Cerita Tribe Ultah

73 Tahun Massimo Moratti: Dua Sisi di I Nerazzurri

Lahir pada 16 Mei 1945, Massimo Moratti dikenal sebagai taipan minyak yang sempat meraih sukses besar di Internazionale Milano. Berkat tangan dinginnya itulah pria yang memiliki gelar magister di Ilmu Politik ini dipercaya menjabat sebagai presiden Inter selama 18 tahun.

Posisi yang diduduki Massimo Moratti tersebut melanjutkan kiprah ayahnya di bidang yang sama. Namun, Massimo Moratti tidak langsung melanjutkan estafet kursi kepresidenan Inter dari ayahnya, Angelo Moratti, tapi membeli I Nerazzurri dari Ernesto Pellegrini pada 1995.

Tepat pada hari ini, Massimo Moratti merayakan hari ulang tahunnya yang ke-73. Sebagai insan yang sudah sangat berpengalaman di balik layar klub sepak bola, Moratti telah mengalami berbagai pasang-surut dalam kariernya sebagai presiden Inter. Mulai dari kegagalan, hujan kritikan, kejayaan, hingga banjir pujian, semua pernah dialaminya.

Berikut ini adalah beberapa diantaranya, yang merupakan dua sisi Moratti selama menjadi orang nomor satu di sisi biru kota Milan:

Membeli Inter, menyelamatkan Inter

Ketika Inter dipimpin oleh Ernesto Pellegrini, La Beneamata gagal memenuhi ekspektasi sebagai tim besar. Pada 1995 tampuk kepemimpinan kemudian diambil alih oleh Massimo Moratti, dan seperti yang kita tahu sekarang, beliau berhasil mengembalikan Inter ke kelasnya. Menjadi hebat lagi seperti ketika dipimpin Angelo Moratti dengan era emasnya di tahun 1955-1968.

Dana transfer 1,5 miliar euro

Ketika memimpin Inter, Massimo Moratti sangat ambisius karena beliau sangat mencintai klub tersebut sejak kecil. Oleh karenanya, Moratti tidak segan mengucurkan dana besar untuk mendatangkan pemain-pemain tenar. Dalam penuturannya, Moratti mengaku telah mengeluarkan uang tak kurang dari 1,5 miliar euro (sekitar 25 triliun rupiah) untuk membangun Inter bermaterikan pemain kelas dunia.

Siapa saja pemain tersebut?

Gerbong kedatangan pemain mewah Inter dimulai dari musim 1997/1998, dengan mendaratkan Ronaldo dan Álvaro Recoba. Setelahnya, pembelian mahal Inter terus berlanjut. Nama-nama seperti Christian Vieri, Roberto Carlos, Hernán Crespo, Adriano, Iván Zamorano, Douglas Maicon, Roberto Baggio, Zlatan Ibrahimović, Luís Figo, Samuel Eto’o, dan Wesley Sneijder bergantian datang ke Giuseppe Meazza.

Pecahkan rekor transfer dunia

Massimo Moratti juga sempat memecahkan rekor transfer dunia. Itu terjadi pada musim 1999/2000, ketika mendatangkan Christian Vieri dari Lazio seharga 48 juta euro. Rekor tersebut jauh mengalahkan rekor transfer dunia sebelumnya yang dipegang Denilson (31,5 juta euro) pada 1998/1999, tapi langsung dipecahkan Luís Figo di musim 2000/2001 ketika hijrah dari Barcelona ke Real Madrid seharga 60 juta euro.

Penuhnya lemari trofi

Dengan skuat mewahnya, Inter sempat merajai Serie A bahkan Eropa. Yang paling diingat tentu treble winners di musim 2009/2010 dan sampai saat ini masih menjadi satu-satunya klub Serie A yang bisa melakukannya. Lalu untuk trofi “eceran”, ada lima Scudetti beruntun (2006-2010), 4 Coppa Italia, 4 Supercoppa Italiana, 1 Piala Dunia Antarklub, dan 1 Piala UEFA tahun 1998.

Ayah-anak pemenang Liga Champions

Berkaitan dengan treble winners yang diraih Inter, Massimo Moratti mengikuti jejak ayahnya yang membawa I Nerazzurri memenangi Liga Champions. Angelo Moratti melakukannya pada 1963/1964 ketika masih bernama Piala Champions, dengan mengalahkan Real Madrid 3-1 di final. Uniknya, Madrid kembali “berperan” dalam kejayaan Inter di Liga Champions, ketika jadi juara di Santiago Bernabéu pada 2010.

Gemar pecat pelatih

Meski bergelimang trofi dan pemain bintang, tapi Inter di masa kepemimpinan Moratti tak luput dari noda, salah satunya adalah pemecatan pelatih. Tercatat hanya Roberto Mancini (2004-2008), Héctor Cúper (2001-2003), dan Jose Mourinho (2008-2010) yang bertahan lebih dari setahun. Selebihnya, nama-nama seperti Roy Hodgson, Rafael Benítez, Walter Mazzarri, dan Stefano Pioli tak ada yang bertahan lebih dari semusim.

Pemandu bakat juga dipecat

Tak hanya pelatih, Massimo Moratti juga tak segan memberhentikan staf lainnya dari jabatan, meskipun orang tersebut sudah lama mengabdi untuk Inter. Contohnya adalah pemecatan pemandu bakat Giovanni Battista Lanfrachi, yang sudah bekerja di Inter selama 13 tahun. Ia dipecat bersamaan lengsernya Claudio Ranieri pada 2012, dan digantikan mantan komisi teknis Udinese, Valentino Angeloni.

Meninggalkan utang segunung

Ini baru terungkap setelah Massimo Moratti hendak melepaskan kepemilikannya di Inter. Pada 2013 beliau menjual Inter pada Erick Thohir, karena klub tersebut terlilit utang yang ditaksir mencapai 250 juta euro. Moratti berdalih, utang-utang tersebut dilakukannya tidak hanya untuk membangun skuat dan infrastruktur, tapi juga untuk memperluas pemasaran Inter, terutama di kawasan Asia.