Kolom Eropa

Addio, Claudio

Tetapi belakangan ini, saya tentu saja telah mendengar keriuhan dari berbagai penjuru dunia. Tidak mungkin untuk dihiraukan. Saya mendengar bahwa kami bahkan telah mempunyai banyak penggemar dari Amerika. Kepada Anda, saya ucapkan: Selamat datang di klub (Leicester City). Kami bahagia mempunyai Anda. Saya ingin Anda mencintai cara kami bermain sepak bola, dan saya ingin Anda mencintai pemain-pemain kami, karena kisah mereka begitu menakjubkan.

Kalimat di atas adalah penggalan surat terbuka yang Claudio Ranieri tulis di The Players Tribune (6/4/2016). Situsweb tersebut adalah platform di mana para atlet dapat menyampaikan sesuatu dari sudut pandang personal kepada publik.

Belum genap setahun setelah mengharubiru dunia olahraga, Ranieri resmi dipecat Leicester, menjadikan pria Italia itu sekian dari banyaknya korban dari sebuah dunia gemerlap bernama sepak bola.

A fairytale, a cinderella story, the Italian job dan dari sekian tajuk, hingga berujung pada satu kepastian: Leicester dan Ranieri kembali dibangunkan dari tidur berkepanjangan. Tidur yang dihiasi mimpi bahwa para pecundang dapat pula menaklukkan hati seorang putri. Mimpi yang tak akan berani dikhayalkan oleh siapa pun yang tahu dirinya bagian dari kaum sudra.

Hey, bukannya dalam hidup, kita mesti bermimpi, agar terpacu untuk lebih giat berusaha?

Ya, tetapi Leicester bukan Liverpool. Bukan sepak bola yang membuat kota mereka masuk dalam peta dunia olahraga. Rugbi lebih mendominasi lewat kedigdayaan Leicester Tigers. Dan bukankah tugas awal Ranieri hanyalah mempertahankan Leicester di Liga Primer Inggris? Agar tak lagi menjadi klub yoyo?

Semua tim di Liga Primer Inggris tentu ingin pula merasakan kejayaan Leicester, tetapi omong kosong kiranya jika klub seperti Crystal Palace atau Sunderland menargetkan juara di awal musim. Keep on dreaming, but it’s the hopes that will kill you. Untuk sepertiga klub yang ada, meraih tiket ke Liga Europa sudah dianggap seperti juara.

Ini adalah klub yang sejak era Premier League bergulir hanya mampu menjadi klub yoyo. Naik turun dari satu kasta ke kasta kompetisi lain. Baru pada 2010 silam keluarga Srivaddhanaprabha membeli saham mayoritas klub. Siapa yang akan mengira jika investasi tersebut akan menjadi durian runtuh enam tahum berikutnya?

Andai saja mereka tak jadi juara, katakanlah hanya menjadi runner-up musim lalu, penampilan Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan rekan-rekan tak akan seloyo saat ini. Terkadang, kesuksesan menjadi ilusi, seorang pria yang telah memiliki pacar cantik tetap saja akan melirik perempuan lain. Dan seperti itulah kiranya yang terbayang di benak mereka.

Ini bukan semata-mata soal taktik. Keberhasilan mempertahankan kedua superstar berimbas pada buruknya performa yang mereka keluarkan di musim baru. Setinggi apa pun orang-orang di Leicester memimpikan klub mereka sebagai klub besar, Leicester takkan mampu mengulangi peristiwa di musim lalu.

Pemain tahu betul tentang hal itu, maka yang mereka lakukan sekarang hanyalah menunggu musim selesai agar dapat kembali menggoda klub-klub lain untuk membeli mereka di musim depan.

Persetan dengan loyalitas. Ini sepak bola modern, bung dan nona!

Dari sekian banyak pemain sepak bola profesional di Eropa, hanya sedikit yang kemudian melanjutkan karier di dunia yang sama. Sepak bola bukanlah profesi yang mengenal uang pensiun atau royalti. Mereka, Danny Drinkwater dan kawan-kawan, paham bahwa kesuksesan musim lalu hanya menjadi CV belaka jika tak segera pindah ke klub yang lebih mengilap.

Ini bukan semata persoalan ketatnya persaingan di liga. Bukan semata karena nilai belanja yang digelontorkan klub-klub kaya di bursa transfer. Ini soal motivasi. Sejarah telah membuktikan bahwa klub-klub yang dapat menjuarai Liga Inggris adalah mereka yang telah memiliki riwayat panjang di blantika sepak bola.

Chelsea dan Manchester City mungkin bisa menjadi anomali. Tetapi, sudah sebodoh itukah kita untuk membandingkan pengeluaran Srivaddhanaprabha dengan Roman Abramovich atau Sheikh Mansour?

Peristiwa ini adalah sebuah monumen keangkuhan sepak bola:

‘Anda bisa saja membawa kami juara, tetapi jika setelah lewat paruh musim kami masih berada dekat dengan zona degradasi, mohon maaf, silakan kemasi koper Anda.’

‘Apa Anda bilang? Kami hanyalah klub semenjana dan sudah menjadi juragan yang tak tahu diuntung? Maaf. Kami tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.’

Ranieri bukan Manuel Pellegrini ataupun Roberto Mancini. Apa yang Ranieri perbuat adalah sebuah upaya mendobrak batas paling spektakuler yang telah kita saksikan di dunia olahraga. Baik Pellegrini maupun Mancini dibekali skuat bernilai ratusan juta paun.

Ada ekspektasi yang melonjak tinggi saat Anda menaiki mobil mewah, bukan? Bangku yang halus nan empuk atau manuver-manuver mulus, misalnya. Leicester bukanlah Cadillac. Leicester cuma Volvo butut warisan mertua yang syukur-syukur bisa Anda gunakan di acara piknik keluarga.

Dunia gempar. Peristiwa ini telah membuat orang seperti Jose Mourinho untuk tampil simpatik lewat unggahannya di Instagram:

“CHAMPION OF ENGLAND and FIFA MANAGER of THE YEAR.sacked.

Thats the new football claudio.keep smiling AMICO. nobody can delete the history you wrote.”

Maaf Jose, ini bukan tentang diri Anda. Satu unggahan di media sosial tidak akan membuat kami lupa bahwa Anda orang pertama yang menjuluki Ranieri pecundang sesaat setelah Anda mendapat jabatan di Chelsea. Skuat yang Anda punya saat pertama kali menjuarai Liga Primer, Anda warisi dari si pecundang itu.

Pemecatan ini seperti ingin menyatakan kembali nasib Ranieri: si nomor dua, sang terlupakan. Betapa jalan yang ia tempuh adalah jalan yang sunyi.

Pria ini adalah orang yang musim lalu menghendaki agar timnya bisa cleansheet, lalu mengajak seluruh tim untuk pesta pizza dan membuatnya bersama-sama. Jika ada lagi teknik manajemen tim yang menyenangkan dan efektif seperti ini, katakan saja. Tapi rasa-rasanya mustahil.

Leicester bukan Arsenal, tim yang dengan santai mempertahankan pelatih yang sudah dirasa ketinggalan zaman. Klub London itu memiliki riwayat, kekuatan finansial dan tradisi raksasa, sementara Leicester liliput. Sebanyak apapun olok-olok yang diperoleh Arsene Wenger, ia memiliki hal yang tidak dipunyai Ranieri: keberlanjutan atau sustainability.

Ranieri adalah sosok yang telah mampu mengangkat harkat Leicester dari sekadar catatan kaki sejarah sepak bola Inggris. Leicester dibawanya memuncaki beratus tajuk berita dari seluruh dunia.

Tidak bisa tidak, inilah tragedi. Mengutip Bubin Lantang, “Selesai sudah apa yang seharusnya belum dan takkan pernah selesai.”

Baru pada 7 Februari lalu, belum lewat satu bulan, Leicester memberi pernyataan kepada publik bahwa mereka sepenuhnya mendukung Ranieri: “The entire club is and will remain united behind it’s manager.”

Yeah, right.

Prestasi beralih menjadi ambisi. Ambisi, kita tahu, adalah saudara kandung keserakahan. Leicester telah disulapnya secepat kilat, namun secepat itu pula direksi klub dan para pemain melupakan magis yang Ranieri ciptakan.

Addio, Claudio.

Terima kasih untuk keajaiban yang kau berikan sembilan bulan yang lalu.

Author: Fajar Martha
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com