Dunia Amerika Latin

Robinho, Ramalan Pelé yang Meleset

“Dia adalah penerusku,” kata Pelé di tahun 1999, ketika Robson de Souza alias Robinho masih berusia 15 tahun. Sebuah kalimat pertanda apresiasi atas kemampuan Robinho di atas lapangan. Jago dribel, tajam di depan gawang, dan lihai menciptakan peluang. Paket komplet dari satu pemain, dan ingat: usianya masih 15 tahun!

Tiga tahun kemudian, Pelé semakin percaya kalau Brasil telah menemukan “dirinya yang baru”, saat Robinho membawa Santos menjuarai Campeonato Brasileiro Série A, yang diulangnya kembali di tahun 2004. Kebetulan, Santos juga merupakan klub yang membesarkan nama Pelé.

Cocok sudah. Sama-sama bermain di Santos, berposisi penyerang, dengan gaya bermain yang mirip.

Kehebatan yang membuat mata Real Madrid melirik pada Robinho, dan rela merogoh kocek hingga 24 juta euro hanya untuk seorang pemain yang masih berusia 21 tahun dan belum memiliki pengalaman merumput di Eropa. Saking spesialnya, Robinho bahkan diberikan nomor punggung 10 yang sebelumnya dipakai Luís Figo.

Adakah keraguan yang mengiringinya saat itu? Pasti ada. Adakah aura pesimisme para penonton yang mengikutinya selama bertanding? Tentu ada. Robinho pun di musim pertamanya bersama El Real hampir selama separuh musim menjadi pemain cadangan. Namun, segalanya berubah sejak musim keduanya La Liga.

Robinho melesat, membantu Real Madrid menjuarai liga domestik, yang kembali diulangnya di musim berikutnya, 2007/2008. Jika ditotal, saat itu Robinho sudah mengoleksi empat gelar juara liga hanya dalam tempo enam tahun!

Salah menyebut Manchester dengan Chelsea

Musim 2007/2008 adalah musim yang membanggakan, mengesalkan, sekaligus menggelikan bagi Robinho. Di Real Madrid, selain gelar juara yang diraihnya, secara individu ia menjadi pemain tersubur ketiga di belakang Raúl Gonzalez dan Ruud van Nistelrooy, kemudian menjadi pemain dengan torehan asis terbanyak kedua setelah Guti Hernandez.

Sebuah pencapaian yang luar biasa, yang semakin membuka lebar jalannya untuk menjadi The Next Pelé. Namun, di bursa transfer muncul selentingan kabar bahwa Real Madrid hendak menjual Robinho untuk ditukar dengan Cristiano Ronaldo. Rumor yang membuatnya kesal, apalagi saat itu negosiasi kontrak dengan Madrid menemui jalan buntu.

Hingga akhirnya, di hari penutupan bursa transfer musim 2008/2009, Robinho resmi berganti seragam biru langit ala Manchester City. Lucunya, ketika diwawancarai reporter, Robinho salah menyebut nama Manchester dengan Chelsea.

“Di hari terakhir, Chelsea datang dengan tawaran besar, dan langsung aku terima,” ujar Robinho

“Maksud Anda Manchester?” tanya si reporter.

Dengan menahan rasa malu, Robinho pun mengakui kesalahannya dengan menjawab. “Ya, Manchester. Maaf.”

Memang, saat itu Robinho juga sempat didekati Chelsea, bahkan Peter Kenyon selaku direktur Chelsea sempat mengatakan kalau Robinho hampir pasti bergabung dengan The Blues. Namun, tepat di hari penutupan Robinho mendadak berpindah haluan menuju sisi biru Manchester, untuk bereuni dengan dua rekan senegaranya, Jô dan Elano Blumer.

Scudetto yang menjadi akhir ramalan

Dua tahun menetap di Inggris, tak ada titel prestisius yang diraihnya, dan Robinho malah sempat pulang kampung ke Santos dengan alasan agar lebih banyak mendapat menit bermain. Sebab, saat itu ia berhasrat menembus skuat inti Brasil di Piala Dunia 2010.

Sekembalinya ke City, Robinho justru meminta dijual, dan AC Milan pun datang dengan tawaran senilai 18 juta euro, lagi-lagi di hari penutupan bursa transfer. Robinho pun menyetujuinya, dan pindah ke San Siro untuk memenangkan Scudetto musim 2010/2011, titel juara liga terakhir yang belum dapat diulangi Milan hingga saat ini.

Meski demikian, justru sejak itulah karier Robinho semakin merosot. Ia sempat kembali lagi ke Santos dengan status pinjaman karena mengaku homesick, kemudian setelah dilepas Milan ia bertualang ke berbagai klub mulai dari Guangzhou Evergrande, Atlético Mineiro, dan yang terbaru, Sivasspor di Liga Turki, sebelum didakwa melakukan kekerasan seksual yang mengancamnya dengan hukuman penjara.

Robinho memang bukan termasuk wonderkid gagal, bukan pula pemain yang kuncup sebelum berkembang. Namun, senja karier yang sangat jauh merosot dari awal ketenaran dirinya di lapangan hijau membuktikan bahwa ramalan Pelé telah meleset.

Atau mungkin juga, kalimat Pelé di pembuka artikel ini ternyata belum lengkap, dan sebenarnya berbunyi “Dia adalah penerusku, di usia 20-an tahun.”

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.