Eropa Italia

Sudah Saatnya AC Milan Memikirkan Pelatih Baru?

Belajar naik sepeda dan tidak sabar

Skuat baru Milan ini seperti layaknya anak kecil, dengan orang tua yang galak, tengah belajar naik sepeda. Orang tua ingin si anak dapat dengan cepat menguasai teknik naik sepeda karena sudah mengeluarkan “investasi besar” dalam wujud sepeda. Namun, tentu saja, si anak perlu waktu untuk “beradaptasi” dengan sepeda barunya. Ia perlu mensinkronkan kaki kanan dan kaki kiri untuk mengayuh “sepeda mewah” tersebut.

Apa jadinya jika si anak dipaksa untuk ngebut ketika belum betul-betul “menguasai” sepedanya? Betul, ia akan sering terjatuh, lututnya akan luka, dan mungkin sikunya akan patah. Bagaimana jika si anak malang ini terus dipaksa? Pada titik tertentu, si anak akan merasa jemu dan memilih kembali bermain gawai di dalam rumah.

Tidak perlu dijelaskan bukan, siapa yang memerakan tokoh “si anak” dan siapa yang menjadi “sepeda”?

Milan punya skuat dengan potensi besar. Namun, Milan juga perlu menyadari bahwa perlu waktu untuk membangun dinasti baru. Milan tak perlu bingung sebenarnya jika ingin keluar dari situasi yang runyam ini. Mereka hanya harus, tak perlu malu-malu, melirik bagaimana cara Si Nyonya Tua mengajari cucunya naik sepeda.

Jika enggan, maka mau tidak mau, sudah saatnya Milan memikirkan “anak” yang baru untuk menunggangi sepeda mewah itu. Solusi paling mudah, yang tentunya mengandung risiko sendiri. Berani, Milan?

Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen