Cerita

Persikad Depok, Alat Perjuangan yang Pernah Ditelantarkan

Melalui sepak bola yang sangat populer, keberadaan klub sepak bola dirasa akan otomatis mengangkat eksistensi Kota Depok. Dari pemikiran tersebut kemudian lahir Persikad (Persatuan Sepak Bola Kota Administrasi Depok).

Pada tahun 1990 Drs. H. Yuyun Wirasaputra mulai membangun Persikad dengan tujuan mengembangkan talenta muda sepak bola lokal kotanya. Namun di baliknya terdapat misi rahasia, “makar” dari Kabupaten Bogor. Maklum saja, sebelumnya banyak talenta sepak bola kota Depok yang menjadi kekuatan kota-kota di sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, misi rahasia terlaksana. Namun bukan hanya sepak bola Depok yang merdeka, tapi juga Depok yang memisahkan diri dari kabupaten Bogor. Depok berdiri menjadi Kota Madya Daerah Tingkat II sejak 27 April 1999.

Setelah statusnya meningkat menjadi Kota Madya, pembangunan mulai gencar dilakukan di kota yang terlelak di selatan Jakarta, termasuk di bidang olah raga. Persikad yang mulai berkembang pun lagi-lagi dijadikan alat perjuangan pemerintah kota. Dikisahkan Badrul Kamal, kepala pemerintahan kala itu, Persikad menjadi salah satu media sosialisasi meningkatnya status kota Depok.

Baca juga: Menanti Rumah Baru untuk Persikad Depok

“Dalam sejarahnya, pada saat Depok sebagai Kota Administratif kemudian meningkat menjadi Kota Madya, maka sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah kota antara lain melalui Persikad.”

Kala itu Persikad menjalani pertandingan ke berbagai kota di Jawa Barat. Serigala Margonda membawa misi sosialisasi sekaligus mulai merangkak di sepak bola nasional. Dalam perjalanannya Serigala kebanggaan masyarakat Depok melolong di Liga Indonesia.

“Pada saat itu kita merangkak dari bawah, pertandingan dari satu kota ke kota lain. Dari Bogor, Sukabumi, ke Cianjur, terus yang pada akhirnya sampailah di Divisi 1 Persikad yang pada saat itu sungguh merupakan kebanggaan.”

Final Divisi 1 tahun 2007 menjadi capaian tertinggi Serigala Margonda. Sayangnya di pertandingan yang berlangsung di Stadion Manahan Solo, Persikad harus menyerah kalah dari Persibo Bojonegoro dengan skor tipis 1-0.

Sebagai finalis Divisi 1 Persikad berpeluang masuk ke Divisi Utama musim berikutnya. Sayangnya, PSSI mengubah regulasi dari Liga Indonesia menjadi Liga Super Indonesia. Perubahan tersebut membuat Persikad gagal untuk berkancah di kasta teratas liga Indonesia. Saat itu, hampir seluruh masyarakat Depok kecewa atas kenyataan yang harus mereka terima.

Meski sempat kecewa, namun Srigala Margonda terus melangkah bersama suporter setianya. Dengan nama-nama besar semisal Yusuke Sasa, Ortizan Solossa, Jean-Paul Boumsong, hingga Muhammad Roby, Persikad konsisten di Divisi Utama. Kompetisi yang menjadi kasta kedua setelah hadirnya Liga Super Indonesia.

Baca juga: Ortizan ‘Sajojo’ Solossa, Legenda yang Tak Bisa Lepas dari Sepak Bola

Sayangnya, meski terus berada di Divisi Utama, ada borok yang tak kunjung sembuh. Semenjak memasuki era sepak bola profesional, masalah finansial selalu menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung terselesaikan.

Semenjak diakuisisi oleh PT. Persikad pada 2009 dan Pemkot Depok tidak lagi mengurusi, krisis terjadi. Di saat itulah Edy Joenardi hadir dan membeli separuh saham PT. Persikad. Kehadiran Edy memberikan angin segar. Sempat muncul wacana Edy akan memboyong bintang Persija Jakarta ke kota penyangga ibu kota. Namun semua hanya wacana dan masalah finansial belum juga menemukan solusinya.

Kabar duka datang Jumat siang, 20 Februari 2015. Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi disebut telah mengakuisisi Persikad Depok. Bukan hanya mengakuisisi, Pemkab Purwakarta kabarnya juga mengubah sejarah Persikad Depok. Saat itu, nama Persikad Depok berubah menjadi Persikad Purwakarta.

Kabar tersebut sekaligus menimbulkan kekecewaan bahkan kemarahan Depok Mania (Suporter Persikad). Klub yang menjadi alat perjuangan, harus hilang sejarahnya.

Idris Abdul Shomad yang menjadi wali kota menggantikan H. Nur Mahmudi Ismail, sempat membawa harapan untuk publik sepak bola kotanya. Idris mengembalikan Persikad untuk bermain di kota asalnya. Stadion Merpati yang selama ini menjadi kandang juga mulai direnovasi untuk menghadapi kompetisi.

Baca juga: Persikad Depok: Menanti Raungan Serigala Margonda di Kancah Sepak Bola Nasional

Sayangnya semua proses tidak berjalan mulus. Dualisme pun terjadi. Dualisme ini menjadi lanjutan carut-marut yang melibatkan berbagai pihak dan kepentingan yang terjadi sebelumnya.

Kali ini pihak Adi Gunaya yang berkonflik dengan manajemen Persikad pimpinan Acep Ashari dan Lilik Nugroho. Adi Gunaya menilai Persikad yang kini bernaung di bawah PT. Persikad Paricara Dharma dianggap Adi belum memenuhi kesepakatan seperti pelunasan hutang serta tunggakan gaji pemain.

Namun Acep Ashari dan Lilik Nugroho mendapat dukungan Walikota Depok. Mohammad Idris Abdul Shomad, menyataan bahwa Acep dan Lilik adalah pemilik sah Persikad.

Konfik kepentingan yang terus bergulir berimbas langsung pada Persikad. Serigala Margonda yang seharusnya berkandang di Stadion Merpati, harus terusir jauh dengan alasan stadion tidak dapat dipergunakan karena dianggap belum lolos verifikasi.

Dengan semua masalah pelik yang menyertai, Persikad Depok akhirnya terdegradasi dari Liga 2 musim 2017 dan harus bermain di Liga 3. Tidak selesai sampai di sana, Serigala Margonda kembali terjual dan berganti nama menjadi Bogor FC.

Kini, dengan tekad dan semangat suporter setia yang menginginkan kota Depok kembali memiliki kebanggaan, lahirlah Serigala Margonda yang baru. Persikad dengan tambahan 1999 di belakang namanya. Persikad 1999 yang diharapkan akan mengembalikan kejayaan sepak bola kotanya. Klub sepak bola yang akan berjuang meneruskan sejarah pendahulunya. Dan yang pasti klub ini akan dikelola dan tidak akan terjual kembali.

Baca juga: Persikad 1999, Serigala Margonda yang Baru

“Karena satu dan lain hal Persikad akhirnya keluar dari Kota Depok. Saya secara pribadi pada saat itu sunguh sangat menyesal. Namun apa boleh buat, proses perjalanan waktu seperti itu, namun alhamdulillah pada saat sekarang ini ada Persikad versi baru yang akan di-launching dengan tambahan yaitu Persikad 1999,” ujar Badrul Kamal, dalam sambutan launching Persikad 1999.

“Saya punya keyakinan. Bahwa persikan yang akan di-launching pada saat sekarang ini, tidak akan kalah dengan Persikad sebelumnya,” tutup Bapak Sepak Bola Kota Depok.