Kokoh, namun luwes
Schick merupakan pemain yang unik. Meski fisiknya termasuk tinggi dan besar, Schick tak kaku dengan bola. Bahkan, dengan profil fisik yang kokoh, olah bola Schick sangat luwes. Fakta ini ditunjang oleh teknik olah bola yang baik. Olah bola yang baik disokong oleh teknik mengontrol bola di atas rata-rata.
Pemain yang lahir pada 24 Januari 1996 ini bisa menggunakan profilnya yang kokoh untuk melindungi bola. Schick menggunakan kedua tangannya dengan baik untuk mengambil jarak atau mendorong lawan ketika ia menggiring bola. Hasilnya, bek lawan akan kesulitan menjulurkan kaki untuk mengambil bola karena jarak yang diciptakan oleh tangan Schick.
Posisi idealnya adalah penyerang tengah dan posturnya yang bagus membantu Schick menjadi penyerang tradisional yang dibutuhkan untuk momen-momen tertentu. Misalnya harus menjadi pemantul di depan kotak penalti. Ia harus bisa mendorong lawan ke belakang supaya bisa menerima bola dengan enak.
Teknik finishing Schick juga sangat baik, yang didukung teknik menembak yang baik dan akurasi yang memuaskan. Beberapa kali, Schick mencetak gol dari luar kotak penalti. Ia bisa mengarahkan bola dengan mudah, bahkan ketika ditekan oleh pemain lawan. Kemampuannya ini akan menambah variasi cara menyerang Serigala Roma.
Selain penyerang tradisional, Schick juga bisa bermain melebar, terutama ke sisi kanan. Ingat, meski bermain di sisi lapangan, ia bukan pemain sayap. Schick lebih seperti penyerang bayangan yang berada di sisi kotak penalti. Supaya pembaca lebih jelas, silakan simak video di bawah ini:
https://www.youtube.com/watch?v=1LY8d2AkhzI
Schick banyak mengawali proses serangan di wilayah sepertiga akhir dari sisi kanan, atau tepatnya di halfspace sebelah kanan. Dari sisi kanan tersebut, ia akan menggiring bola masuk ke kotak penalti, untuk bermain kombinasi, atau melepas umpan terobosan. Jika situasi mendukung, Schick juga bisa langsung membidik gawang.
Ketika menggiring bola, Schick terlihat cukup luwes, bahkan gemulai. Ia bisa menggeser bola dengan mudah, yang artinya menunjukkan teknik menggiring yang baik. Perpaduan antara fisik yang kokoh dan keluwesan ketika mengolah bola, membuat Schick akan sulit dihentikan oleh satu pemain saja.
Ya, Schick yang mengawali seragan dari sisi kanan bisa digunakan sebagai pancingan kepada lebih dari satu pemain lawan untuk mengawal. Akibatnya, pemain Roma lainnya akan diuntungkan dengan penjagaan yang lebih longgar. Inilah yang dimaksud kontribusi Schick tak hanya terbatas pada mencetak gol atau membuat asis.
Schick menyimpan potensi yang besar. Dan yang membuat Romanisti boleh optimis adalah Eusebio Di Francisco punya catatan yang bagus ketika membuat pemain muda bisa mengeluarkan kemampuan terbaik. Ia sudah membuktikannya bersama Sassuolo. Yang dibutuhkan De Francesco dan Schick adalah sedikit waktu untuk saling menyesuaikan.
Yang pasti, dalam diri Schick, Roma menemukan seorang raksasa yang bisa bermain balet.
Benvenuto, Schick!
Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen