Kolom

Malam yang Pelik dan Getir di Shah Alam

Indonesia
Kredit: KL2017

Satu sundulan sederhana yang mematikan kepak sayap Garuda

Saya tercekat ketika sundulan akurat Thanabalan Nadarajah, pemain yang sudah berkali-kali kami tegaskan sebagai salah satu pemain berbahaya milik Malaysia, meluncur secara mulus dan sederhana sekali ke gawang Satria Tama, yang praktis sepanjang laga tak perlu banyak jatuh bangun menyelamatkan gawangnya.

Satu sundulan pelan namun tepat yang tak hanya membungkam mulut kami di stadion, tapi juga membuat Shah Alam bergemuruh oleh gegap gempita suporter tuan rumah. Saya lihat Putu Gede Juni Antara langsung terbaring lemas di dekat gawang Indonesia. Ia pemain pertama yang tampak terpukul dengan gol tersebut. Evan segera bergegas melakukan tugasnya sebagai kapten, menaikkan moral dan semangat timnya, tapi kamu tahu, sisa waktu 2 menit dan 5 menit tambahan waktu tak pernah cukup malam itu.

Bukan malam yang sendu untuk dikenang, tapi, malam yang pelik. Malam yang aneh dan tak biasa. Tidak seperti ketika melawan Thailand dan Vietnam di fase grup di mana Indonesia tak terlalu diunggulkan dan ‘sukses’ meraih hasil imbang, malam kemarin terasa jauh lebih pelik. Untuk pertama kalinya datang sebagai non-unggulan, saya merasa yakin sekali Indonesia mampu menang atas Malaysia.

Ini tak seperti malam menyedihkan di Rajamangala akhir tahun lalu ketika Thailand membalikkan agregat skor dan menundukkan tim Garuda dua gol tanpa balas. Di Thailand waktu itu, kita bermain sangat buruk sejak menit pertama. Tapi di Shah Alam, Indonesia bermain baik, jauh lebih baik ketika bermain selama fase grup SEA Games 2017.

Saya rasa itulah kenapa kekalahan ini terasa tak kalah getir ketika kalah di final Piala AFF 2016 lalu. Terasa getir karena sedikit lagi, kita punya peluang menjungkalkan Malaysia di kandang sendiri dan lolos ke final dengan kebanggaan yang tinggi. Terasa getir karena setelah 87 menit bermain bagus dan lumayan stabil, kita kembali menelan pil pahit karena satu gol sederhana dari skema sepak pojok.

Malam yang pelik dan getir di Shah Alam. Ketika peluit akhir berbunyi, saya melihat lima pemain timnas langsung terbaring lemas. Evan Dimas sempat bertahan untuk berdiri beberapa detik, berupaya menunjukkan ketegarannya, tapi ia tak kuasa terduduk lemas ketika tahu tak ada menit tersisa untuk memperjuangkan tiket ke final. Saya kembali tercekat kedua kali malam itu usai peluit akhir. Kalah di Shah Alam di tengah kegembiraan ribuan suporter tuan rumah bukan pengalaman yang bisa kamu lupakan dalam dua atau tiga hari ke depan.

Satu kekalahan yang akan membekas cukup lama di memori kelam saya. Satu kekalahan dan satu malam yang pelik, justru di stadion dan kota yang saya sukai selama di Malaysia, Shah Alam.

Isidorus Rio Turangga – Editor Football Tribe Indonesia