Cerita

Angkringan, yang Setia Menemani Setelah Pertandingan

Joni melangkahkan kakinya dengan penuh keraguan saat itu. Setelan sepatu KW, celana jins, kaos oranye, dan tas selempang mengiringi pria berusia seperempat abad ini berjalan tanpa arah menuju luar stadion. Setibanya di sana ia mengeluarkan ponselnya, membuka daftar panggilan untuk mencari nomor temannya.

Tut… tut… tut…
Tut… tut… tut…

Cukup lama Joni menanti panggilannya tersambung ke ponsel temannya, yang membuatnya semakin cemas. Ia saat itu tertinggal dari rombongan teman-temannya setelah menonton pertandingan di stadion, dan hendak menanyakan di mana mereka berkumpul. Maklum, ini adalah kali pertama Joni datang ke salah satu stadion legendaris tersebut, sehingga dia belum hafal dengan lekuk tubuh bangunan tinggi besar itu.

Beberapa saat kemudian panggilan tersebut akhirnya tersambung. “Di mana, Man?” tanya Joni. Suara dari speaker kecil ponsel Joni pun menyahut, “Jalan aja ke luar, cari angkringan yang tendanya biru, kita di dalam.”

“Oke, tunggu bentar,” kata Joni, sambil jalan ke luar stadion, celingak-celinguk mencari angkringan yang dimaksud. Namun sesampainya di luar stadion, Joni justru semakin bingung. Banyak sekali angkringan berjejer di sana, dan bukan hanya satu yang bertenda biru! Lalu diambilnya lagi ponsel dari saku celananya untuk menghubungi temannya lagi.

Tak seperti di panggilan pertama, kali ini teman Joni lebih cepat mengangkat teleponnya.

Woy, angkringan yang mana?” tanya Joni dengan sedikit kesal.

“Tenda biru,” jawab temannya.

“Biru yang mana? Banyak soalnya.”

“Oh iya, yang ada tulisannya Kang Slamet.”

Diamatinya satu per satu angkringan di area itu, dan akhirnya Joni menemukannya. “Oke udah kelihatan. Otw,” tutup Joni mengakhiri panggilan, dan saat itu juga ia mendapat SMS dari operator selulernya, bahwa pulsanya tidak mencukupi untuk melakukan panggilan lagi. “Apes bener, untung udah ketemu,” keluh Joni dalam hatinya.

Setibanya di angkringan yang dimaksud tadi, Joni langsung disambut kawan-kawannya. Mereka menanyakan kenapa Joni bisa tertinggal dari rombongan, padahal mereka keluar dari tribun berbarengan. Joni pun bercerita panjang lebar bahwa topinya sempat terjatuh dan itu yang membuatnya terpisah, karena setelah kado pemberian pacarnya itu diambilnya dari lantai, teman-temannya sudah menghilang dari pandangannya.

Aduuuh Joni… Joni… Demi pacar ampe mencar hahaha,” sahut temannya yang lain.

Tak ingin terus menjadi bahan ejekan, Joni lalu mengalihkan perhatian dengan memesan minuman dan mengambil hidangan yang tersaji. Setelahnya, perbincangan mereka kembali ke topik utama: sepak bola. Firman, teman Joni yang ditelepon pertama tadi, sangat bangga dengan penampilan Persija barusan. Ia begitu mengagumi Marko Šimić yang langsung tajam meskipun baru bergabung musim ini.

Pendapat tersebut juga diamini oleh Joni dan teman-teman lainnya. Mereka satu suara, merasa lega bahwa Persija akhirnya memiliki penyerang tajam lagi, setelah cukup lama berjuang dengan “juru gedor seadanya”. Satu pemain lain yang mencuri perhatian mereka adalah Jaimerson, yang menurut mereka lebih tangguh dari Willian Pacheco, andalan lini belakang Persija selama dua musim ke belakang yang kini bermain di Selangor FA.

Nuansa kehangatan menyelimuti Angkringan Kang Slamet saat itu. Berisi beberapa orang beridentitas Jakmania, gerobak kecil bertenda biru tersebut memancarkan keceriaan di tengah redupnya pencahayaan. Menembus dinginnya malam dengan tawa dan senda gurau bersama segelas minuman, satu lepek gorengan dan sate-satean, serta beberapa bungkus nasi kucing.

Angkringan Kang Slamet bukan satu-satunya yang kebanjiran pengunjung saat itu. Tak jauh dari sana, ada angkringan lainnya yang terlihat sangat sibuk melayani para pembeli. Beratapkan terpal warna merah, asap dari anglo, rokok tembakau, dan rokok elektrik bercampur mengepung tempat yang juga disebut HIK itu. Konon, HIK adalah singkatan dari Hidangan Istimewa Klaten, yang merujuk pada asal mula angkringan yang lahir di daerah Bayat, Kabupaten Klaten.

Namun suasana di angkringan yang satu ini sedikit berbeda. Mayoritas pria yang duduk di bangku angkringan atau lesehan di trotoar sampingnya tersebut memakai baju hijau beraroma PSMS Medan. Memang saat itu baru saja dilangsungkan laga semifinal Piala Presiden 2018 antara Persija lawan PSMS, sehingga tak heran jika area stadion dipenuhi pendukung dari kedua kesebelasan.

Meski saat itu PSMS dihajar telak Persija dengan skor 1-4, para suporter Ayam Kinantan di angkringan itu tidak terlalu larut dalam kesedihan. Memang ada kekesalan yang menyelimuti mereka karena PSMS yang begitu perkasa saat mengalahkan Persib dan sangat heroik kala menyingkirkan Persebaya, justru berakhir anti-klimaks di hadapan Persija.

Salah seorang pria yang berusia sekitar awal 30-an tahun terdengar menyuarakan nada optimisnya, bahwa Djadjang Nurdjaman pasti dapat memberikan pembalasan di leg kedua, sembari berharap Persija menurunkan tim pelapisnya karena akan bertarung di Piala AFC beberapa hari kemudian. Dengan logat khas Medan, mereka ramai berbincang-bincang sambil menikmati hidangan ala angkringan itu, menemani mereka melewati malam di kedamaian kota Solo.

Tak terasa waktu terus beranjak menuju dini hari. Sebagai tempat nongkrong yang menerapkan jam tutup “sehabisnya dagangan”, angkringan selalu melayani para pengunjungnya dengan sepenuh hati, seberapapun lamanya mereka singgah di gerobak sederhana itu. Namun, kelelahan yang hinggap di tubuh para suporter PSMS dan Persija tadi tak bisa diajak berkompromi lagi.

Panggilan untuk pulang ke penginapan masing-masing atau berpindah tempat untuk berkeliling Kota Solo sayup-sayup memasuki telinga mereka, yang artinya adalah ucapan perpisahan pada angkringan beserta seluruh pekerjanya. Satu per satu mereka beranjak dari tempat duduknya, melakukan pembicaraan dengan “kasir” angkringan untuk melakukan pembayaran.

Tidak ada transaksi non-tunai seperti e-wallet, atau kartu kredit. Tidak ada pula kalkulator sebagai alat bantu hitung atau struk sebagai bukti pembayaran. Semua dilakukan sang penjual dengan hitungan di luar kepala, dengan cepat dan tepat.

Harga makanan dan minuman pun sangat bersahabat. Cukup dengan belasan ribu rupiah, para pengunjung angkringan dapat mengisi perut sampai puas seperti makan di restoran all-you-can-eat. Cukup dengan duduk di bangku atau lesehan di trotoar, pengunjung bisa menceritakan beragam kisah, mencurahkan segudang keluh kesah, atau membantu teman menyelesaikan masalah.

Angkringan, di beberapa stadion akan selalu setia menyambut selepas pertandingan. Tak peduli apapun latar belakang kehidupannya, seberapa tebal dompetnya, atau tim mana yang didukungnya, angkringan akan selalu menerima para pengunjungnya dengan tangan terbuka. Salah satu teman setia seusai laga, di kala kebahagiaan menyapa juga saat kesedihan menerpa.

NB: Cerita ini terinspirasi dari suasana angkringan di sekitar Stadion Manahan Solo usai pertandingan Persija lawan PSMS di leg pertama semifinal Piala Presiden 2018. Nama tokoh dan nama tempat dalam cerita di atas adalah karangan penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, atau cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.