Cerita

Sudah Waktunya Persebaya Surabaya Pecat Alfredo Vera

17 pertandingan yang sudah dimainkan seluruh kontestan Go-Jek Liga 1 2018 menjadi pertanda bahwa putaran pertama kompetisi telah dilalui. Sayangnya rapor salah satu tim promosi, Persebaya Surabaya, justru kurang memuaskan dalam periode ini. Lazim rasanya jikalau sang pelatih, Angel Alfredo Vera, dibombardir dengan kritikan pedas.

Dibebani target finis di papan atas kendati berstatus pendatang baru, Bajul Ijo melakukan pembenahan cukup masif sejak kompetisi belum bergulir. Beberapa pemain yang diyakini sebagai permintaan langsung Vera kepada manajemen, mulai dari Osvaldo Haay, Otavio Dutra sampai Robertino Pugliara, didatangkan ke kota Pahlawan.

Alih-alih bermain ciamik, Pugliara dan kawan-kawan malah memperlihatkan aksi yang begitu inkonsisten. Dari 17 pertandingan yang sudah dijalani, catatan menang-seri-kalah Persebaya ada di angka 5-7-5, sehingga koleksi poin mereka saat ini baru berjumlah 22. Alhasil, mereka pun harus terjerembab di peringkat 13 (sampai tulisan ini dibuat) dan terancam relegasi.

Paling aktual, tim asuhan Vera gagal memetik poin sempurna ketika menjamu Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo, kemarin malam (26/7). Beroleh dukungan masif dari suporter setianya, Bonek, Bajul Ijo tumbang dengan skor tipis 3-4.

Bermain dengan skema ofensif dan amat mengandalkan penguasaan bola, kelemahan Persebaya dalam mengantisipasi serangan balik betul-betul dimaksimalkan oleh kubu Maung Bandung guna memberondong jala Miswar Saputra.

Makin tragis, kekalahan dari Persib adalah yang kedua bagi Bajul Ijo dalam dua pekan pamungkas. Sebelumnya, mereka pun takluk di tangan PSIS Semarang (22/6) via skor tipis 0-1.

Situasi buruk macam ini tentu menyulut amarah Bonek yang selama ini begitu militan dalam memberi dukungan. Saat manajemen coba membangun kemandirian perihal tata kelola klub dan mulai menjadikan Bonek sebagai customer yang mendatangkan keuntungan ekonomi lewat kartu keanggotaan resmi, pembelian tiket serta merchandise asli, kesetiaan mereka tidak tergoyahkan.

Berkaca dari kondisi tersebut, sungguh pantas jikalau Bonek mengkritik habis-habisan pihak manajemen dan pelatih tatkala menyaksikan laju klub kesayangan mereka terseok-seok.

Benar jika membangun sebuah tim yang kokoh bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam tempo semalam. Akan tetapi, melihat Persebaya terus memamerkan performa seperti ini juga sungguh menyebalkan.

Mungkin kita sudah tak bisa menghitung lagi berapa pertanyaan yang diarahkan kepada Vera terkait kebijakannya yang selalu merotasi pemain di seluruh partai yang dilakoni Persebaya. Ya, di 17 pertandingan, starting eleven Bajul Ijo selalu berbeda!

Dipandang dari sisi manapun dan dengan alasan apapun, hal seperti ini jelas teramat ganjil. Bisa-bisanya pelatih sekaliber Vera bersikukuh untuk melakukan rotasi di setiap laga. Terasa makin aneh, sistem rotasi tersebut acapkali menepikan pemain inti yang selalu jadi andalan kendati sedang dalam kondisi bugar.

Terbaru, Pugliara yang selama ini jadi otak permainan Persebaya dari lini tengah, justru dicadangkan Vera kala bersua Persib, meski sang pemain tak memiliki problem kebugaran.

Akibatnya, permainan Bajul Ijo terkesan tanpa imajinasi dan monoton sepanjang babak pertama. Ketika Pugliara masuk di babak kedua, perubahan nyata pun terlihat tapi sial, semuanya terlambat karena Maung Bandung sudah unggul jauh.

Ibarat guyonan yang berulang-ulang dan semakin memuakkan bila ditukas terus, kejadian semacam ini pun terus menghiasi mata Bonek. Wajar kalau mereka kemudian bertanya tentang kapabilitas pria berusia 45 tahun itu dalam meramu strategi.

Mengapa hal serupa senantiasa muncul di setiap laga Persebaya?

Andai bekas pembesut Persela Lamongan dan Persipura Jayapura itu berkilah bahwa semuanya demi kebutuhan taktik ataupun siasat guna meminimalisasi dampak absennya sejumlah penggawa akibat cedera, Bonek pun bisa membantah dengan jika Vera tak ubahnya pembohong belaka. Pasalnya saat kondisi para pemain inti fit atau tidak terjerat akumulasi kartu, kebijakan rotasi nyeleneh itu tetap dijalankannya.

Di sisi lain, kurang primanya keadaan fisik penggawa Persebaya yang sering dihantam cedera, juga bikin Vera pantas dimintai pertanggungjawaban. Seperti apa metode latihan yang ia gunakan selama ini? Terlalu beratkah atau justru kelewat ringan? Kok selalu saja ada pemain yang mengalami cedera (terlepas dari jadwal yang padat atau panasnya tensi sebuah laga). Mesti diakui bahwa keadaan ini sangat tidak ideal.

Bagaimana mungkin ikut ‘berperang’ dan memenanginya ketika para serdadu tempur bertumbangan?

Hingga saat ini, posisi Persebaya di papan klasemen memang jadi yang terbaik di antara tiga tim promosi (dua klub lainnya adalah PSIS Semarang di peringkat 16 dan PSMS Medan di dasar klasemen).

Walau begitu, rasa tidak puas perihal inkonsistensi Pugliara dan kawan-kawan, akan terus menggelegak di dada Bonek. Tak perlu kaget jika mereka mulai meneriakkan kalimat “Alfredo Vera Out!” secara lantang sebagai ungkapan kekecewaan dan kegeraman.

Manajemen Persebaya wajib mengevaluasi pencapaian mereka di paruh pertama musim ini. Kinerja Vera kudu diamati dan dinilai secara seksama. Pun begitu dengan sosok-sosok lain yang bercokol di tubuh Bajul Ijo, baik para pemain sampai manajer tim!

Bila mengecewakan, mereka pun harus mengakuinya secara jantan. Bonek tidak butuh kalimat ‘pencuci mulut’ yang menyatakan bahwa semua baik-baik saja sebab realitanya, klub kesayangan mereka sedang sakit dan perlu perawatan intensif.

Kalau ingin sembuh dan sehat, ‘penyakit’ yang ada di dalam tubuh Persebaya harus diobati atau dihilangkan sekalian. Tak boleh ada perlakuan setengah hati bagi ‘penyakit-penyakit’ itu, lebih-lebih membiarkannya berkembang dan menggerogoti tim dari dalam. Jika Vera adalah satu dari sekian ‘penyakit’ tersebut, maka basmilah sekarang juga!