Butuh satu hari untuk mendamaikan diri dari kekalahan Arsenal hari Minggu dini hari (20/8) kemarin. Anda tahu apa alasannya? Karena terkadang, kekalahan sebuah klub tak hanya disebabkan oleh hal-hal selama pertandingan berlangsung. Karena sepak bola, untuk kekalahan Arsenal dari Stoke City, adalah tentang momentum.
Laga 90 menit di bet365 Stadium menggambarkan dengan telak semua kelemahan Arsenal, mulai dari pendekatan cara bermain, pemilihan pemain, taktik pergantian pemain, hingga persiapan yang sudah dilakukan sebelum musim 2017/2018 berjalan. Mau tak mau, meski sudah agak basi, Arsene Wenger dan manajemen kembali sangat naif.
Kita telusuri satu per satu.
Pemilihan pemain
Beberapa hari menjelang lawatan ke kandang Stoke City, Per Mertesacker sudah dinyatakan fit dan bisa bermain. Namun, Wenger tetap menurunkan Sead Kolasinac dan Nacho Monreal sebagai bek tengah. Memang, keduanya bisa bermain sebagai bek tengah. Masalahnya terletak kepada keputusan Sang Profesor untuk menempatkan Hector Bellerin sebagai bek sayap kiri.
Bek asal Spanyol ini sudah tidak berada dalam performa terbaik sejak paruh akhir musim lalu. Sayang, buruknya performa tersebut ia bawa ke musim baru. Melawan Leicester City di laga pembuka musim, Bellerin bermain di bawah standar, sebagai bek sayap kanan. Sebailiknya, Alex Oxlade-Chamberlain bermain stabil, baik sebagai bek sayap kiri atau kanan.
Banyak yang menyuarakan pentingnya Wenger memberi “sedikit hukuman” kepada Bellerin. Caranya adalah dengan membangkucadangkan mantan pemain akademi Arsenal tersebut. Wenger memang mengembalikan Chamberlain ke sisi kanan. Namun, beliau menempatkan Bellerin di kiri, alih-alih di bangku cadangan.
Akan jauh lebih efektif apabila menempatkan Kolasinac sebagai bek sayap kiri, yang memang menjadi posisi idealnya. Pun, ketika bermain sebagai bek tengah di kandang Stoke, mantan pemain Schalke tersebut tak bermain maksimal.
Bellerin banyak membuang momentum, terutama ketika ia masuk ke kotak penalti. Ia tidak jeli melihat posisi penyerang yang meminta bola. Salah satu momentum yang terbuang adalah ketika ia mendapat ruang cukup bebas dan melepaskan tembakan ke arah gawang. Tembakan yang sangat akurat. Sangat akurat ke pelukan Jack Bultand, kiper Stoke.
Jika lebih jeli dan sabar, Bellerin akan mendapati Alexandre Lacazette yang bebas. Juru gedor asal Prancis tersebut berhasil menjauh dari bek Stoke yang menempel dirinya. Ia berdiri hampir sejajar dengan tiang dekat, sehingga, jika mendapatkan bola cut back, Lacazette akan dengan mudah memilih sasaran, bisa ke tiang dekat atau ke tiang jauh.
Kesalahan memilih pemain, terbukti menjadi sebab terbuangnya momentum, yang bisa saja, mengubah jalannya laga.