Turun Minum Serba-Serbi

Ketika VAR Membuat Sepak Bola Menjadi Seperti Polo Air

Kompetisi liga-liga elite Eropa sudah memasuki minggu ketiga. Tentu kita menyaksikan keseruan di masing-masing liga. Dari ketatnya laga Real Madrid melawan Valencia yang berakhir 2-2, Chelsea yang mulai stabil penampilannya sejak kekalahan di pekan perdana, hingga kemenangan Internazionale Milano di markas AS Roma.

Nah, ada yang berbeda dari kompetisi musim 2017/18 ini. Apa? Yakni mulai digunakannya video assistant referee (VAR) atau video replay. Serie A Italia dan Bundesliga sudah mulai menerapkan penggunaan sistem ini untuk meminimalisir salah ambil keputusan di lapangan.

Seperti kita ketahui, kejadian di lapangan terjadi begitu cepat. Wasit dan hakim garis pun juga manusia biasa yang tidak mungkin bisa memerhatikan semua insiden setiap menitnya. Makanya, VAR mulai digunakan dengan tujuan agar bisa meringankan kerja sang pengadil lapangan hijau.

Namun, tidak semua para pelaku sepak bola juga sreg dengan sistem ini. Kiper legendaris Italia, Gianluigi Buffon, misalnya. Palang pintu Juventus ini justru merasa penggunaan VAR ini mengganggu jalannya pertandingan. VAR, menurut penjaga gawang veteran ini, membuat laga sepak bola seperti pertandingan polo air. Karena baru berjalan sekian menit, sudah harus berhenti dan wasit melihat video sebelum mengambil keputusan.

Wah, apa benar seperti itu? Benarkan VAR merusak keindahan dan keseruan sepak bola?

Previous
Page 1 / 3