Uncategorized

Parma Tidak Takut Pengurangan Poin!

Lewat perjuangan heroik selama tiga musim pamungkas (dari Serie D, Lega Pro sampai Serie B) usai dinyatakan bangkrut dan mesti memulai kembali petualangannya di sepak bola Italia dari kompetisi amatir, Parma akhirnya beroleh kesempatan untuk mentas lagi di kasta teratas sepak bola profesional Italia, Serie A.

Pada musim 2017/2018 kemarin, I Gialloblu berhasil mengunci satu tiket promosi otomatis dari Serie B usai finis di peringkat dua klasemen akhir dengan koleksi 72 poin.

Keberhasilan tersebut jelas membahagiakan seluruh elemen yang ada di tubuh Parma, baik para pemain, pelatih, manajemen dan seluruh fans. Singkat kata, perjuangan panjang serta berat yang selama ini dilakukan, akhirnya membuahkan hasil.

Namun sial, jelang beraksi kembali di Serie A, Parma dihantam satu kabar buruk. Berbeda dengan kesebelasan lain, mereka harus mengawali kompetisi dengan pengurangan angka, minus lima. Hukuman itu lahir akibat pesan singkat yang dikirimkan salah satu penggawanya, Emanuele Calaio, kepada pemain Spezia, (lawan I Gialloblu di giornata terakhir Serie B 2017/2018), Filippo De Col.

Baca juga: Tok! Tok! Parma Dijatuhi Hukuman Pemotongan Poin di Serie A Musim Depan

Melalui proses investigasi yang didalangi oleh federasi sepak bola Italia (FIGC), pesan singkat itu ditengarai sebagai tindakan pengaturan skor yang diperbuat Parma (via Calaio) agar Gli Aquilotti mengalah sehingga jalan mereka mendapatkan tiket promosi semakin gampang.

Laga yang dipentaskan pada tanggal 18 Mei 2018 di Stadion Alberto Picco itu sendiri sukses dimenangi Pierluigi Frattali dan kawan-kawan dengan skor akhir 2-0. Kecurigaan bahwa Parma dan Spezia melakukan kongkalikong dimulai dari eksekusi penalti Alberto Gilardino yang melayang ke angkasa, padahal kejadian itu merupakan peluang emas Spezia buat menyamakan kedudukan.

Sanksi yang diterima I Gialloblu tersebut, memaksa mereka untuk memutar otak dan mempersiapkan segalanya secara lebih paripurna guna bertempur di Serie A. Sebagai tim promosi, Frattali dan kawan-kawan tentu enggan sekadar numpang lewat dalam kurun semusim lalu kembali ke Serie B gara-gara terelegasi.

Dari sejumlah kabar yang beredar, klub yang bermarkas di Stadion Ennio Tardini itu siap melakukan banding supaya hukuman FIGC tersebut, dikurangi atau bahkan dibatalkan.

D’Aversa yang duduk sebagai juru taktik pun sadar kalau perjuangan Parma di Serie A 2018/2019 tidak akan mudah, jika sanksi pengurangan lima poin tetap berlaku karena proses banding gagal

Sang pelatih yang semasa bermain dahulu juga pernah tersandung kasus skandal pengaturan skor tatkala memperkuat Siena (musim 2004/2005) itu membesarkan hati anak asuhnya sekaligus menanamkan optimisme tinggi jikalau mereka bisa memperoleh poin sebanyak-banyaknya sekaligus memenuhi target bertahan di Serie A.

Pengurangan lima poin yang dijatuhkan FIGC kepada Parma, tidak dianggapnya sebagai beban ataupun masalah besar. Lelaki berumur 42 tahun yang lahir di Stuttgart itu justru ingin agar para pemainnya menjadikan itu sebagai pelecut sehingga ambisi dan mimpi yang mereka usung, dapat diwujudkan.

Harapan D’Aversa memang sangat logis karena berkaca dari statistik, Serie A acapkali kejam terhadap klub-klub dengan status promosi. Dalam kurun lima musim pamungkas (2013/2014 sampai 2017/2018), selalu ada minimal satu klub promosi yang terpaksa balik ke Serie B gara-gara terdampar di area degradasi.

Bila tak ingin mengekor jejak kelam yang diukir oleh nama-nama seperti Benevento, Carpi, Cesena, Hellas Verona hingga Livorno, I Gialloblu wajib bekerja ekstra keras di musim 2018/2019 nanti.

Setiap kesempatan beroleh poin, entah saat bertemu tim-tim promosi lain, klub papan bawah dan tengah Serie A atau malah barisan raksasa, tidak boleh disia-siakan guna menutupi defisit angka. Bila keadaan itu sanggup dimaksimalkan Frattali dan kolega, misi sintas bukan sesuatu yang mustahil untuk digapai.