Cerita

Salah Kaprah Rainbow Laces Di Liga Primer Inggris

Rainbow laces secara harafiah berarti tali sepatu berwarna-warni seperti pelangi. Rainbow laces adalah salah satu cara yang dilakukan Liga Primer Inggris untuk ikut mengkampanyekan kesetaraan hak bagi kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender). Namun kerap kali terjadi salah paham yang terjadi atas kampanye yang sudah dilakukan otoritas liga sejak 2016 silam.

 

Baca Juga: Sepak Bola, Orientasi Seksual, dan Kesetaraaan

 

Bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia yang dirayakan pada 1 Desember lalu, para pemain dari seluruh klub yang berlaga di Liga Primer mengenakan atribut berwarna-warni layaknya pelangi mulai dari tali sepatu hingga ban kapten. Di dunia sosial pun kampanye ini juga ditandai dengan berubahnya foto profil akun Liga Primer Inggris dan sejumlah klubnya berlatarkan warna pelangi. Tagar #RainbowLaces juga mulai digaungkan otoritas liga.

Namun selain mendapat dukungan, banyak pula kritik yang ditujukan kepada kompetisi terbaik sejagad ini. Dilansir dari Pink News ada banyak pesan bernada homofobik yang masuk ke akun media sosial Liga Primer dan klub-klub yang mendukung gerakan ini. Mulai dari komentar “Say No to LGBT” di laman Facebook resmi Liga Primer yang mendapat perhatian dalam bentuk 4.000 likes hingga celotehan “sepak bola untuk laki-laki, bukan untuk gay” oleh salah seorang warga maya saat Manchester City mengganti foto profil media sosial mereka.

Lantas bagaimana kita menyikapi gerakan ini? Karena nampaknya masih ada salah kaprah pada gerakan ini. Jika kita teliti Liga Primer sebenarnya menekankan aspek kesetaraan bagi kaum LGBT untuk menikmati sepak bola sebagaimana mestinya.

 

Sejarah Rainbow Laces dan Bagaimana Kita Mengambil Sikap Terhadap LGBT

Pada November 2017 dalam rilis di situs resminya Liga Primer Inggris mengadakan kerja sama selama tiga tahun dengan Stonewall, sebuah badan amal yang memperjuangkan hak-hak kaum LGBT yang berbasis di Inggris. Nama Stonewall sendiri diambil dari peristiwa kerusuhan Stonewall yang terjadi pada akhir Juli 1969 di Manhattan, New York.

Lebih lanjut dikatakan bahwa Liga Inggris mendukung Stonewall untuk mempromosikan keseteraan kaum LGBT di dalam sepak bola, dimana keduanya sepakat untuk memberanikan dan menerima kaum LGBT dalam bermain, mendukung klub atau bekerja baik di dalam maupun luar lapangan. Executive Chairman Liga Primer Inggris, Richard Scudamore, juga mengatakan bahwa Liga Primer adalah liga yang terbuka untuk semua orang.

“Liga Primer adalah liga sepak bola untuk semua orang dimana pun, dan klub-klub kami berkomitmen untuk mendukung kesetaraan dan perbedaan di segala level dalam olahraga,” pungkasnya dilansir dalam situs resmi Liga Inggris.

Lantas apakah otoritas Liga Inggris, termasuk seluruh orang yang terlibat di dalamnya, mendukung gerakan ini? Apakah gerakan ini berarti meng-halal-kan gerakan LGBT, jika dibenturkan dengan istilah digunakan orang-orang Indonesia yang sangat agamis?

Pertama-tama sejatinya tidak serta-merta juga jika kita melakukan gerakan Rainbow Laces ini sebagai bentuk meng-halal-kan gerakan LGBT. Dan perlu ditekankah bahwa gerakan ini mengajak kita untuk tidak mendiskriminasi kaum LGBT karena mereka memiliki kesempatan sama menikmati sepak bola. Karena sejatinya olahraga adalah sesuatu yang bias gender.

Alih-alih masalah orientasi seksual, jelas masalah kemanusiaan yang hendak diangkat oleh Liga Primer Inggris dan Stonewall. Jadi, jika kita bisa berdamai dengan perempuan (dalam sepak bola), mengapa tidak dengan para LGBT?

 

Baca Juga: Sepak Bola, Media Sosial dan Pelecehan Seksual

 

View this post on Instagram

I recognise fully why people wear poppies, I totally respect everyone’s right to do so and I have total sympathy for anyone who has lost loved ones due to conflict. However, for me it is only a reminder of an attack that I felt personally as a young, frightened 12-year old boy living in Vrelo, as my country was devastated by the bombing of Serbia in 1999. Whilst I have done so previously, on reflection I now don't feel it is right for me to wear the poppy on my shirt. I do not want to undermine the poppy as a symbol of pride within Britain or offend anyone, however, we are all a product of our own upbringing and this is a personal choice for the reasons outlined. I hope everyone understands my reasons now that I have explained them and I can concentrate on helping the team in the games that lie ahead.

A post shared by Nemanja Matic (@nemanjamatic) on

Tetapi apakah dengan tidak melakukan atau menolak kampanye ini seseorang dapat ditunduh sebagai homofobik? Mengacu pada kampanye yang merupakan sikap umum otoritas liga dan klub-klub yang bernaung di bawahnya, bisa jadi tidak semua orang di dalamnya pun tidak setuju untuk melakukan kampanye ini, sah-sah saja karena itu adalah pilihan pribadi.

Menarik melihat contoh beberapa waktu lalu saat Rememberance Weeks, dimana Nemanja Matic enggan menempelkan stiker bunga poppy di seragamnya karena pilihan pribadinya untuk tidak merayakan pekan berkabung Perang Dunia I tersebut.

Namun Matic juga tak serta-merta melakukan ujaran kebencian di dunia maya seperti para netizen, alih-alih memaki ia tetapi menyatakan respek sebesar-besarannya dalam pemaknaan penggunaan bunga poppy di seragam pemain dan ofisial Liga Inggris.

Jika kita memiliki sikap pribadi untuk tidak mendukung gerakan Rainbow Laces, lebih baik kita tidak mencaci-maki Liga Primer atau bahkan memboikotnya. Pun tidak memalingkan wajah dan tangan kita sebagai sesama manusia. Ya begitulah pelangi, akan indah jika kaum heteroseksual dan homoseksual bisa hidup berdampingan tanpa saling menggangu dan saling mendukung.

#footballisforveryone