Uncategorized

Kapan Timnas Indonesia Bisa Lancar Membangun Serangan?

Sebelum memulai artikel ini, saya perlu menjelaskan di awal bahwa saya baru benar-benar mengikuti kiprah timnas Indonesia sejak Piala AFF (dulu Piala Tiger) 2004. Dan gaya permainan yang bisa saya ingat dari timnas kita, baru dimulai sejak tahun 2004 sampai saat ini. Jadi untuk membatasi topik andaikata muncul pro dan kontra tentang artikel ini, tolong jangan bandingkan dengan permainan timnas kala Sea Games 1991 di Manila, karena saya belum lahir di tahun itu.

Oke? Mari kita mulai.

Tahun 2004 adalah perkenalan awal saya dengan timnas Indonesia. Bertahun-tahun sebelumnya, saya sudah aktif mengikuti sepak bola, namun memang belum intens. 2004 itu membekas di memori lebih karena faktor Boaz Solossa. Dari skuat PON Papua hingga meluncur mulus menjadi penggawa timnas senior di usia yang masih sangat belia.

Tapi bagi saya pribadi, skuat timnas favorit saya dengan komposisi pemain dan gaya bermain yang enak ditonton, adalah skuat Piala Asia 2007 asuhan Ivan Kolev dan skuat Piala AFF 2010 asuhan pria Austria yang sepertinya ditakdirkan untuk terikat erat dengan sepak bola Indonesia, Alfred Riedl.

Seingat saya, di 2007, timnas turun dengan formasi 4-3-3, mengingat kita masih menikmati kejayaan Budi Sudarsono dan Ellie Aiboy untuk mendampingi Bambang Pamungkas sebagai tridente lini depan kita.

Di 2010, sebenarnya kita tengah menikmati komposisi skuat yang cukup kompeten dan lengkap. Dua pemain naturalisasi, Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales sudah membela timnas. Di pos sayap, Riedl punya Muhammad Ridwan di kanan dan Oktovianus Maniani di kiri, yang secara luar biasa tampil baik di turnamen itu.

Selain itu, Riedl juga memasukkan sayap kanan Arema Malang, juara Liga Indonesia tahun itu, Arif Suyono, yang menjadi pelapis Haji Ridwan. Dengan komposisi seperti itu, pakem 4-4-2 yang dipakai Riedl tampak efektif sebelum hancur lebur di Bukit Jalil kala itu.

Masalahnya, walau dua skuat timnas di 2007 dan 2010 adalah yang terbaik versi saya, permasalahan utamanya adalah timnas masih juga gagap dalam upaya memulai serangan dengan rapi. Acapkali timnas memainkan bola-bola daerah yang panjang, memanfaatkan kecepatan para pemain sayapnya. Ini sebenarnya bukan masalah besar dan perlu diperdebatkan berlebihan, tapi mengingat setelah bertahun-tahun kita masih menggunakan cara itu dan tetap gagal membawa hasil, tandanya ada yang salah, bukan?

Era baru Luis Milla di timnas Indonesia pun masih dihiasi cara-cara seperti itu. Kecepatan dua sayap timnas U-22, Saddil Ramdani dan Febri Hariyadi, masih dijadikan tumpuan sebagai satu-satunya cara menyerang pertahanan lawan. Sesekali itu berhasil, tapi selama 90 menit laga, tidak mungkin menggunakan opsi itu sebagai satu-satunya cara, bukan?

Itulah kenapa alih-alih menemukan opsi mendobrak pertahanan lawan, menurut saya, timnas baiknya mulai diajarkan untuk nyaman dan piawai membangun serangan dari bawah.

Kawan saya, sekaligus salah satu pelatih sepak bola muda Indonesia, Naufal Aziz, pernah bilang bahwa yang terpenting dalam permainan sepak bola adalah sejauh mana timmu bisa membangun serangan setidaknya sampai garis tengah lapangan dulu. Itu dulu saja, tidak perlu muluk-muluk sampai dengan cara menembus sepertiga akhir wilayah lawan.

Membangun serangan, atau istilah modernnya, build-up, itu adalah hal terpenting untuk ditanamkan dalam pola pikir pemain. Kita jarang menemui tim-tim lokal kita memainkan penguasaan bola yang bertujuan untuk membangun serangan perlahan sedari bawah dengan lancar. Padahal, itu hal penting. Dengan mereka mampu membangun serangan secara rapi, itu akan menjadi titik awal bagaimana timmu akan berprogresi dalam menyerang pertahanan lawan.

Membangun serangan itu bukan perkara bermain umpan pendek belaka, tapi lebih kepada pemosisian pemain dalam skema untuk build-up. Di skuat timnas U-22 ini, materi pemain kita sebenarnya berpotensi untuk diajarkan cara membangun serangan dengan baik. Ada Hansamu Yama Pranata, Hanif Sjahbandi dan Evan Dimas yang memiliki kualitas mengumpan cukup baik. Yang perlu dipikirkan selanjutnya, bagaimana bola dari kiper, bisa dialirkan ke pemain belakang dan setelahnya, mampu digunakan sebagai platform untuk membangun serangan, setidaknya agar mampu mencapai garis tengah lapangan. Itu dulu.

Walau terkesan mudah, ini sebenarnya cukup kompleks. Pemain perlu diajarkan bagaimana mereka menempatkan posisi sebagai bagian dari proses build-up serangan timnya. Pemain perlu sadar bahwa terlepas dari role mereka di lapangan, mereka harus tahu bahwa pemosisian penting agar timnya tidak macet kala membangun serangan. Dan kalau timnya macet, umpan panjang lagi-lagi menjadi opsi. Sekali lagi, itu tidak salah, tapi kalau mengumpan ke depan tanpa tujuan pasti dan dilakukan berulang-ulang lantas gagal, itu bisa berimbas buruk terhadap psikis pemain. Singkatnya, mendorong mereka untuk cepat frustasi karena gagal mengalirkan bola.

Saya rasa Luis Milla paham betul cara mengajarkan membangun serangan dengan baik, hanya saja itu perlu upaya intens untuk terus ditanamkan dan diajarkan kepada anak asuhannya. Hemat saya, alih-alih mencanangkan target meraih emas SEA Games atau mengembangkan akademi pemain muda, cara paling mudah saat ini ya mengajarkan berulang-ulang ke pola pikir pemain di timnas sekarang upaya untuk nyaman dan fasih mengalirkan bola sebagai proses membangun serangan.

Ini terkesan sepele, namun ketika pemain tahu pentingnya build-up sebagai bagian dari permainan sepak bola modern, mereka akan sadar bahwa bermain sepak bola itu menyenangkan dan mudah, andai mereka tahu cara yang baik dan benar. Menurut saya, masih sering gagalnya timnas kita membangun serangan dengan rapi adalah salah satu faktor kenapa kita kalah 1-3 kala melawan timnas Myanmar (21/3) lalu.

Tanpa lelah saya perlu menekankan bahwa bermain umpan-umpan panjang langsung ke depan itu tidak salah. Sam Allardyce dan Tony Pulis sering memainkan pola tersebut dan keduanya cukup sukses, walau tak terbilang sukses besar. Tapi kalau sering memainkan umpan panjang berkali-kali ke depan tanpa tujuan yang jelas, itu sekilas mencerminkan ambisi sepak bola nasional kita. Ingin cara cepat dan instan untuk mencapai sesuatu, namun seringkali cara instan itu bukan cara terbaik. Sama seperti umpan panjang yang seringkali dilepaskan langsung ke depan sebagai cara tercepat mencapai pertahanan lawan, walau tak sepenuhnya salah, kita semua tahu pola seperti itu sudah bertahun-tahun tidak memberi kita gelar juara.

Isidorus Rio
Editor Football Tribe Indonesia