Eropa Italia

Andriy Shevchenko dan Ingatan yang Pendek

Bulan madu tujuh tahun

Dana hingga 23 juta euro memuluskan kepindahan Shevchenko ke San Siro. Sosoknya yang sudah pernah menghipnotis Eropa membuat Milanisti begitu bergairah menyambut Shevchenko, yang saat itu masih berusia 23 tahun. Sebuah pernikahan yang dinantikan, dan impian bulan madu yang tak ingin diakhiri, bahkan hingga saat ini.

Dan memang tak butuh waktu lama bagi Shevchenko untuk membuka catatan golnya bersama Milan. Satu gol ia persembahkan di malam pertama, ketika Milan bertandang ke rumah Lecce.

Musim pertamanya bersama Milan, Shevchenko mencetak 24 gol dari 32 pertandingan. Catatan apik yang membuatnya berdiri sejajar dengan  Michel PlatiniJohn CharlesGunnar NordahlIstvan Nyers, dan Ferenc Hirzer, sebagai pemain asing yang mampu menjadi pencetak gol terbanyak di musim perdana.

Milan dan Shevchenko adalah narasi tentang ketajaman seorang penyerang komplet. Ia bisa membuat gol dari segala situasi, dengan kedua kakinya, atau kepala. Musim kedua bersama Milan, Shevchenko kembali mencatatkan 24 gol. Meski membuat banyak gol, gelar Serie A masih terlalu sulit untuk digapai Milan.

Musim yang “aneh” terjadi pada musim 2002/2003, Shevchenko hanya mencetak lima gol dari 24 penampilan. Rentetan cedera membuatnya tak maksimal ketika bermain. Salah satu dari sedikit gol yang ia hasilkan pada musim yang aneh itu terjadi di laga paling penting, final Liga Champions melawan Juventus di Old Trafford.

Shevchenko adalah penendang penalti penentu. Jika gol, Milan menjadi juara. Ia begitu dingin ketika mengambil ancang-ancang untuk menendang penalti. Beberapa kali, ia menolehkan kepala ke arah wasit, mungkin untuk meyakinkan diri bahwa ia sudah boleh membawa Milan ke puncak kejayaan. Penaltinya begitu sempurna, tak terlalu keras, dan mengecoh Gianluigi Buffon yang tengah berada dalam puncak performanya.

Penyerang bernomor punggung tujuh tersebut merayakannya dengan kebahagiaan yang meluap-luap. Ia berlari ke arah Dida, kiper Milan yang pada drama malam itu juga mementaskan salah satu peran penting. Ketika tak bisa berkontribusi banyak gol, Shevchenko memberikannya di saat yang paling tepat.

Sehari setelah final, Shevchenko membawa tropi Liga Champions ke makam Valeriy Lobanovskyi, yang meninggal satu tahun sebelumnya. Shevchenko, yang bermandikan haru, mengungkapkan bahwa Lobanovskyi adalah pelatih yang paling berpengaruh di dalam perjalanan kariernya.

“Ini adalah caraku berterima kasih atas semua yang sudah beliau ajarkan kepada saya. Beliau mengajarkan kepada saya tentang makna besar kesabaran. Beliau menanamkan budaya kerja keras di dalam diri saya dan pentingnya menghormati lawan. Ia meletakkan sebuah fondasi yang menjadi dasar karier saya.”

Musim selanjutnya, Shevchenko betul-betul menunjukkan bentuk budaya kerja keras yang dipatri oleh Lobanovskyi di dalam tubuhnya. Ia berhasil lepas dari mimpi buruk rentetan cedera. Dimulai dengan mempersembahkan gelar Piala Super Eropa, Shevchenko seperti menjadi oase bagi rasa dahaga Milan akan Scudetto.

Total, 24 gol dari 32 laga, dan Milan akhirnya memenangi kompetisi Serie A setelah puasa selama lima tahun. Berkat performanya yang sangat konsisten, tahun 2004, Shevchenko dianugerahi gelar Ballon d’Or, mengalahkan Ronaldinho Gaucho.

Musim 2004/2005, patah tulang pipi sempat membuat Shevchenko kembali absen dalam beberapa laga. Namun kembali, ia tak mengizinkan cedera membuatnya lengah. Meski absen dalam banyak laga, Shevchenko masih bisa menyarangkan 26 gol dari 40 laga. Namun sayang, tahun itu menjadi tahun yang pahit bagi Milan dan Shevchenko pribadi.

Final Liga Champions 2004/2005, malam yang ajaib di Istanbul, Milan membuang keunggulan 3-0 di babak pertama. Liverpool bangkti di babak kedua dan menyamakan kedudukan. Drama sesungguhnya ada di dua babak tambahan. Shevchenko sempat, dan seharusnya, bisa mencetak gol. Peluang 99 persen itu lesap begitu saja di tangah Jerzy Dudek yang seperti menjelma menjadi kiper terbaik di dunia sepanjang masa.

Kegetiran kembali dirasakan Shevchenko di babak adu penalti. Dudek yang ikonik malam itu berhasil menepis tendangan penalti Shevchenko yang mengarah ke tengah. Liverpool menjadi juara dan Milan harus tidur dengan bekal serial mimpi buruk berjudul “Malam Sendu di Istanbul”. Milan memang berhasil membalas dendam dua musim kemudian, namun bukan Shevchenko yang menjadi pusat, melainkan Filippo Inzaghi dan pemuda tampan dari Brasil.

Rasa getir di bibir masih tersisa pada musim setelahnya, musim 2005/2006. Milan dan Shevchenko gagal di semua kompetisi. Bulan madu selama tujuh tahun itu nampaknya sudah kehilangan rasa manisnya. Setelah satu tahun penuh bermain mata dengan Chelsea, legenda Ukraina ini akhirnya bersedia dipinang dan diboyong ke Stamford Bridge.

Maharnya 43 juta euro dan Roman Abramovich membawa teman baiknya ke dalam gerbong mahal Chelsea. Pernikahan Shevchenko dan Chelsea tak berjalan dengan nyaman. Meski sempat membuat pendukung The Blues bergairah ketika Shevchenko langsung membuka keran golnya di laga debut ketika melawan Liverpool dalam ajang Community Shield, performa mantan pemenang Ballon d’Or tersebut tak pernah mengilap.

Selama dua musim berseragam Chelsea, Shevchenko tak pernah kembali ke performa terbaik seperti ketika berseragam merah dan hitam. Ia menyadari bahwa lebih baik pergi ketimbang sakit hati. Adriano Galliani, Wakil Presiden Milan kala itu, membuka pintu untuk rujuk dengan Shevchenko. Sebuah peluang yang diambil dengan senang hati oleh Shevchenko.

Namun sayang, bulan madu kedua antara Milan dan Shevchenko berjalan dingin. Semuanya sudah berubah, Shevchenko yang pulang dari London, bukan lagi seorang lelaki penuh vitalitas dan mental baja seperti dulu. Ia sudah kehilangan daya lesat lari jarak pendek. Shevchenko semakin sering membuang peluang dan cedera adalah pelariannya.

Masa peminjaman satu tahun bersama Milan tak berarti banyak dan Shevchenko kembali ke Chelsea. Masa indah Shevchenko bersama Rossoneri hanya tujuh tahun. Sebuah masa yang begitu singkat untuk dikenang.

Di alam bawah sadar pendukung Milan, Shevchenko tak pernah benar-benar pergi. Di hati yang paling dalam, tak ada Milanisti yang rela Shevchenko pergi dan kehilangan sentuhan mematikannya. Tujuh tahun adalah tentang ingatan kemasyhuran yang pendek, yang akan terus Milanisti simpan dalam lemari besi bernama masa lalu.

Ingatan pendek yang akan terus Milanisti jaga. Selamat ulang tahun Andriy Shevchenko, kepada siapa engkau akan menitis? Dari siapa Milanisti bisa bernostagia dengan kelebat namamu?

Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen