Suara Pembaca

Senjakala Karier Bojan Krkic

Bojan Krkic pernah mengungkapkan kepada The Guardian, Mei 2018 silam: “Aku akan selalu mencintai sepak bola…dan aku tak berniat untuk berhenti bermain.” 

Hari ini, ungkapan tersebut terdengar ironis. Bojan memang tidak berhenti bermain, akan tetapi ia memutuskan hengkang dari Stoke City untuk bergabung dengan Montreal Impact, klub Kanada yang belum terdengar familiar di telinga kebanyakan penggemar bola. Ia memutuskan merumput di MLS saat usianya masih 29 tahun.

Sejauh ini, ia belum mengungkapkan alasan kepindahannya. Melalui akun Twitter pribadinya, ia hanya menghaturkan ucapan terima kasih yang emosional kepada suporter The Potters yang memberinya dukungan tak bersyarat selama lima tahun kariernya di Inggris. 

“Fans The Potters selalu ada di saat-saat buruk dan menyenangkan, menawarkanku kasih sayang, sesuatu yang sangat kuhargai dan tidak akan pernah kulupa,” tulisnya.

Karier yang berliku

Menjadi lulusan La Masia tak menjamin kecemerlangan karier Bojan di kemudian hari. Yang menjadi batu sandungannya adalah, di antaranya, perbandingannya dengan Leo Messi hingga tekanan dari media massa.

Bojan tidak bermain buruk selama merumput bersama Puyol dkk. Ia mencetak 41 gol dan 19 asis dari total 163 penampilan bersama Blaugrana. Ia merengkuh trofi LaLiga 3 kali dan Liga Champions 2 kali.

Ia juga memperoleh rekor pribadi, pemain termuda Barcelona yang bermain di LaLiga. Ia mengawali debutnya di liga ketika berusia 17 tahun 19 hari saat menghadapi Osasuna. Beberapa hari kemudian ia mencatat rekor sebagai pemain termuda Los Cules yang bermain di Liga Champions.

Baca juga: Ansu Fati dan Para Pencetak Gol Termuda Sepanjang Sejarah LaLiga

Namun, semakin tinggi pohon, semakin besar pula anginnya. Kehadiran Leo Messi di tim utama tampak seperti mimpi buruk baginya. Di awal kariernya, ia sering dijuluki “The New Messi”. Walau terdengar seperti pujian, itu justru membuatnya tertekan. Setiap orang berekspektasi tinggi padanya. 

Di tahun 2011, Bojan hengkang ke AS Roma sebelum dipinjamkan ke AC Milan kemudian dipulangkan lagi ke Blaugrana. El Barça lalu meminjamkannya ke Ajax di tahun 2013.

Timnas Spanyol dan ansietas

Pada saat Fernando Hierro hendak memanggilnya untuk bergabung dengan skuat La Furia Roja di ajang Piala Eropa 2008, Bojan menolaknya. Ia mengaku kalau ia ingin berlibur, padahal dia sedang mengalami ansietas (anxiety).

Media massa memperparah kondisi ini. Keesokan harinya, Bojan mengaku, terdapat headline berita yang berbunyi: Spanyol Memanggil Bojan dan Bojan Mengatakan Tidak.

Headline tersebut membunuhku, seakan-akan aku tidak peduli (pada timnas Spanyol). Aku ingat ketika di Murcia dan orang-orang mencaciku. Mereka tidak tahu. Mereka pikir aku enggan bermain untuk timnas,” aku Bojan.

Tekanan tersebut membuat ansietas Bojan makin intensif dan malah menimbulkan efek fisiologis. Dia merasa “pusing, ingin muntah terus-terusan selama 24 jam.” Karena memutuskan untuk tidak bermain di Piala Eropa, Bojan merasa harus mengisolasi diri.

Baca juga: Ketika Wayne Rooney Kembali ke Tahun 2008…

Malam yang hujan dan dingin di Stoke

Pada usia 23 tahun, Bojan hijrah ke Stoke. Tapi, mampukah dia bermain di malam yang hujan dan dingin di Stoke?

Statistik menunjukkan, selama lima tahun berseragam The Potters, Bojan berhasil mencetak 14 gol dan 2 asis dalam 53 penampilan di Liga Primer Inggris. Ia juga mencetak 1 gol dari 21 penampilan di ajang Championship (Stoke terdegradasi dari EPL di akhir musim 2017/2018). Bisa disimpulkan karier Bojan di Inggris tidak mentereng.

Walau begitu, tampaknya gelimang trofi bukanlah yang Bojan cari di tanah Britania, melainkan ketenangan pikiran. Ia menginginkan sepak bola yang ‘murni’.

“Terdapat sebuah ungkapan: ’Fútbol, qué bonito eras’ (sepak bola, betapa indahnya engkau) jauh sebelum ada media sosial, ketika sepak bola adalah sepakbola…Dan itulah yang aku dapatkan di Inggris,” ungkap Bojan.

Di Stoke, ia tampak tentram dan bisa jatuh cinta pada sepak bola lagi. Terlebih lagi, ia mendapatkan kasih sayang dari suporter. 

Hal tersebut tercermin dari tweet perpisahannya dengan Stoke pada 6 Agustus 2019 lalu, sewaktu dia menghaturkan terima kasih kepada penggemar The Potters. Bagi Bojan, dukungan mereka merupakan “the most important thing”. Ia menulis caption: “Thank you, Potters fans!”

Respon para penggemar pun penuh cinta. Seorang penggemar berkomentar “Aku telah melihat Stoke bermain sepak bola yang bagus dengan kehadiranmu di posisi false 9”. Penggemar lain memuji Bojan sebagai “salah satu pemain yang secara teknis paling berbakat yang pernah bermain di klub ini”, dan ungkapan-ungkapan mengharukan lainnya. 

Namun pada usianya yang masih 29 tahun, Bojan memutuskan untuk merantau ke Kanada dan berkompetisi di MLS. Apa itu keputusan tepat?

Baca juga: Wan Kuzain bin Wan Kamal, Pemain Malaysia Pertama yang Berlaga di MLS

MLS selalu identik dengan pemain-pemain yang sudah mendekati masa pensiun. Sepak bola Amerika tampak seperti tempat “perhentian” bagi pesepak bola Benua Biru. Ironis jadinya karena setahun lalu Bojan bilang bahwa ia “tidak ada niatan untuk berhenti.”

Keputusannya mungkin tidak tepat bagi kita, tapi mungkin tepat bagi Bojan. Dari segi teknis, bermain di MLS pada usia 29 memang agak janggal; tapi siapa tahu alasan Bojan bersifat personal mengingat tekanan mental dalam riwayat kariernya selama ini. 

Kita masih belum mengetahui alasan kepindahannya. Barangkali Bojan menyembunyikannya atau masih belum mau terbuka untuk mengungkapkannya. Mungkin dua atau tiga tahun dari sekarang ia baru mau menjelaskannya, seperti ia baru menjelaskan alasan tidak bergabungnya dengan skuat Spanyol di Piala Eropa 2008 sepuluh tahun kemudian.

Hingga tulisan ini dibuat, Bojan sudah tampil sebanyak 10 kali bersama Montreal Impact: 8 penampilan di MLS dan mencetak 3 gol, 2 lainnya di ajang Canadian Championship di mana ia ikut berkontribusi membawa klubnya menjuarai piala tersebut untuk keempat kalinya. Montreal memenangkan trofi setelah unggul adu tembakan pinalti melawan sang juara bertahan, Toronto FC.

 

*Penulis adalah penggemar berat FC Barcelona. Bukan kidal tapi mampu menyepak bola dengan kaki kiri karena terinspirasi oleh Leo Messi. Bisa disapa di akun Twitter @pratamaesque