Virus ala Bartomeu di tubuh Blaugrana
Di bawah kepemimpinan Bartomeu, Barcelona dituduh telah meninggalkan filosofinya selama ini. Akar-akar Barcelona yang telah diwariskan oleh mendiang Johan Cruyff mulai ditinggalkan. Kini, Barcelona bermain seolah-olah tanpa filosofi. Ini disebabkan oleh blunder sang presiden dalam penunjukkan pelatih.
Bersama Luis Enrique di musim pertamanya, Barcelona memang sempat mendapatkan treble, namun kesuksesan Enrique banyak dibilang karena pengaruh tridente Barcelona di lini depan yang saat ini sudah ditinggal salah satu anggotanya. Sesudah itu, Barcelona hanya mampu menembus Liga Champions sampai babak perempat-final, sementara rival abadinya mampu menjuarai trofi paling bergengsi di Eropa itu berturut-turut.
Usai kemunduran Enrique, Bartomeu merekrut nama Ernesto Valverde, nama yang kurang popular bagi cules di seluruh dunia. Profil Valverde dianggap kurang memenuhi standar Barcelona dan gaya main Valverde juga dianggap tidak sesuai dengan filosofi tim Catalan ini. Alih-alih membuktikan anggapan itu salah, Valverde justru “mendukung” anggapan itu.
Barcelona asuhannya langsung takluk secara berturut-turut dari Real Madrid. Kekalahan dari Madrid tentu adalah hal yang tabu bagi Barcelona, apalagi terjadi secara berturut-turut. Kejadian ini bisa saja terhindar, apabila Bartomeu merekrut pelatih yang kiranya lebih sesuai dengan profil Barcelona.
Yang teranyar tentu saja kasus Neymar dan Paulinho. Setidaknya, Bartomeu tentu mampu mencegah kepindahan Neymar dari awal apabila ia sadar akan situasi kontrak Neymar sedari awal. PSG mampu memanfaatkan celah itu dan Barcelona harus ditinggal oleh salah satu pemain intinya, yang juga salah satu pesepak bola terbaik di dunia saat ini.
Apabila Bartomeu dan bawahannya menyadari lebih cepat situasi Neymar, bukan tidak mungkin Neymar akan bertahan di Nou Camp untuk ke depannya. Yang lebih parahnya, sesudah mendapatkan dana segar hasil penjualan Neymar, yang Bartomeu dan kawan-kawan lakukan pertama kalinya adalah membeli Paulinho, gelandang berusia 29 tahun, dengan harga 40 juta euro.
Ya, Paulinho yang sama dengan eks pemain dari Tottenham Hotspur yang dijual dengan harga 14 juta euro ke klub Cina, Guangzhou Evergrande. Ibaratnya, Bartomeu tidak berusaha untuk memperbaiki namanya setelah menjual Neymar, namun malah semakin memperburuk dengan membeli Paulinho.
Ada rumor yang beredar, bahwa pembelian Paulinho hanya didasari oleh kepentingan bisnis belaka, namun rumor itu langsung dibantah melalui pernyataan resmi, sebuah usaha yang terkesan lebay. Memang, mungkin terlalu cepat untuk menilai Paulinho, tetapi tentu Barcelona mampu membelanjakan uangnya dengan lebih bijak. Bartomeu tentu memiliki andil dari dua kejadian terbaru ini yang membuat nilai Barcelona semakin turun di mata dunia.
Saat ini, di media sosial seperti Twitter, mulai beredar kampanye untuk menurunkan presiden Barcelona dari posisinya. Kampanye ini ditandai dengan tagar #BartomeuDimiteYa atau yang kurang lebih berarti “Mundur Sekarang, Bartomeu!”. Alih-alih menuruti desakan tersebut, sang presiden justru dibela oleh anak buahnya dan mengatakan bahwa kampanye itu datang bukan dari kalangan cules.
Ada baiknya kampanye itu digalakan dengan lebih gencar lagi, sebab, Bartomeu tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi untuk merusak Barcelona. Bartomeu telah mengubah Barcelona begitu jauh walaupun baru menjabat selama empat tahun, dari tim yang punya ciri khas dan filosofi sendiri, menjadi mesin pencetak uang. Sudah saatnya bagi cules seluruh dunia untuk bersatu dan memerangi virus yang merusak Barcelona, sebelum virus itu menjadi makin ganas dan mematikan.
Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket