Kolom

Thomas Müller, Sang Penjelajah Ruang Sekaligus Penerjemah Mimpi

Sudah diakui secara universal bahwa Thomas Müller adalah pesepak bola yang paling aneh dan paling misterius. Müller sudah terkenal dengan julukan der Räumdeuter, atau secara harfiah diterjemahkan sebagai ‘penjelajah ruang’.  julukan tersebut terinspirasi dari der Traumdeuter atau ‘penerjemah mimpi’.

Pengamat sekaligus esais, Travis Timmons, baru-baru ini berusaha menjelaskan fenomena pemain tim nasional Jerman tersebut melalui hasil perenungannya selama ini. Müller memang bukan hanya memaksa para pengamat, tapi juga para filsuf dan pemikir dalam mencoba memahami penampilanya di lapangan hijau.

Timmons telah tertarik kepada Müller sejak Piala Dunia 2010. Namun, seperti jutaan orang lain di dunia ini, ia tidak pernah memahami cara bermainnya. Pemain berusia 28 tahun ini bukan pemain biasa. Penampilannya cenderung transenden; simplistik, tapi mengasyikkan. Selalu dibutuhkan sudut pandang baru untuk menjelaskan sekaligus mengapresiasi paradoks sang ‘penjelajah ruang’.

Fenomena Müller sebagai teka-teki adalah titik awal diskusi tentang pesepak bola. Selama di bawah asuhan Pep Guardiola, ia berkembang dalam skema permainan berbasis penguasaan bola yang bisa dikata sebuah ‘ekosistem ofensif’. Ekosistem ini memungkinkan der Räumdeuter untuk bermain dengan optimisme dan oportunisme yang lebih besar dari sebelumnya. Dengan kata lain, Pep membantu Müller menjadi versi upgrade dari dirinya sendiri.

Peranan Müller dalam skema menyerang ditafsirkan senada dengan peran Adolfo Pedernera, Nayor Hidegkuti, Alfredo di Stefano, Michael Laudrup, Francesco Totti, Andrea Pirlo, dan tentu saja Lionel Messi. Para pemain ini selalu diberi kebebasan untuk berkeliaran dan menemukan ruang. Bukan hanya itu, mereka juga leluasa menentukan waktu mereka sendiri yang akhirnya mengganggu skema permainan lawan. Dalam peran ini, Müller selalu bisa dimainkan di ketiga posisi “garis depan” (kiri, tengah, dan kanan).

Dalam pengejawantahan peran Müller, Louis van Gaal adalah pelatih pertama yang mengetahui bahwa potensi terbaik sang pemain adalah beroperasi di sisi sayap kanan. Selanjutnya, Pep mengizinkan Müller bebas memanfaatkan ruang, berkaca dari pengalamannya di Barcelona dengan Messi.

Kini, di belakang ruang yang sudah terbuka lebar oleh sang ujung tombak Robert Lewandowski, Müller sangat berkembang di Bayern München. Di bawah Carlo Ancellotti dan yang terakhir Jupp Heynckes, Müller masih besar masih memegang peran ini, seperti yang bisa Anda lihat dari aksi-aksinya di musim ini dan musim lalu.

Meskipun wakil kapten Bayern ini selalu berkeliaran di sepertiga akhir lapangan, ia masih lebih banyak berorientasi di sisi kanan. Namun, pada prakteknya, posisi sang pemain sulit dijabarkan, mengingat kemampuannya untuk beraksi sebagai ‘hantu’ yang muncul dan menghilang dari posisinya. Pergerakannya juga kerap tak tertangkap kamera. Singkatnya, Müller selalu bergerak di sayap kanan, sebelum pindah ke ruang yang lebih sentral, yaitu masuk ke kotak penalti lawan. Setidaknya, ini adalah kecenderungan umum, seperti dijelaskan para komentator dalam setiap pertandingan Bayern.

Namun, sedetail apapun Timmons menjabarkan penjelasan posisi pemain ini, pengalaman unik menonton Müller benar-benar fenomena tersendiri. Pemain ini memang bermain sepak bola dengan cara yang sangat sulit diingat. Ia bukanlah pelari tercepat di skuat Bayern, tapi kemudian muncul paradoks di mana ia memainkan sepak bola lebih cepat daripada pemain Bayern lainnya. Kemampuan membaca permainan lebih baik dari pada pemain lain-lah yang menasbihkan Müller menjadi der Räumdeuter.

Müller selalu bermain dengan inteligensia tinggi. Ia selalu melakukan hal yang tepat, dengan cara yang tepat, pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, untuk alasan yang tepat. Kemampuan ini menjadi kompensasi atas kurangnya sisi atletis dari postur dan kecepatannya. Ini terlihat pada musim 2017/2018 ketika Müller mencetak gol dengan bicycle kick pada pertandingan melawan Darmstadt. Caranya memutar tubuh (waktu yang tepat), dadanya menyentuh bola lalu melepas tembakan (cara yang benar), lalu gol (tempat dan alasan yang tepat)!

Timmons lalu menghubungkan Müller dengan teori filsuf Martin Heidegger, seperti ditulis di bukunya, ‘Being and Time’ (1927). Pertama, Heidegger menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada ruang yang benar-benar kosong, sebagaimana sebelumnya dikemukakan filsuf dan matematikawan abad ke-17, Rene Descartes. Sebaliknya, Heidegger meyakini konsep ruang sebagai media yang sudah ada sebelumnya, terisi setelah adanya pengalaman manusiawi yang menjalaninya.

Timmons membagi konsep penjelajahan ‘ruang’ Heidegger menjadi directionality (pencarian arah) dan de-distancing (pengaturan jarak). Dalam hal ini, Müller tidak terpaku pada ‘apa yang telah terjadi’ atau ‘kemungkinan yang akan terjadi’ yang pasti dipikirkan oleh para pemain lain. Sebaliknya, naluri temporal Müller menempatkannya di masa sekarang. Ia mengalami penjelajahan ruang yang berbeda dari orang lain dalam sepak bola modern.

Artinya, kemampuan Müller untuk ‘mengalami’ ruang juga dipengaruhi oleh nalurinya mengukur waktu. Seperti digambarkan oleh Heidegger; Müller justru lebih membayangkan situasi di masa sekarang, karena nalurinya tidak menyempit menjadi masa lalu atau masa depan saja. Maka, pemain genius ini bukan hanya menjelajahi ruang kosong. Ia juga ‘menciptakan ruang’ (Raüm-Einnehmen), yang berarti ia selalu bermain-main dengan kemungkinan.

Demikianlah, Müller akan selalu identik dengan kegeniusan gaya bermain yang efektif dalam memanfaatkan ruang. Julukan “Der Räum-Einnehmen” memang kurang catchy dibandingkan der Räumdeuter, tapi justru lebih akurat. Ah, tapi apalah arti nama julukan saja? Lebih penting bagi kita untuk meikmati aksi-aksi der Räumdeuter di sisa musim 2017/2018 dan Piala Dunia 2018.

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)
Mahir Pradana adalah pencinta sepak bola yang sedang bermukim di Spanyol. Penulis buku ‘Home & Away’.