Pendekatan Arsenal
Walcott bisa bermain sebagai penyerang dan ini adalah fakta. Namun, Arsenal harus mengubah cara bermain ketika menggunakan Walcott sebagai ujung tombak. Berbeda dengan cara bermain Alexandre Lacazette dan Olivier Giroud yang bisa menjadi tembok, Walcott tak bisa melakukannya. Sentuhan pertama dan keterbatasan visi permainan membatasi mantan pemain akademi Southampton ini.
Oleh sebab itu, setidaknya ada satu hukum yang mutlak diingat ketika menggunakan Walcott sebagai penyerang, yaitu pergerakan pemain dan tim tidak boleh statis.
Sudah disinggung di atas bahwa Walcott tidak bisa menerima bola dengan punggung menghadap gawang lawan. Kontrol bola yang tidak prima justru akan menyulitkan pemain asal Inggris tersebut. Secara mudahnya, bola yang dilepaskan harus berada di jalur lari Walcott. Atau, sebelum menerima bola, tubuh Walcott harus diagonal sehingga memudahkan dirinya untuk berakselerasi.
Selain tim yang harus melakukan pergerakan yang lebih banyak dan kompleks, Walcott sendiri juga tidak boleh malas. Walcott harus punya inisiatif untuk terus bergerak di antara celah pemain bertahan. Tujuannya untuk mengacaukan koordinasi pemain bertahan, untuk menciptakan ruang bagi pemain Arsenal lain, sekaligus menciptakan ruang gerak dua hingga tiga meter untuk dirinya sendiri.
Nah, ketika tim dan Walcott sendiri lebih dinamis bergerak, cara bermain Arsenal menjadi lebih enak untuk dinikmati. Perhatikan video di bawah ini:
Yang menarik tentu bagaimana Walcott memanfaatkan “lari kecil-kecil” di antara bek West Bromwich Albion untuk menciptakan ruang bagi dirinya sendiri. Perhatikan juga arah lari Walcott yang selalu siap menyongsong bola diagonal, bukan hendak menerimanya dengan punggung menghadap gawang. Posisi badannya yang selalu menyerong memudahkan Walcott untuk memutar badan jika menerima bola.
Keberanian Walcott untuk melepas tendangan setelah menerima bola juga patut masuk dalam catatan. Sebagai pemain yang berposisi paling depan dalam skema Arsenal, Walcott harus berani melepas tendangan. Jika pembaca jeli mencatat, beberapa pemain Arsenal, terutama gelandang, memiliki kemampuan tendangan dari luar kotak penalti. Namun, beberapa kali kesempatan untuk melepas tendangan tidak dimanfaatkan. Di sini, Walcott harus menjadi pembeda dalam sistem Arsenal. Terutama, untuk memberikan variasi serangan dan efek kejut bagi bek lawan.
Artinya, ada sebuah keinginan untuk memanfaatkan keunggulan lari jarak pendek dan keberanian melepas tendangan yang ditunjukkan Walcott. Gelandang-gelandang serang Arsenal juga tidak ragu memberikan bola terobosan karena melihat Walcott berada dalam posisi yang ideal.
Selalu ada dua variabel dalam sebuah skema, yaitu si pemberi bola dan si penerima. Waktu yang hanya sekian detik adalah rentang yang cukup luas bagi si penerima untuk menempatkan diri dalam posisi terbaik, untuk menerima bola.
Hal yang sama juga berlaku bagi si pemberi, yaitu melihat secara cepat bahwa bola yang akan ia lepas akan berada di kaki yang tepat. Situasi ini membutuhkan gerak yang kontinu dan selaras. Jika Walcott hanya semi-statis, atau bahkan statis, situasi tersebut tidak akan tercipta.
Perhatikan video ketiga di bawah ini. Video berdurasi 1 menit 8 detik ini adalah cuplikan proses gol kedua Walcott di laga yang sama.
Sebagai pemain yang diplot sebagai penyerang, Walcott mempunyai goal threat yang dapat dimaksimalkan.Kemampuan finishing Walcott cukup baik, terutama jika mendapatkan ruang untuk bergerak. Kemampuan tersebut terlihat dari agility-nya untuk bergerak di tengah kerumunan bek WBA.
Kecepatan berpikir untuk sedikit mencongkel bola lalu menembak dengan ujung kaki patut masuk dalam catatan. Artinya, jika dimainkan sebagai penyerang, Walcott harus berani memegang dan bergerak dengan bola. Syaratnya, Walcott harus secara konsisten kontinu bergerak dengan pemilihan waktu yang tepat.