Cerita

Cerminan Mufasa dalam Diri Zlatan Ibrahimovic

Tribes pasti familiar dengan film The Lion King. Film keluaran Disney ini sangat populer bagi anak-anak generasi 1990-an. Berlatar belakang di hutan Afrika, film yang satu ini menceritakan tentang perebutan takhta “raja hutan” antara para singa-singa.

Ceritanya sendiri berfokus di Simba, sang putra mahkota yang harus mengembalikan keadaan setelah takhta sang ayah, Mufasa, direbut oleh pamannya yang zalim, Scar. Petualangan pun harus dilewati Simba, mulai dari berhadapan dengan para hyena di lembah, diasingkan dari Pride Lands, tempat ayahnya berkuasa, hingga akhirnya berhadapan langsung dengan Scar.

Meskipun begitu, bukan Simba-lah yang akan kita bahas di sini, melainkan sang ayah, Mufasa. Pada awalnya, Mufasa adalah seorang singa yang dihormati dan disegani oleh penduduk Pride Lands. Selama ia memimpin, ia begitu dicintai oleh rakyatnya. Namun, pada akhirnya, ia pun harus turun takhta akibat hal lain yang ia tak kehendaki. Mufasa harus meregang nyawa setelah didorong dari tebing oleh saudaranya sendiri yang iri terhadap kekuasaannya. Sang Raja Singa pun kehilangan takhtanya.

Kisah Mufasa sedikit banyak mirip dengan cerita pesepak bola legendaris asal Swedia, Zlatan Ibrahimovic. Penyerang milik Manchester United (MU) ini kerap menyamakan dirinya dengan singa yang perkasa, namun, ada hal-hal tertentu yang berada di luar kehendaknya. Jika Mufasa harus merelakan raganya mati karena dijebak dan diserang tanpa terduga oleh saudaranya sendiri, maka Ibrahimovic harus menerima bahwa karier sepak bolanya sekarat karena cedera parah yang menimpanya.

Seperti Mufasa, di masa jayanya, Ibrahimovic adalah sosok yang dicintai, dihormati, sekaligus disegani. Di manapun ia bermain, ia memang begitu perkasa di depan gawang. Sosoknya yang kekar dan kuat mampu membuat bek lawan kocar-kacir. Tak hanya disokong oleh fisik yang prima, kelenturan tubuhnya berkat latihan taekwondo yang ia geluti hingga mendapatkan sabuk hitam, membuatnya mampu mencetak gol dengan cara-cara yang tidak terduga. Singkatnya, Ibrahimovic adalah penyerang kelas dunia di masa jayanya.

Ketika pindah ke MU di awal musim 2016/2017 lalu, mantan kapten timnas Swedia ini sempat diragukan. Memang, ketika ia tiba di Inggris, usianya sudah menginjak 35 tahun. Meskipun begitu, Ibrahimovic menunjukkan bahwa ia masih bertaring. Dari total 28 penampilan, ia mampu mencetak 17 gol bagi Setan Merah.

Tak hanya itu, ia juga mampu mencetak beberapa rekor, seperti menjadi pemain tertua yang mampu mencetak 15 gol di satu musim Liga Primer Inggris. Ia juga berandil besar atas juaranya MU di Liga Europa. Penampilannya bersama MU yang seolah melawan usianya ini setidaknya bertahan sampai tanggal 20 April 2017.

Di tanggal tersebut, Ibrahimovic tertimpa bencana yang menjadi awal dari sekaratnya karier sepak bolanya. Ketika MU menjamu Anderlecht di laga perempat-final Liga Europa, ia terkena cedera serius di lutut kanannya. Setelah dilakukan diagnosa, akhirnya terungkap bahwa ligamennya terluka, dan ia harus absen lama. Seperti yang sudah kita ketahui, cedera ligamen lutut merupakan momok bagi, tidak hanya pesepak bola, melainkan semua atlet. Cedera tersebut dapat mematikan karier penderitanya, bahkan yang masih muda.

Sesudah laga tersebut, top skor sepanjang masa timnas Swedia ini absen hingga musim berakhir. Karena ia memang diikat hanya satu musim oleh Jose Mourinho, kontraknya pun tak diperpanjang kala musim lalu berakhir. Hebatnya, Ibrahimovic mampu pulih lebih cepat dari perkiraan.

“Singa tidak memulihkan diri seperti layaknya manusia,” ujarnya ketika ia dinyatakan sembuh.

Menjelang penutupan bursa transfer awal musim ini, ia pun kembali dikontrak oleh MU. Namun, kenyataannya berbeda baginya. Sang singa pun harus menerima bahwa cedera telah membuatnya lumpuh. Sepanjang musim ini, ia hanya mampu tampil sebanyak tujuh kali. Ia pun hanya mampu mencetak satu gol, itu pun hanya ke gawang Bristol City di laga Piala Carabao, yang mana MU harus mengakui keunggulan klub kasta kedua tersebut.

Kini, dapat dipastikan menit bermain sang singa pun tak akan bertambah banyak, mengingat MU telah mengakuisisi Alexis Sanchez sebagai opsi lain di lini depan. Ibrahimovic pun mulai mencari jalan keluar dari Old Trafford. Belakangan ini, ia dirumorkan akan segera hijrah ke Amerika Serikat dan bermain bagi salah satu klub besar Major League Soccer (MLS), Los Angeles Galaxy. Ada juga kabar yang menyebutkan bahwa ia akan menjadi pemain pertama yang bergabung ke klub milik David Beckham, Miami MLS.

Satu yang pasti, karier Ibrahimovic di level tertinggi tampak sudah mati. Sang singa pun menyerah pada hal yang tak bisa ia cegah. Seperti layaknya Mufasa, Ibrahimovic yang perkasa pun akhirnya tunduk pada cedera.

Namun jangan lupa, kepergian Mufasa mampu menginspirasi Simba untuk menjadi singa yang tak kalah kuat dari ayahnya. Bisa jadi, dengan kepergiannya dari MU, pemain muda seperti Anthony Martial dan Marcus Rashford dapat berkembang lebih jauh lagi.

Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket