik Setiawan di Arema FC?

Menilik sudut pandang strategi, Arema FC sebenarnya tak jauh dari tim lainnya. Formasi 4-3-3 dengan dua winger cepat seakan menjadi sebuah pakem di kalangan pelatih Liga Indonesia saat ini, mulai dari kasta tertinggi Liga 1 hingga kompetisi antar-kampung.

Itu juga yang digunakan oleh coach Milomir Seslija. Namun yang membedakan formasi Arema FC dengan tim lain adalah peran yang diberikan kepada Dedik Setiawan.

Pemain ini tidak secara murni menyisir sisi sayap seperti kebanyakan winger lainnya. Dedik justru mengisi ruang di antara fullback dan center back lawan. Peran ini lebih familiar disebut sebagai Inside Forward. 

Tak banyak pemain Indonesia yang familiar dengan peran ini, karena itulah sering terjadi kebingungan ketika menghadapi Dedik Setiawan, harus diserahkan kepada siapa penjagaan Dedik.

Mengingat posisi Dedik, fullback harusnya bertanggung jawab atas penjagaan. Akan tetapi posisi yang lebih ke dalam dari Dedik menjadi keuntungan apabila ia harus berhadapan dengan fullback. Sisi luar yang biasa disisir oleh Ahmad Alfarizie sebagai bek sayap bisa menjadi sangat terbuka. 

Padahal kita tahu, Alfarizie adalah fullback dengan kemampuan umpan silang dan tusukan di atas rata-rata pemain bertahan Indonesia lain. Dengan adanya Sylvano Comvalius di depan, tentu membuat pilihan yang dapat diambil Alfarizie semakin luas. Ia dapat menusuk, mengumpan silang, atau bahkan mengembalikan bola pada Dedik. Peluang pun kerap tercipta dari pola ini.

Lalu apa yang terjadi bila penjagaan pada Dedik diserahkan ke bek tengah? Perkara ini malah jadi lebih sederhana. Arema FC memiliki pemberi umpan matang sekelas Dendi Santoso maupun Makan Konate. Dengan kecepatan khas Dedik Setiawan, ia dapat mengajak siapapun bek sentral lawan untuk adu lari.

Gol ketiga Arema saat menumbangkan Persela Lamongan merupakan buah dari kecepatan Dedik Setiawan yang meninggalkan bek tengah lawan.

Selain itu Dedik juga dapat memberi umpan diagonal pada Comvalius maupun mengeksekusi langsung dengan menempatkan bola ke sudut gawang yang tak terjangkau kiper. Pola ini juga telah menghasilkan gol ketika mereka melawan Perseru Badak Lampung FC dan (lagi-lagi) Persela Lamongan.

Keleluasaan pilihan ini tentu membuat lini depan Singo Edan semakin cair. Dengan kualitas umpan maupun penyelesaian tajam yang dimiliki Dedik, jelas memudahkan lini depan kampiun Piala Presiden 2019 ini menciptakan banyak gol.

Mungkin akan banyak yang berpikir, apa bedanya peran inside forward dengan inverted winger seperti Saddil Ramdani atau Febri Haryadi di timnas Indonesia?

Bila melihat dari ruang yang disisir, seorang inverted winger akan berusaha menusuk sampai ke ujung, lalu melakukan umpan tarik atau mengeksekusi sendiri dengan menusuk ke dalam. Oleh karena itu, pergerakan inverted winger kerap dapat ditutup dengan bantuan dari seorang gelandang bertahan.

Sebaliknya, inside forward berbeda. Pemain dengan peran ini sejak awal akan langsung menempati ruang kosong antara bek sayap dengan bek tengah.

Baca juga: Arema FC: Tajam di Depan, Rapuh di Belakang

Lihat saja ketika Dedik bermain. Dengan berada di ruang kosong, baik Dedik maupun pemain yang memegang bola memiliki banyak opsi. Umpan terobosan dengan mengandalkan lari Dedik, umpan diagonal dengan bertumpu pada ketajaman Dedik maupun Comvalius, atau bahkan membuat Dedik menjadi umpan dengan membiarkannya tidak melakukan apapun juga bisa menjadi opsi.

Maka tak heran apabila Dedik Setiawan maupun Arema FC menjadi lawan yang ditakuti pertahanan kesebelasan lawan. Perannya dalam membelah ruang antara bek sayap dan bek tengah, serta pengambilan keputusan dan kualitas teknik umpan maupun penyelesaian akhir, seakan menahbiskan ia sebagai salah satu penyerang lokal terbaik di Indonesia. 

Bila saya diizinkan mendefinisikan peran Dedik Setiawan ini menggunakan bahasa Indonesia, saya dengan bangga akan menyebut peran ini sebagai ‘Pembelah Ruang’. Sebuah peran yang saat ini, dan mungkin hingga kelak nanti, akan terus melekat pada diri Dedik Setiawan.

 

*Penulis merupakan seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang gemar menganalisis sepak bola Indonesia. Bisa dihubungi di ID LINE: achmzulfikar