Cerita

Kembalinya Laskar Banteng Wilis

Salah satu klub pendiri PSSI kembali dari tidur pulasnya. Ya, PSM Madiun kembali meramaikan belantika kulit bundar Nusantara dengan mulai bertarung di Liga 3 2019 regional Jawa Timur.

Kembalinya Laskar Banteng Wilis disambut baik para suporter setia yang akan disuguhkan laga penyambutan di Stadion Wilis hingga perilisan jersey khusus.

Minggu (16/6) malam PSM Madiun resmi menggelar laga bertajuk Celebration Game melawan salah satu klub kontestan Liga 2 2019, Persis Solo, di stadion kebanggan warga kota Madiun, Stadion Wilis.

Meski laga berakhir 1-2 untuk sang tamu dari Solo, namun ribuan Mad Man, sebutan untuk suporter PSM Madiun, tetap bergembira karena hari itu adalah hari yang mereka nantikan sejak lama.

Baca juga: PSIM Yogyakarta, Kenangan Buruk Gagal Promosi

Laga melawan Persis Solo tersebut juga menjadi laga yang unik, karena sang tamu memilih untuk melakukan peluncuran tim yang akan mengarungi Liga 2 musim ini di Madiun. Stadion Wilis akan menjadi kandang sementara bagi Laskar Sambernyawa saat Stadion Manahan direnovasi.

Pada kesempatan yang sama, dan lebih utama, Laskar Banteng Wilis juga turut memperkenalkan jajaran pelatih dan pemain yang akan mengarungi Liga 3 regional Jawa Timur. Satu per satu dari mereka dipanggil oleh announcer untuk maju ke panggung sederhana yang disiapkan.

Sorak-sorai membahana dari tribun, para Mad Man mengelu-elukan nama mereka dan menengadahkan puji-pujian kepada para pahlawan yang sudah lama dinantikan.

Baca juga: Cerita dari GBK: Ibadah di Akhir Pekan

Wajar saja karena PSM Madiun akan kembali memeriahkan belantika sepak bola Nusantara setelah vakum dalam waktu yang lama dan baru dibangkitkan kembali di tahun ini. Padahal jika menengok sejarah, PSM Madiun merupakan satu dari 7 klub pendiri PSSI.

PSM Madiun akan berlaga di Grup A Liga 3 regional Jawa Timur 2019 bersama Putra Sunan Giri, Bumi Wali FC, SINDO/Nganjuk Ladang FC, dan Persibo Bojonegoro. Persibo digadang-gadang akan menjadi lawan terberat Laskar Banteng Wilis, terlebih eks juara Piala Indonesia 2013 ini punya motivasi lebih untuk segera naik kasta.

Kembali ke Celebration Game, yang digelar sederhana sekaligus menjadi launching bagi kedua tim yang berlaga, PSM mampu menahan sang tamu dengan hasil nirgol di babak pertama.

Laga berjalan imbang, bahkan PSM harus menunggu hingga sepuluh menit terakhir untuk unggul melalui Leonaldo. Dua gol telat dari Ilham Irhaz dan Nanang Aspirin kemudian membuyarkan tiga poin di saat kembalinya Laskar Banteng Wilis ke stadion tercinta di hadapan ribuan Mad Man.

Baca juga: Mimpi Garuda Pertiwi Berlaga di Piala Dunia

Kemenangan Persis sendiri tak berjalan meriah dan terasa hambar, sebab jauh-jauh hari pertandingan ini sudah diboikot oleh Pasoepati, pendukung fanatik Laskar Sambernyawa.

Miskomunikasi manajemen dengan suporter menjadi pemicunya, bahkan komentar pedas dilontarkan para Pasoepati melalui media sosial yang menilai tak cukup puas dengan penampilan anak asuh Agus Yuwono kontra tim Laskar Banteng Wilis.

Semangat #Ajiningro90!

Kembalinya Laskar Banteng Wilis ke belantika sepak bola Indonesia juga ditandai dengan diluncurkannya jersey edisi spesial yang dikeluarkan salah satu jenama lokal asal Bantul, Reds!.

Tema yang dipilih Reds! adalah “Ajining Rogo“(yang diambil dari pepatah Jawa – “Ajining Diri Ono Ing Lathi, Ajining Rogo Ono Ing Busana” atau “Martabat jiwa kita ada di ucapan kita, martabat raga kita ada di pakaian kita”), yang bertepatan dengan hari lahir ke-90 PSM Madiun.

Jersey berwarna putih dengan aksen hitam keabu-abuan dan marun ini tampak unik dengan logo Madioensche Voetbal Bond (MVB) serta tulisan Madioensche Voetbal Bond layaknya sponsor utama tim.

MVB merupakan nama klub yang berdiri pada 1929 sebelum dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia seiring dengan eksistensi PSSI yang berhasil menggeser NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal) di Nusantara.

Baca juga: Brigata Curva Sud di Era Revolusi Industri 4.0

Meski jersey keluaran Reds! ini bukanlah jersey resmi yang akan digunakan Satria Utama dan kawan-kawan untuk mengarungi Liga 3 regional Jawa Timur, namun jersey ini tetap layak dan menarik untuk dikoleksi karena sarat dengan nilai historis dalam rangka menyambut kembalinya Laskar Banteng Wilis.

Kini warga kota Madiun, terutama Mad Man, dapat bernapas lega. Stadion Wilis akan kembali penuh sorak sorai gempita melihat para pemain dengan panji kebesaran PSM berlaga di lapangan sekalipun harus mulai dari kasta terbawah akibat tergerus isu dualisme dengan saudara mudanya, Madiun Putra.

Selamat berjuang Laskar Banteng Wilis! Cepat pulih dan kembali menjadi klub profesional, kalian sudah ditunggu para pendiri PSSI lainnya di liga kasta tertinggi sepak bola Indonesia!