Eropa Inggris

Bagaimana Cara Arsenal Memaksimalkan Theo Walcott dalam Skema 3-4-2-1?

Keterbatasan kemampuan

Cara bermain Walcott tidak terlalu kompleks. Ia punya akselerasi sebagai kekuatan utama, ditambah olah bola yang rata-rata, dan kemampuan menembak bola yang cukup. Tiga corak kekuatan tersebut tak akan banyak bisa dikeluarkan Walcott ketika bermain dalam skema baru. Posisi di belakang penyerang menuntut beberapa hal yang Walcott tak punya.

Ketika bermain sebagai gelandang serang, Walcott harus fasih menerima bola dengan kondisi punggung menghadap ke gawang. Celakanya, karena fisiknya yang kecil, Walcott hampir selalu kesulitan ketika harus mengontrol bola ketika lawan menekan dari belakangnya. Kontrol bola Walcott tidak istimewa, sehingga penguasaan dapat dengan mudah hilang.

Sebagai gelandang serang, Walcott juga dituntut untuk terlibat aktif dalam proses membangun serangan. Karena teknik mengontrol bola ketika ditekan bek lawan dari belakang kurang baik, Arsenal sering kehilangan opsi ketika Walcott bermain. Suatu kali, Walcott bahkan bertindak layaknya penyerang, meski hal ini tidak sepenuhnya bisa disalahkan.

Jika kesulitan bermain sebagai gelandang, apakah Walcott bisa dimainkan di posisi lain? Apakah bek sayap kanan? Jawabannya mungkin tidak bisa. Aspek bertahan Walcott sangat buruk, meski sebagai pemain sayap kanan salah satu tugasnya adalah melindungi bek kanan. Ia tak bisa konsisten menutup ruang meski punya akselerasi yang bagus.

Oleh sebab itu, opsi yang tersisa adalah penyerang tengah. Mengembalikan Walcott ke pos penyerang mungkin bisa menjadi solusi jangka pendek. Namun tentu saja, ada risiko harus mengorbankan penyerang lainnya dan Arsenal sendiri harus mengubah pendekatannya.