Cerita

Pertanyaan Besar di Balik Terusirnya PSM Makassar dari Stadion Mattoanging

Meski meraih kemenangan 2-1 atas Bhayangkara FC yang mengantarkan mereka kembali ke puncak klasemen Go-Jek Liga 1 2018, ada kekecewaan yang dirasakan pihak PSM Makassar. Pasalnya, laga kandang mereka yang merupakan bagian agenda pekan ke-16 tersebut tak dapat mereka laksanakan di rumah mereka, Satdion Andi Mattalatta Mattoanging Makassar.

Juku Eja terpaksa menggelar laga kandang tersebut di Stadion Kapten I Wayan Dipta, kandang Bali United, setelah mendapat persetujuan dari klub pemiliknya. Sebab di balik kepindahan ini adalah keputusan operator Liga Indonesia (PT. Liga Indonesia Baru atau PT. LIB) yang merasa pencahayaan di Mattoanging tidak memadai untuk melaksanakan laga di malam hari. Laga kandang terakhir PSM melawan Bhayangkara FC memang sedianya akan dilaksanakan setelah matahari terbenam, yaitu pukul 18.30 waktu setempat.

Padahal setelah COO (Chief Operating Officer) PT. LIB, Tigor Shalom, mengumumkan bahwa penerangan kandang PSM belum memenuhi standar pada awal Juli 2018 lalu, pihak manajemen Juku Eja langsung mengebut pengerjaan penambahan beberapa lampu stadion Mattoanging. Namun, hasil verifikasi akhir lagi-lagi mengeluarkan keputusan final bahwa PSM harus mengungsi dengan pertimbangan kurangnya pencahayaan tak akan membuat tampilan siaran langsung televisi tak maksimal.

Pihak manajemen PSM sempat bernegosiasi agar laga dimajukan menjadi sore hari supaya para pendukung mereka tetap bisa datang ke stadion, demi mendukung tim kesayangannya dan menikmati suguhan sepak bola nasional di kota Makassar.

Namun, seperti diberitakan rakyatku.com pada 16 Juni 2018, PT. LIB bergeming dengan alasan bahwa jadwal Liga 1 2018 sudah tak bisa ditawar-tawar lagi, apalagi karena laga sudah masuk jadwal siaran langsung di stasiun televisi pemegang hak siar.

Demi mendukung kelancaran jadwal, PSM akhirnya mempersiapkan laga kandang terbaru mereka di Bali, setelah menelan kekalahan dari tuan rumah Bali United pada 11 Juli 2018 lalu. Mereka pun rela bermain tanpa dukungan ribuan warga Makassar seperti biasa.

Akan tetapi, tepat sebelum laga timnya melawan Bhayangkara FC berlangsung, pelatih PSM Robert Rene Alberts membuat satu unggahan di akun pribadi Instagramnya yang mengecam terusirnya Juku Eja dari Makassar.

Dengan bantuan terjemahan dari penerjemah pribadinya, Roy, akun @robertrenealberts menulis,

“Pertandingan kita lawan Bhayangkara di Bali hanya Live Streaming. Minggu lalu PSM diberitahu bahwa kita tidak bisa main di Makassar di malam hari karena sistem pencahayaan kita tidak disetujui, dan (kami) minta supaya pertandingan bisa dimainkan jam 15.00 WIB. PT. LIB beritahu kami “tidak bisa”, dengan alasan pertandingan kita LIVE di TV. Tapi, hari ini kita baru tahu bahwa pertandingan kita TIDAK LIVE di TV!”

Selama ini ia memang sudah terkenal sebagai salah satu tukang protes paling vokal di kalangan pelatih Liga 1, tapi kali ini wajar jika Robert merasa gusar. Laga PSM melawan Bhayangkara FC pada akhirnya hanya disiarkan langsung oleh akun streaming resmi Liga 1, yaitu vidio.com, padahal sempat masuk jadwal siaran langsung Indosiar. Dengan demikian, seharusnya tak ada masalah jika PSM bermain di Stadion Mattoanging pada sore hari, bahkan malam hari.

Baca juga: Musim Baru untuk Mengejar Lagi Status Juara bagi PSM Makassar
 

Mengutip situsweb salah satu akun suporter Makassar, Red Gank, Tigor sendiri pernah memberi pernyataan, “Standar lampu pertandingan yang disiarkan langsung harus berkekuatan di atas 800 lux, sedangkan non-live standarnya hanya 350-400 lux. Pemegang hak siar sudah mengeluhkan penerangan yang ada di Stadion Mattoanging.”

Jika berpegang pada pernyataan Tigor tersebut, seharusnya PT. LIB mengungkapkan kepada publik dan seluruh pemangku kepentingan di Liga 1 tentang hasil penilaian kondisi penerangan semua lampu stadion di Indonesia. Jika perlu, daftar hasil tersebut memuat kekuatan lampu stadion yang menjadi kandang masing-masing tim.

Pasalnya, jika hanya berpegang pada anggapan bahwa pencahayaan lampu stadion belum memadai, beberapa jurnalis foto lokal maupun nasional sudah menyatakan bahwa mereka tak memiliki masalah mengambil gambar dengan kondisi pencahayaan Matoanging saat ini. Bahkan, kapten PSM di Liga 1 2017, Hamka Hamzah, ikut angkat bicara di akun Twitternya dengan mengatakan “Terang sekalimi ini!” (Ini sudah sangat terang!)

Tidak heran, asumsi-asumsi bahwa ada ‘tangan-tangan tak terlihat’ yang ingin menghambat langkah PSM di liga mulai berkembang di kalangan pendukung Juku Eja. Perjalanan tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan ini memang selama ini cukup lancar dalam perebutan gelar juara. Meski ditinggal beberapa pemain pilarnya, termasuk sang kapten musim lalu, Hamka, Juku Eja masih sanggup bersaing di papan atas hingga menjelang putaran pertama berakhir.

Kembali ke masalah verifikasi stadion, PT. LIB harus tegas dan transparan mengungkapkan hasil verifikasi semua stadion Liga 1. Sekeras apa pun usaha manajemen PSM untuk membeli lampu baru dan memasangnya di stadion, masalah tak akan selesai jika pejabat PT. LIB lagi-lagi hanya ketok palu dan memberi penilaian ‘tidak memadai’ tanpa mengungkapkan apa saja kriteria yang pihak PSM belum mampu penuhi.

Seperti lanjutan postingan Robert Alberts di Instagram, “Pertanyaan besarnya: Kenapa PSM tidak diizinkan untuk bermain di kandangnya, di Makassar? Ini adalah sebuah skandal!”

Jika masih tak diizinkan menggelar pertandingan di malam hari, setidaknya mungkin PSM diperbolehkan memindahkan laga mereka ke sore hari. Selama ini, revisi jadwal selalu bisa dilakukan untuk mengakomodasi klub-klub peserta Liga 1 lainnya. Mengapa PSM tidak? Apalagi jika hanya mengubah jam pertandingan tanpa memindahkan hari.

Melihat tingkat okupansi Stadion Mattoanging yang selalu di atas angka 95% sejak Liga 1 musim lalu, kita bisa berkesimpulan bahwa sepak bola adalah hiburan sejati kota Makassar dan bahkan provinsi Sulawesi Selatan. Menjauhkan PSM dari rumahnya sama saja dengan mencabut urat nadi sepak bola di kawasan ini.