Kolom

Mendedah Transfer: Real Madrid yang Bersahaja

Hingga saat ini, klub yang hobi memecahkan rekor pembelian pemain termahal di dunia itu masih nampak adem ayem. Bersahaja. Bahkan setelah Florentino Perez kembali terpilih sebagai presiden Real Madrid untuk masa jabatan empat tahun ke depan.

Padahal biasanya, pemilihan presiden selalu diikuti dengan pembelian pemain bintang. Namun kali ini, Los Blancos belum menggebrak. Real Madrid nampak menahan diri, untuk kemudian menggebrak di waktu yang tak terduga.

Ya, Real Madrid yang nampak begitu tenang justru kabar buruk untuk banyak tim kaya lainnya di Eropa. Mengapa? Karena artinya, pemain mana saja yang tengah diincar, bisa saja juga turut didekati Madrid. Berapa pun dana yang disiapkan Paris Saint-Germain atau Manchester United, yakinlah, Madrid masih mampu menandinginya.

Hal itu sudah terbukti ketika saga Kylian Mbappe dan Arsenal berjalan begitu alot. Ketika proses tawar-menawar sudah melebihi 100 juta paun, tiba-tiba, Madrid masuk dalam bursa. Nama Madrid “diseret” oleh banyak media setelah Cristiano Ronaldo bermasalah dengan otoritas pajak Spanyol dan menyatakan ingin hengkang setelah Piala Konfederasi usai.

Berapa pun dana yang dimiliki Arsenal, Madrid akan dengan mudah menyediakan nilai yang serupa. Praktis, bersama Barcelona, Real Madrid adalah klub yang dapat dengan mudah mendapat pinjaman dana dari Bank Santander, bank milik pemerintah Spanyol. Meski nilai pinjaman besar, namun Madrid selalu bisa melunasinya.

Mbappe hanyalah satu contoh saja tentang kekuatan finansial Madrid. Lantas, dengan kantong yang begitu tebal, mengapa Madrid, dan terutama Zinedine Zidane, nampak begitu tenang mengarungi jendela transfer musim panas kali ini?

Setidaknya ada dua alasan yang bisa dirangkum.

Real Madrid

Skuat yang seimbang

Ketika berbicara Chelsea lewat artikel Mendedah Transfer: Edisi Chelsea, saya sempat menyebutkan bahwa salah satu kekuatan mereka adalah skuat yang seimbang. Maksudnya, baik sisi kreativitas ketika menyerang dan ketangguhan ketika bertahan terasa saling melengkapi. Kokoh, sekaligus mematikan.

Nuansa yang sama terasa dari skuat Los Merengues.

Bicara Madrid, artinya bicara lini tengah terbaik di dunia. Tak akan bosan saya menjelaskan bahwa trio Casemiro, Toni Kroos, dan Luka Modric adalah tiga gelandang yang akan selalu bisa menjamin kestabilan lini tengah. Casemiro, yang “lebih bertahan” pun juga berbahaya ketika naik menyerang. Toni Kroos dan Modric yang “lebih menyerang” juga tangguh ketika bertahan.

Lini tengah inilah yang membuat Zidane tak perlu berpikir terlalu rumit untuk musim depan. Yang perlu ia lakukan adalah memastikan bahwa Madrid punya pelapis yang sepadan untuk setiap trio andalannya di lini tengah. Perhatikan bagaimana “malu-malunya” Madrid menyatakan ketertarikan kepada Dani Ceballos.

Jika dipindai secara seksama, ketertarikan Madrid kepada Ceballos pun baru mekar ketika pemain Real Betis tersebut bermain mengilap di ajang Piala Eropa U21. Pun jika memikirkan klausul penjualan Ceballos yang “hanya” 15 juta euro, Madrid tak akan perlu waktu lama untuk menyediakannya. Dana 15 juta euro mungkin hanya terasa seperti “uang jajan” belaka untuk Madrid.

Madrid yang hati-hati adalah Madrid yang berbahaya. Artinya, mereka tak akan dengan mudah membelanjakan uang untuk membeli pemain. Madrid benar-benar menyaring calon pemain baru. Sehingga, siapa saja yang dibeli nanti, merupakan hasil proses berpikir yang luar biasa. Tujuannya jelas, tidak melemahkan tim.

Betul, membeli pemain, sejatinya adalah usaha untuk tidak membuat tim menjadi lebih lemah. Tentu, termin ini hanya berlaku untuk tim mapan seperti Madrid. Suporter Madrid tentu masih ingat dengan banyaknya pembelian sia-sia masa lalu. Ketika tim sudah cukup bagus, manajemen memboyong pemain hanya demi formalitas, gengsi dan bisnis belaka.

Untuk situasi yang bersahaja ini, suporter Madrid harus menaruh respect yang tinggi kepada Zidane. Manajer asal Prancis tersebut tidak dengan mudah menyerah dengan, misalnya, keinginan manajemen untuk mendatangkan pemain bintang. Zidane ingin pemain baru nanti hanya akan membuat Madrid tetap “seimbang”.

Previous
Page 1 / 2