Eropa Inggris

Memindai Lini Tengah Arsenal dan Mateo Kovacic sebagai Opsi

Mutualisme Arsenal dan Kovacic

Salah satu keuntungan Arsenal adalah bisa menawarkan menit bermain yang lebih banyak kepada Kovacic. Maklum, menit bermain gelandang asal Kroasia tersebut bersama Real Madrid begitu terbatas. Musim lalu, ia hanya bermain di 19 pertandingan dan lebih banyak mengawali laga dari bangku cadangan.

Angka tersebut terbilang sudah membaik ketimbang dua musim lalu, di mana ia hanya bermain di delapan pertandingan. Musim 2016/2017 yang lalu, Kovacic juga hanya bermain di dua pertandingan Liga Champions. Kembali, keduanya berawal dari bangku cadangan dan masuk ke lapangan ketika pertandingan memasuki tambahan waktu. Cukup memprihatinkan.

Memang memprihatinkan, meskipun bisa dimaklumi ketika Los Blancos punya tiga gelandang kelas elite dalam diri Toni Kroos, Casemiro dan Luka Modric. Maka, melihat situasi tersebut, The Gunners bisa mengambil keuntungan dengan menawarkan kesempatan lebih banyak untuk bermain bersama tim utama.

Dari sisi kualitas, gelandang yang baru berusia 23 tahun itu punya beberapa keistimewaan. Sebagai gelandang tengah, akselerasi dan kecepatannya cukup mengagumkan. Berbekal kecepatan, ditambah kemampuan menggiring bola yang mumpuni, Kovacic cukup sulit untuk dihentikan lawan. Kemampuannya menerobos lini lawan dengan teknik giringan adalah sebuah senjata.

Ketika berperan sebagai box-to-box, seperti Ramsey, Kovacic menunjukkan potensi yang besar. Musim lalu, ia hanya kalah dari Moussa Dembele dalam soal jumlah dribble dalam satu pertandingan, yaitu 3,2 per 90 menit. Dengan ciri khas permainan seperti itu, akurasi umpannya pun terbilang sangat baik, mencapai 91 persen setiap pertandingan.

Kovacic bisa menjadi pilihan dalam progresi Arsenal. Ketika tak bisa menggunakan Xhaka sebagai pusat, Arsenal bisa menggunakan kelebihan teknik menggiring Kovacic. Ia bisa menerobos lini lawan dan mencari ruang yang lega untuk melepas umpan, sekaligus membantu transisi menyerang Arsenal.

Hal yang sama dilakukan Cazorla di masa jayanya dulu sebelum cedera. Ia menahan bola di wilayah sendiri, mengundang lawan untuk menerjang dan melewatinya. Struktur lini tengah lawan yang rusak, bisa dimanfaatkan untuk sebuah penetrasi. Kelebihan ini bahkan tak dimiliki Ramsey. Gelandang asal Wales tersebut cukup ceroboh ketika harus ikut dalam proses membangun serangan mulai dari depan kotak penalti sendiri.

Ketika bermain sebagai gelandang bertahan (yang berdiri paling dalam), seperti Xhaka, rataan intersep eks pemain Internazionale Milano ini juga cukup tinggi. Kovacic mencatatkan rata-rata 5,73 takel per pertandingan, dengan tingkat kesuksesan yang memuaskan. Dalam progresi serangan, ia juga punya visi yang tajam. Kovacic bisa melupakan kebiasaannya menggiring bola dan melepaskan umpan yang akurat.

Untuk mendapatkan tanda tangan Kovacic, Arsenal perlu bersiasat. Sesuai nilai pasar yang dirilis oleh Transfermarkt, Kovacic dibanderol 25 juta euro. Mengingat kualitas dan statusnya sebagai penerus Modric di Madrid, mungkin Arsenal membutuhkan setidaknya 50 atau 60 juta euro untuk memboyong Kovacic ke Emirates Stadium.

Nilai tersebut tak terlalu tinggi, namun, Arsenal tentu harus menyelesaikan masalah dengan penjualan pemain terlebih dahulu. Jika tak bisa melepas pemain, maka Arsenal akan kesulitan mendatangkan pemain baru. Soal struktur gaji tentu menjadi masalah yang akan menghambat. Arsenal perlu bekerja lebih cepat untuk melego pemain yang ta dibutuhkan.

Namun satu yang pasti, melihat pindaian sekilas di atas, Kovacic adalah opsi yang masuk akal. Ia masih muda dan tentunya ingin selalu bermain. Sebuah situasi yang bisa dimanfaatkan Arsenal.

Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen