
Gelandang: Eduard Ivakdalam
Jauh sebelum nama Boaz Solossa dielu-elukan di tanah Papua, ada nama Eduard Ivakdalam. Di masa jayanya, pemain yang akrab disapa Edu ini merupakan perancang permainan yang hebat bukan main. Ia juga memiliki kaki kiri yang dashyat. Memperkuat Persipura selama 16 tahun, sayangnya akhir karier Edu di Persipura tidak begitu baik. Pokok permasalahan yang beredar kabarnya karena klub merasa Edu sudah uzur, dan mesti melakukan regenerasi. Meskipun belakangan terkuat bahwa inti perselisihan adalah soal nilai kontrak. Meskipun demikian, nama Edu Ivakdalam selalu dikenang di Stadion Mandala.
Gelandang: Zah Rahan
Sebenarnya berposisi sebagai gelandang bertahan, akan tetapi ketika tiba di sepak bola Indonesia, Zah Rahan Krangar kemudian memainkan peran yang lebih menyerang. Kariernya melesat ketika memperkuat Persekabpas Pasuruan. Ia kemudian masuk ke dalam bagian dari rencana besar Rahmad Darmawan untuk membuat tim super di Sriwijaya FC. Hingga akhirya Zah Rahan mendarat di Persipura Jayapura dan memberikan dua gelar juara liga kepada tim Mutiara Hitam.
Gelandang: Manu Wanggai
Immanuel “Manu” Wanggai, bersama Boaz Solossa, dan Ian Louis Kabes, bahkan hingga saat ini, masih menjadi poros tim Persipura Jayapura. Masuk ke tim utama ketika Mutiara Hitam menjadi juara pada tahun 2005, Manu terus bertahan. Ia hanya “membelot” ketika kompetisi terhenti pada tahun 2016 lalu. Ketika itu Manu bergabung dengan tim Timor Leste, Cersae.
Gelandang: Christian Warobay
Christian Warobay terpilih sebagai pemain terbaik ketika Persipura berhasil menjadi juara liga pada tahun 2005. Warobay merupakan fullback modern sepak bola Indonesia sebelum era Supardi Nasir dan Muhammad Ridwan. Ia bisa menyerang dan sangat disiplin membantu pertahanan. Warobay juga menjadi bagian ketika Rahmad Darmawan membentuk tim super di Sriwijaya FC.