Kolom

Steven Gerrard, Dilema Sebuah Loyalitas

Dua bulan setelah resmi meninggalkan Liverpool, Steven Gerrard meluncurkan otobiografinya, September 2015. Banyak pihak mengira pemain yang akrab disapa Stevie G itu bakal menuliskan rangkaian kisah suksesnya sejak bergabung dengan akademi Liverpool pada usia delapan tahun hingga 17 musim karier profesional di Liga Primer Inggris.

Buku Steven Gerrard: My Story dibuka dengan catatan singkat penulis dan dilanjutkan dengan prolog yang terasa sangat manusiawi, melankolis, dan penuh curahan hati. Semua terasa berbeda 180 derajat dengan sikap Gerrard yang tegas dan keras di atas lapangan. Gerrard, dengan segala kebintangan dan kemapanannya, memilih buku sebagai sarana meluapkan kejujuran sekaligus permintaan maaf.

Slipping Away, itulah judul prolog dari buku keduanya ini. Melihatnya saja, orang-orang langsung bisa merujuk pada insiden terlepesetnya sang kapten pada laga penentuan kontra Chelsea di akhir musim 2013/2014 yang berujung kegagalan Liverpool meraih trofi liga pertama sejak era Liga Primer.

“Umpan sederhana diarahkan ke saya yang berada di tengah lapangan. Saya bergerak menjemput bola, namun malah meluncur di antara kaki saya. Saya lalu terpeleset dan terjatuh. Chelsea kemudian melancarkan serangan dan dengan sepenuh hati saya coba mengejar Demba Ba seakan itu jadi penentu hidup. Dia cetak gol dan saya tahu, insiden tadi sangat merugikan,” tulisnya.

Tak ada pembelaan, seakan semua beban memang sudah seharusnya diarahkan kepadanya. Semusim setelahnya, Gerrard memutuskan hijrah dari Anfield dan usai lebih dari setahun di Los Angeles Galaxy, dia pensiun, dengan status salah satu gelandang terbaik Inggris yang tak pernah meraih trofi liga.

Baca juga: Antara Raisa-Isyana dan Gerrard-Lampard

Sampai kapanpun, ironi trofi liga tetap melekat pada diri Gerrard. Namun bukannya menghindar, dia malah memilih untuk jujur apa adanya. Dan soal trofi liga, pemain bernama lengkap Steven George Gerrard itu sejatinya bisa dengan mudah merengkuhnya dalam dua kesempatan berbeda.

Musim 2003/2004, tawaran dari tim tajir baru kala itu, Chelsea sempat mampir. Kebimbangan sempat melandanya lewat pernyataan, “Untuk kali pertama sepanjang karier, saya memikirkan kemungkinan pindah.” Namun, Gerrard akhirnya memilih bertahan di Liverpool di bawah asuhan manajer anyar, Rafael Benitez per musim panas 2004.

The Reds memang sukses dibawa Gerrard jadi juara Liga Champions 2004/2005 usai melakoni apa yang disebut salah satu final dramatis sepanjang sejarah, kontra AC Milan. Namun pada musim yang sama, Chelsea berhasil jadi juara Liga Primer Inggris. Berselang empat tahun atau tepatnya Maret 2009, tawaran lain sempat hadir. Tak tanggung-tanggung, ketertarikan datang dari klub raksasa Spanyol, Real Madrid.

Usai Liverpool menang 4-0 atas Madrid di Anfield pada laga Liga Champions, Gerrard, seperti diungkap Jamie Carragher, dirayu Raul Gonzalez untuk hijrah ke Santiago Bernabeu musim panas mendatang. Namun lagi-lagi Stevie G memilih untuk tetap setia bersama The Reds. Semusim setelahnya, Los Blancos sukses mempertahankan trofi La Liga.

Loyalitas Gerrard untuk Liverpool memang tak perlu dipertanyakan lagi. “Saya sempat ingin menduetkannya dengan Andrea Pirlo, sebuah kombinasi fantastis. Kami lantas mendekatinya, tapi keterikatan Gerrard dan Liverpool tak bisa digugat,” kenang Carlo Ancelotti kala melatih AC Milan.

Steven Gerrard, merupakan satu dari segelintir pemain yang memilih loyalitas dan dikenang sebagai legenda, alih-alih hijrah ke klub lain hanya untuk mengejar trofi. Kini dia bakal menjalani petualangan baru untuk mewujudkan impian raih trofi liga dengan kapasitas sebagai manajer, yang dimulai dengan menangani tim yang tetap sama, Liverpool U-18.

Selamat ulang tahun, Kapten Fantastik!

Author: Perdana Nugroho
Penulis bisa ditemui di akun Twitter @harnugroho