VAR: Dibutuhkan sekaligus dihujat
Sejak tahun lalu, FIGC (PSSI-nya Italia) memang sudah menyatakan bahwa musim 2017/2018 ini, VAR akan diterapkan secara resmi untuk seluruh laga Serie A. Sebelumnya, VAR digunakan dalam taraf uji coba saja.
Amerika Serikat, negara yang bola basket lebih populer, juga sudah menggunakan VAR di kompetisi sepak bola mereka, Major League Soccer. Bundesliga juga musim lalu menggunakan VAR dalam taraf uji coba.
Di kompetisi internasional sendiri, VAR mulai digunakan saat Piala Dunia Antarklub tahun lalu. Kemudian Piala Dunia U-20 dan Piala Konfederasi tahun ini sudah menggunakan VAR.
Kira-kira mengganggu tidak penggunaan VAR di sepak bola? Sekali lagi, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Saat Piala Konfederasi 2017, sempat ada lelucon bahwa bintang sesungguhnya bukanlah pemain sekelas Cristiano Ronaldo atau Alexis Sanchez melainkan VAR.
Baca juga: Seperti Cinta, Teknologi VAR Juga Butuh Waktu
Ya, di laga awal, sistem ini membuat wasit beberapa kali menganulir gol. Tetapi, kalau tidak ada VAR, ada pemain yang salah di kasih kartu. Ingat saat wasit salah memberi kartu merah ke salah satu pemain Kamerun? Berkat melihat tayangan video, wasit lebih jelas melihat pemain mana yang melakukan pelanggaran.
Sekali lagi, teknologi, apapun itu, pasti mempunyai tujuan yang baik. Itu jika digunakan dengan bijak. Dalam sepak bola, masalah VAR mau digunakan atau tidak itu tergantung dari masing-masing pihak penyelenggara. Namun, jangan sampai penggunaan VAR jadi merusak keseruan sepak bola itu sendiri.
Author: Yasmeen Rasidi (@melatee2512)