Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018, Rusia vs Arab Saudi: Ketika Beruang Merah Menerkam Elang Hijau

Piala Dunia 2018 akhirnya resmi dibuka dengan: jari tengah Robbie Williams di live opening ceremony, sambutan dingin yang khas dari Vladimir Putin, pidato garing Gianni Infantino yang membuat saya malas membesarkan suara teve, dan laga antara dua negara kaya minyak yang saya rasa akan memainkan sepak bola medioker mengingat keduanya adalah peserta Piala Dunia 2018 dengan peringkat terendah.

But, hey, ternyata laga perdana ini tak seburuk itu. Betul, Rusia kalah penguasaan bola dan umpan panjang sporadis sering tampak diperagakan orang-orang bertampang dingin dan kaku ini. Betul pula, Juan Antonio Pizzi membuat Arab Saudi bermain seperti orang-orang Eropa dan Amerika Latin: lari menekan lawan dan nyaman menguasai bola.

Tapi, kamu tahu, Saudi memang bukan Korea Selatan atau Jepang, dan itu tampak dari seringnya bola yang memang lama mereka kuasai, tidak tahu harus dibawa ke mana. Sepanjang babak pertama, Mohammad Al-Sahlawi, sang penyerang tunggal, seperti introvert yang menutup diri dari dunia luar di lini depan.

Rusia, sementara itu, bukan tim yang bagus-bagus betul. Sejak Piala Eropa 2008 dan generasi emas Andrey Arshavin dengan Konstantin Zyrianov, hampir tidak ada pemain Rusia dengan kualitas mendekati kedua nama tersebut. Igor Akinfeev mencoba menjadi Gianluigi Buffon dari Siberia tapi menemukan dirinya tak lebih hanya seperti Antonio Mirante dari Moskow. Mungkin Yuri Zhirkov, yang kini berusia 34 tahun, dan Alan Dzagoev, yang pernah menjadi wonderkid Rusia, yang familiar di mata saya.

Aleksandr Golovin melesat sebagai bakat menjanjikan sejak 2017, Fyodor Smolov bukan Roman Pavlyuchenko, tapi untuk kebutuhan penyerang di timnas Rusia, ia termasuk lumayan dibanding, Artem Dzyuba misal. Dan kemudian, muncullah nama itu: Yuri Gazinsky.

Gazinsky adalah sosok tinggi besar yang bertampang khas orang Rusia (pucat, datar, dan dingin) dengan potongan rambut cepak ala agen KGB yang akan mudah kamu temui di film-film Hollywood dengan latar cerita mafia Rusia yang mendekam dan beroperasi di New York. Gelandang milik FC Krasnodar ini tentu tidak menyangka bahwa sundulannya memanfaatkan asis menawan Golovin di pertengahan babak pertama, akan membuka skor bagi tuan rumah, sekaligus menjadi gol yang dicatat sejarah nantinya sebagai gol pembuka Piala Dunia 2018 di Rusia.

Denis Cheryshev, alumni La Fabrica milik Real Madrid, yang masuk menggantikan Dzagoev ketika harus keluar karena bermasalah dengan hamstring, menggandakan keunggulan tuan rumah di pengujung babak pertama sekaligus membuat Arab Saudi tampak semakin tidak berdaya di partisipasi pertama mereka di pentas akbar dunia setelah absen sejak Piala Dunia 2006 di Jerman.

Babak kedua dimulai dan kemudian berjalan hampir setara dengan tempo di babak pertama. Kualitas permainan kedua negara yang hanya dua level di atas tim-tim peserta Go-Jek Liga 1 terkadang membuat saya lupa saya sedang menonton laga Liga 1 di bulan Ramadan atau sebuah laga ‘papan atas’ di pentas sebesar Piala Dunia.

Pemain Saudi bukan pemain dengan pemahaman taktikal yang buruk, kalau saya boleh jujur. Mereka tahu dan paham cara menjalankan instruksi Pizzi, seperti misal, sesekali, skema pressing Saudi ketika tanpa bola cukup baik, walau tak konsisten dan cenderung buang tenaga belaka. Cara menguasai bola dan mengalirkannya dari bawah ke tengah pun cukup oke, walau, ya, kualitas teknik per individu memang membedakan. Contoh sederhananya, mereka hanya tahu cara mengalirkan bola dari Osama Hawsawi ke lini tengah, lalu tidak pernah mencapai Al-Sahlawi di depan. Ya, mau bagaimana lagi?

Rusia kemudian mencetak gol ketiga mereka ketika Golovin membantu Artem Dzyuba lewat asis keduanya malam ini. Raksasa tinggi besar yang masuk menggantikan Smolov di awal babak kedua itu mencetak gol sekaligus menegaskan keunggulan telak tuan rumah atas raja minyak dari timur.

Seakan semakin membenamkan nasib sang raja minyak Asia, Cheryshev menggenapkan keunggulan Rusia menjadi empat gol tanpa balas dengan lesakan manis di pengujung babak kedua. Skema route one dari lini belakang yang dilanjutkan flick on Dzyuba, mendarat di kaki pemain Villareal tersebut sebelum ia meneruskannya dengan tendangan kaki kiri manis yang masuk ke jala gawang Saudi dengan mulus.

Dan Golovin, akhirnya benar-benar menunjukkan sinarnya di laga kali ini. Tepat di detik-detik akhir injury time, gelandang CSKA Moskow ini melepaskan tendangan bebas menawan yang menghujam telak ke gawang Saudi dan memastikan Elang Hijau dari Timur takluk dengan skor mencolok di laga pembuka.

Pertandingan pembuka Piala Dunia 2018 kemudian berakhir dengan keunggulan telak tuan rumah atas Arab Saudi dengan skor akhir 5-0. Aleksandr Golovin, pemain yang pernah sedemikian intens diincar Arsenal dua musim lalu, menjadi salah satu calon bintang muda yang (mungkin) akan bersinar terang di turnamen ini, selain Denis Cheryshev, alumnus Real Madrid yang jadi supersub dengan dua golnya dari bangku cadangan.

Sementara bagi Arab Saudi, ya, hmm, hanya jersey hijau yang membuat mereka terlihat seperti PSMS Medan dari kejauhan dan anthem jacket menawan di awal laga yang layak diapresiasi penonton netral seperti saya malam ini.