Cerita

Paulo Dybala dan Mauro Icardi yang (Mungkin) Tak Masuk Skuat Argentina di Piala Dunia 2018

Jika Prancis diberkahi atas opsi gelandang yang begitu menumpuk, maka Argentina memiliki hal yang serupa di lini depannya. Lini serang La Albiceleste memang dihuni oleh pemain-pemain papan atas yang menjadi pencetak gol terbaik di liga-liga top Eropa. Mulai dari Sergio Aguero yang merajai Inggris, Gonzalo Higuain bersama Juventus di Italia, Lautaro Martinez yang kini mendobrak Liga Argentina, Angel Correa yang cemerlang bersama Atletico Madrid, dan tentu saja Lionel Messi, sang pemain terbaik di dunia.

Dari nama-nama tersebut, masih ada lagi dua penyerang yang berkualitas yang kini bermain di Serie A Italia. Dua nama tersebut adalah Mauro Icardi, ujung tombak sekaligus kapten Internazionale Milano yang saat ini telah mencetak 22 gol dari 24 laga bersama klubnya di Serie A, dan Paulo Dybala, tandem sejati Higuain di Juventus yang sudah mencetak 21 gol dari 36 pertandingan di musim ini.

Meskipun begitu, pelatih kepala Argentina saat ini, Jorge Sampaoli, menyatakan bahwa peluang Icardi dan Dybala untuk masuk ke skuat timnas saat ini terbilang kecil. Bahkan, keduanya tak dipanggil untuk laga uji coba di international week saat ini.

Pernyataan Sampaoli ini tentunya dipertanyakan banyak pihak. Wajar saja, keduanya membela klub yang besar di Italia, dan bermain secara reguler, bahkan tampil prima. Jika dibandingkan dengan Martinez, yang hanya bermain di Racing Club, klub di Argentina, Icardi dan Dybala tentunya lebih layak diperhitungkan.

Secara individu, kualitas dua bintang Serie A tersebut juga tak kalah dengan nama-nama yang lebih mapan seperti Aguero dan Higuain. Mengikutsertakan Dybala dan Icardi juga memperlancar regenerasi timnas Argentina mengingat usia keduanya saat ini masih di bawah 26 tahun.

Beragam argumentasi lainnya dilontarkan oleh banyak orang, terlebih fanboy dari dua pemain ini. Meskipun begitu, satu yang perlu diingat adalah kemungkinan dipinggirkannya Icardi dan Dybala oleh Sampaoli adalah murni karena alasan taktik.

Dilansir dari Sports Illustrated, Sampaoli telah memberikan alasannya mengapa ia mungkin tak akan membawa Dybala dan Icardi ke Piala Dunia 2018. Pelatih berkepala plontos itu menyatakan bahwa keduanya tak masuk ke dalam sistem permainan yang telah ia terapkan bersama Argentina.

“Sulit bagi Dybala untuk masuk ke dalam skema kami. Kami tak dapat meningkatkan performanya lebih dari ini, dan kami masih harus mengevaluasi pemain kami saat ini. Hasil evaluasi tersebut akan menentukan apakah pemain di skuat saat ini lebih baik secara sistem ketimbang Dybala, atau kami akan bekerja dengannya dan meningkatkan performanya.”

“Untuk Icardi, tak ada hubungan antara performanya yang mengagumkan di Inter dan bagi timnas, karena sistem permainan kami yang berbeda. Saya menyadari hal itu, dan tentunya kami harus meningkatkan hal tersebut. Namun, waktu kami tak banyak. Adaptasi yang ia butuhkan tak akan sebentar. Saya tak akan langsung mencoret dirinya, namun sebagai pelatih, saya harus fokus akan kerja sama tim.”

Mari kita mulai dengan Icardi. Seperti yang sudah kita semua tahu, catatan golnya tak kalah ketimbang Aguero dan Higuain. Namun, penyerang yang digunakan Sampaoli di Argentina tak hanya melulu sekadar gol. Penyerang yang menjadi preferensi Sampaoli di timnas Argentina adalah mereka yang juga mampu untuk menciptakan peluang bagi rekan setimnya. Hal inilah yang menjadi keunggulan Aguero, Higuain, bahkan Martinez ketimbang Icardi.

Di liga masing-masing sejauh ini, rataan key passes dan chances created per laga yang dibuat Icardi berada di bawah penyerang-penyerang tersebut, terkecuali Higuain yang rataan key passes per laganya lebih rendah dari Icardi. Rataan key passes yang dibuat Icardi hanya berada di angka 0,92, di bawah Aguero yang mencapai 1,37 dan Martinez yang mencapai 1,2. Ratan chances created Icardi juga hanya berada di angka 0,96, di bawah Aguero (1,63) dan Higuain (1,08).

Di Inter, Icardi memang tipe pemain yang dilayani. Tak salah memang, karena ia memang begitu diandalkan untuk menjadi pencetak gol utama di I Nerrazzuri. Di situlah ia berbeda dengan, katakanlah, Aguero yang menjadi penyerang utama Argentina. Aguero kerapkali memberikan peluang bagi Leroy Sane, Kevin De Bruyne, atau Raheem Sterling di Manchester City.

Begitu juga Higuain, yang memiliki rekan di sayap atau lini kedua yang mahir mencetak gol seperti Douglas Costa dan Dybala. Di Argentina, mereka memiliki Angel Di Maria, Alejandro ‘Papu’ Gomez, Cristian Pavon, Eduardo Salvio, dan tentunya Messi, yang juga mumpuni mencetak gol. Seperti kata Sampaoli, sulit tentunya memaksa Icardi untuk juga mampu memberikan peluang kepada rekannya sebaik Aguero atau Higuain.

Kasus yang lebih miris menimpa Dybala. Keberadaan Messi-lah yang kemungkinan besar menghalangi peluangnya untuk ikut andil di Rusia nanti. Kedua pemain ini memang murni sama, mulai dari postur, hingga permainannya di lapangan. Karena kesamaannya itulah, mereka tak dapat dimainkan bersamaan.

Baik Dybala maupun Messi mengakui bahwa mereka sulit untuk bermain bersama. Menurut Messi, mereka berdua sama-sama bermain lebih nyaman di sisi kanan penyerangan, dan tentu posisi mereka bentrok di skuat. Jika pemainnya saja sudah merasa seperti itu, bagaimana Sampaoli akan mengakomodir keduanya di skuat?

“Saya telah berbicara dengan Dybala, dan saya setuju akan pernyataannya,” ungkap Messi dikutip dari Goal.

“Di Juventus, ia bermain seperti saya, kami sama-sama mencari ruang. Ketika saya bermain bersamanya di timnas, ia harus bermain lebih ke kiri, dan ia terlihat tidak terbiasa.”

Pernyataan Messi tampak menjadi pembenaran dari pernyataan Sampaoli bahwa sistemlah yang menjadi penghalang Dybala untuk masuk ke skemanya di timnas. Peran Dybala yang persis sama dengan Messi membuat mantan manajer Sevilla tersebut harus memilih satu, dan tak mungkin tentunya meminggirkan kapten sekaligus pemain terbaik di skuat. Bahkan, Sampaoli belakangan ini mengakui bahwa tim Argentina asuhannya akan berpusat pada Messi.

Meninggalkan pemain seperti Dybala dan Icardi mungkin terlihat seperti keputusan yang buruk. Namun, pelatih tentu memiliki skemanya sendiri untuk kebaikan tim ke depannya. Tentunya, selama Argentina mampu menjadi juara, Dybala dan Icardi sepatutnya merasa senang, walau mungkin terasa pahit karena tak berpartisipasi di dalamnya.

Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket