Turun Minum Serba-Serbi

Tahun 2017 Milik 11 Pemain Ini

Narasi kebangkitan selalu menarik untuk dinantikan, terutama bagi pesepak bola yang pernah terpuruk dan menjadi bahan rundungan media. Tahun 2017 yang lalu, ada 11 pemain yang bekerja begitu keras untuk menghaluskan jalan karier yang tadinya penuh gelombang. Sebuah pengingat dan inspirasi bagi mereka yang akan menatap 2018 dengan keterpurukan sebagai kawan menenggak anggur.

Dalam bentuk formasi 4-3-3, salah satu formasi populer dalam dua tahun terakhir, inilah mereka yang menantang diri sendiri dan menyambut kesempatan dengan antusiasme tinggi:

 

Sven Ulreich (penjaga gawang)

Cedera adalah karib pesepak bola. Musibah ini tak memandang status. Manuel Neuer misalnya, kiper Bayern München ini harus menepi selama enam bulan, hingga Maret 2018, dan terancam tak bisa tampil di Piala Dunia. Sebagai pengganti, Bayern memercayakan gawang kepada Sven Ulreich, yang sebelumnya seperti menjadi cadangan abadi Neuer.

Ulreich pun mengakui secara terbuka bahwa menggantikan Neuer bukan pekerjaan yang mudah. Karena ketika kebobolan, banyak orang yang akan berpandangan bahwa jika Neuer, gol itu pasti bisa dicegah. Namun, Ulreich membuktikan diri. Sampai 17 pertandingan yang sudah dilakoni, jumlah kebobolan Bayern baru 11 gol. Kerja Ulreich sudah sangat baik.

 

Kepercayaan diri Vermaelen

Thomas Vermaelen (bek tengah)

Sama seperti Ulreich, bek asal Belgia ini mendapatkan kesempatan bermain ketika Barcelona krisis bek tengah karena cedera. Vermaelen, yang banyak absen karena cedera, justru menjadi rekan duet Gerard Pique yang seimbang. Vermaelen begitu tenang ketika menguasai bola, dan tak membuat kesalahan mendasar. Ketika Vermaelen tampil, El Barca belum pernah kalah.

 

Langkah Gabriel bersama Valencia

Gabriel Paulista (bek tengah)

Nama Paulista begitu lekat dengan blunder ketika masih memperkuat Arsenal. Cedera, kesulitan beradaptasi, dan kesempatan bermain yang minum membuat bek asal Brasil ini tak berkembang. Kariernya, penampilannya, seperti berubah 180 derajat ketika bergabung bersama Valencia. Paulista adalah wajah kebangkitan Valencia itu sendiri yang sempat terpuruk selama dua musim terakhir.

 

Sergi Roberto (bek kanan)

Posisi aslinya adalah gelandang sentral. Namun, Sergo Roberto jarang mengecewakan ketika mendapatkan tanggung jawab bermain sebagai bek kanan. Kedatangan Nelson Semedo tak membuat Sergi lari dari persaingan. Pemain asal Spanyol ini sadar bahwa akan cukup sulit bersaing di lapangan tengah Barcelona. Solid, pintar, dan penuh vitalitas, Sergi Roberto memberi rasa aman di sisi kanan Barcelona.

 

Fabian Delph (bek kiri)

Seperti Sergi Roberto, bek kiri asal Inggris punya posisi asli sebagai gelandang sentral. Fabian Delph, sejak bergabung bersama Manchester City, tak pernah menjadi material tim utama. Bahkan, musim panas yang lalu, nama Delph sudah masuk ke dalam daftar jual. Kariernya berubah 180 derajat ketika Benjamin Mendy cedera dan Pep Guardiola tak punya lagi opsi bek kiri.

Eksperimen Guardiola yang menempatkan Delph sebagai bek kiri sukses besar. Delph punya pemosisian diri yang sangat baik dan jarang kehilangan bola. Kemampuannya bermain umpan pendek dan kecerdasan mengambil waktu yang tepat untuk masuk ke lapangan tengah memberi dimensi yang berbeda untuk City. Bukan tak mungkin, Mendy, yang kembali dari cedera harus bekerja keras untuk mendapatkan tempatnya kembali.

 

Javi Martinez (gelandang)

Bek asal Spanyol ini bisa bermain di dua posisi sama baiknya, yaitu bek tengah dan gelandang sentral (bertahan). Pergantian pelatih, dari Carlo Ancelotti ke Jupp Heynckes membuat Javi Martinez semakin banyak mendapatkan kesempatan bermain. Apalagi, ketika Xabi Alonso pensiun, Javi menjadi jembatan dari lini belakang Bayern ke lini depannya. Sebagai gelandang bertahan, Javi sangat disiplin, jarang membuat pelanggaran yang tak perlu, dan punya daya tahan terhadap pressing lawan.

 

Paulinho

Paulinho (gelandang)

Karier Paulinho adalah narasi sempurna tentang membalikkan prediksi dan membuktikan para haters sudah sangat salah. Paulinho dianggap bukan pemain yang cocok untuk Barcelona. Bahkan ia dianggap tak pantas menyandang label transfer hingga nilai 40 juta euro.

Bersama Ernesto Valverde, pelatih baru yang juga diragukan, kedua insan ini justru menjadi kekuatan tak terduga dari Barcelona. Paulinho menghadirkan kekuatan fisik yang sempat hilang dari lini tengah dan depan El Barca. Enam gol dan dua asis adalah pembutian yang terang bahwa Paulinho adalah bagian penting bagi Barcelona.

 

De Bruyne akan diberi kesempatan untuk berlibur

Kevin De Bruyne (gelandang)

Memang, musim lalu, tak ada keterpurukan yang menghampiri jalan karier Kevin De Bruyne. Memasukkan namanya adalah pendapat pribadi penulis.

Begini. Musim ini, seiring Manchester City yang sementara ini tak terbendung, De Bruyne adalah pemain penting di tengah kebangkitan anak asuh Guardiola tersebut. Gelandang asal Belgia tersebut makin konsisten. Bermain sedikit ke tengah sebagai free #8, De Bruyne di jalan yang benar untuk menggapai puncak performa. Hasil kerja keras, fokus, dan keinginan untuk terus berkembang.

 

kiprah Ciro Immobile

Ciro Immobile (penyerang)

Sudah sejak paruh akhir musim lalu, Ciro Immobile bangkit dengan gemilang. Ketajamannya, yang sempat lesap ketika memperkuat Sevilla dan Borussia Dortmund, sudah kembali. Musim lalu, dari 36 penampilan, Immobile mencetak 23 gol. Dan musim 2017/2018 ini, dari 17 penampilan, penyerang asal Italia ini sudah mencetak 16 gol dan 8 asis. Catatan yang sungguh manis dari penyerang yang sempat diperkirakan sudah habis.

 

Valencia mencatat tujuh kemenangan beruntun

Simone Zaza (penyerang)

Karier Zaza tak menentu. Mungkin, ia terlalu sering berganti klub. Ketika melejit bersama Sassuolo, Zaza lalu bergabung bersama Juventus. Tak berkembang, Zaza dipinjamkan ke West Ham United, lalu ke Valencia. Awal bergabung bersama Valencia, karier Zaza pun belum secermelang saat ini. Salah satu titik terendah dalam kariernya adalah ketika gagal mengeksekusi penalti dengan ancang-ancang yang ikonik itu ketika memperkuat Italia.

Peruntungannya berubah. Lebih fokus, Zaza dipermanenkan Valencia. Bersama kebangkitan Kelelawar Mestalla, ketajaman Zaza kala memperkuat Sassuolo kembali bangun. Dari 15 penampilan musim ini, Zaza sudah mencetak 10 gol. Catatan yang apik di tengah La Liga, di mana perebutan papan atas cukup ketat.

 

penyerang tua-tua keladi

Fabio Quagliarella (penyerang)

Quagliarella baru saja melewati masa-masa mencekam dalam hidupnya, ketika dengan terbuka ia berbicara soal stalker yang mengancam kehidupannya. Bahkan, Quagliarella pernah mendapat ancaman pembunuhan. Semuanya berawal ketika ia hengkang dari Napoli untuk bergabung dengan Juventus. Ia mendapat cap pengkhianat.

Tak berhenti sampai di situ, Quagliarella juga dituduh sebagai seorang paedofil dan punya hubungan dengan mafia Italia. Diterpa stres berat, performa penyerang berusia 34 tahun tersebut anjlok. Bangkit dari situasi stres adalah pekerjaan yang sangat berat untuk beberapa orang. Namun, Quagliarella berhasil keluar dari badai itu dengan selamat.

Musim ini, kehidupannya berubah setelah bergabung bersama Sampdoria. Quagliarella menemukan kembali kebahagiaan bermain sepak bola. Ia lepas dari penderitaan akibat tuduhan palsu. Dari 18 penampilan, Quagliarella membuat 10 gol. Meski Sampdoria belum konsisten di Serie A, namun Quagliarella sudah menemukan kembali kebahagiaannya. Dan terkadang, kebahagiaan itulah yang paling penting.

Daftar 11 pemain di atas adalah murni pendapat pribadi dari penulis. Bagaimana, apakah Anda setuju? Atau punya calon pemain lain yang lebih pantas? Mari kita diskusikan.

Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen