Nasional Bola

Mengapa Kerja Sama Umbro dan Barito Putera Terasa Manis?

Siang hari kemarin (19/10), saya agak sedikit terkejut ketika melihat sebuah kabar yang menyatakan bahwa apparel top asal Inggris, Umbro, sudah menandatangani kesepakatan dengan klub asal Banjarmasin, Barito Putera, untuk menjadi sponsor apparel resmi mereka yang baru per musim depan.

Konon, apparel beken yang pernah dan sedang menjadi partner beberapa klub-klub top Eropa seperti Internazionale Milano, Liverpool, PSV Eindhoven, Schalke, dan Werder Bremen ini, telah meneken perjanjian kolaborasi selama tiga tahun dengan tim asuhan Jacksen F. Tiago.

Jujur saja, keputusan Umbro untuk menggandeng Laskar Antasari sebagai klien baru merupakan sebuah langkah yang positif. Situasi ini membuktikan jika klub-klub sepak bola di tanah air masih punya nilai jual tersendiri di mata sponsor, walau kompetisi di Indonesia sering berjalan dengan tidak semestinya.

Terlebih, Umbro juga sudah memiliki level tinggi dan masuk ke dalam jajaran apparel ternama di planet ini. Dari kerja sama ini sendiri, setidaknya ada dua asumsi yang bisa dikemukakan sehingga membuat segalanya terasa manis. Apa saja?

Asumsi pertama

Resminya Umbro meneken kerja sama dengan Barito Putera adalah sinyal bahwa produsen olahraga top yang satu ini semakin serius berkiprah di Indonesia. Melalui serangkaian riset dan evaluasi, mereka akhirnya memantapkan langkah untuk terjun di kancah sepak bola Indonesia yang mengandung risiko tinggi.

Disadari atau tidak, hal inilah yang sering jadi batu sandungan apparel-apparel ternama untuk melangkah lebih jauh dalam industri sepak bola nasional. Ketakutan terhadap sejumlah masalah yang kerap membelit kompetisi di Indonesia menjadi salah satu alasan mengapa brand-brand ternama enggan menyeriusi langkah mereka.

Karena bagaimanapun juga, segala hal yang terjadi di kompetisi nasional, lebih-lebih yang negatif dan merugikan banyak kalangan, akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi para sponsor.

Sederhananya, bila masih banyak kasus yang terjadi di kancah sepak bola nasional, sponsor mana yang mau ‘menjual dirinya’ via sepak bola Indonesia? Jika sepak bola Indonesia ingin memikat apparel-apparel beken lainnya, menciptakan iklim sepak bola yang sehat merupakan hal yang absolut.

Asumsi kedua

Di tengah geliat klub-klub sepak bola Indonesia seperti Bali United, Persipura Jayapura, Persija Jakarta, dan Persib Bandung agar semakin profesional dan mandiri, nyatanya justru Barito Putera yang dipilih oleh Umbro.

Keputusan Umbro memilih Laskar Antasari ketimbang tim-tim lain jelas punya alasan tersendiri. Misalnya saja, manajemen Barito dinilai sehat dan kompeten dalam mengelola klub sehingga tak ada masalah, khususnya non-teknis, yang mengganggu perjalanan klub di musim ini.

Selain itu, karakter pendukung Barito sudah barang tentu menjadi bahan evaluasi Umbro, entah berkaitan dengan perilaku saat menonton maupun cara mereka menunjukkan loyalitas, misalnya dengan membeli produk-produk orisinal klub.

Hal-hal di atas tentu saja jadi nilai plus di mata para investor sehingga ketertarikan mereka untuk berinvestasi semakin meningkat. Kondisi-kondisi seperti itulah yang perlu ditiru oleh banyak klub di sini supaya pihak sponsor memiliki ketertarikan terhadap mereka. Jangan sampai di masa yang akan datang, para sponsor justru ragu berinvestasi akibat manajemen dari sebuah klub justru tidak karuan dan tingkah suporter mereka tidak menunjukkan aroma positif sedikitpun.

Simbiosis mutualisme yang berpotensi lahir dari kerja sama Umbro dan Barito Putera adalah alasan mengapa kedua kubu akhirnya memilih untuk berkongsi. Hal ini pulalah yang membuat semuanya tampak begitu manis. Kalau Laskar Antasari saja bisa mendapat kepercayaan dari Umbro, klub-klub Indonesia yang lain juga sepatutnya bisa melakukan hal yang sama, bukan?

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional