Kolom

Carlos Soler: Ia yang Mengintai dari Balik Punggung

Tak selamanya situasi yang menyesakkan akan bertahan. Akan tiba saatnya ketika situasi tersebut mulai tersapu oleh perubahan, meski perlahan, namun pasti. Kesadaran untuk bertahan di tengah situasi yang tak mengenakkan, terkadang, justru menjadi palu yang paling ideal untuk menempa diri, sebagai sebuah persiapan.

Peralihan, sebuah fase dalam perubahan, tengah dirasakan Valencia. Setelah dua musim lalu mereka terpuruk, jalan menuju perubahan tengah dititi. Pergantian beberapa pelatih harus dijalani, demi mendapatkan stabilitas yang dibutuhkan. Kembali, meski perlahan, Valencia sudah berjalan di jalur yang tepat.

Mulai dari Gary Neville, hingga Cesare Prandelli, Valencia mencari pakem yang tepat. Keduanya tak bertahan lama karena penurunan performa yang begitu drastis, hingga perselisihan dengan manajemen. Namun yang pasti, bibit perbaikan itu sudah tertanam.

Jatuh bangun Los Che juga dibidani oleh para pemain. Meski sebenarnya berisi pemain-pemain yang cukup bagus, Valencia kehilangan cara mempertahankan level tertinggi. Atau bisa juga disebut bahwa para pemain lupa dengan kemampuan mereka. Buktinya, meski tertatih, Valencia selalu bisa bertahan.

Meski tertarih, para pemain sadar dengan kemampuan mereka. Dan di balik situasi pahit itu, seorang pemain muda menyadari bahwa dirinya punya yang dibutuhkan untuk menjadi bintang masa depan. Namanya Carlos Soler, dan di usia 20 tahun, Valencia sudah menemukan pemain yang bisa menjadi pemantik perubahan itu. Mengakselerasi perubahan, demi nama Kelelawar Mestalla.

Ditempa Situasi Sulit

Bakat Carlos Soler, boleh dikata, ditemukan oleh Gary Neville. Ini menjadi bukti bahwa di balik kesusahan, selalu ada maksud indah yang baru akan terasa di masa depan. Juga menjadi bukti bahwa hanya diperluan ketekunan untuk lepas dari masa-masa sulit tersebut. Tentu saja, keyakinan baja juga diperlukan.

Pemain yang menjalani debut di usia 19 tahun ini adalah produk asli akademi Valencia. Ia sudah bergabung dengan klub sejak berusia delapan tahun. Dan di usia muda itu, Soler mempelajari hal penting, hal yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di level elite. Satu hal yang harus ia syukuri, yaitu kesempatan untuk belajar.

Sebuah kesempatan untuk belajar, ketika dirinya seperti tidak masuk dalam agenda si pelatih. Ketika Soler mulai beredar di tim utama, Valencia sudah punya Fran Villalba, jebolan akademi, yang bahkan sudah akan ditahbiskan menjadi “David Silva baru”. Carlos Soler? Ia setia duduk di bangku cadangan, mengamati perubahan, dan menyerap pengetahuan.

Diterpa sinar sorot lampu kemasyhuran, Villalba justru tak berkembang. Usia muda, dengan belepotan pujian, membuatnya kehilangan dasar untuk berkembang. Villalba, justru tak bisa memenuhi ekspektasi menjadi “David Silva Baru”, sosok playmaker yang pernah membuat Valencia begitu ditakuti.

Ketika Villalba perlahan meredup, nama Soler mulai dikenal. Ketika itu musim 2016/2017 baru dimulai. Sayang, performa Valencia begitu buruk. Empat laga pembuka berakhir dengan kekalahan. Hasilnya, Pako Ayestaran, pelatih mereka saat itu, langsung dipecat. Penggantinya, Cesare Prandelli, juga gagal mengangkat performa Valencia.

Mantan pelatih Fiorentina tersebut juga akhirnya harus angkat kaki. Meski sama buruknya dengan Ayestaran, Prandelli menginisiasi perubahan yang terjadi di Valencia, terutama dengan memberi debut kepada Soler. Sebuah keputusan yang membuat pelatih Valencia selanjutnya, Salvador González Marco, atau yang dikenal sebagai Voro, mesti mensyukurinya.

Valencia kalah dengan skor 3-2 ketika melawan Real Sociedad. Namun baik pelatih, hingga para suporter memahami satu hal: seorang calon pemain bintang sudah lahir.

Pertandingan selanjutnya ketika melawan Osasuna, Voro memainkan Carlos Soler sejak awal. Hasilnya di luar dugaan. Soler mampu menjalin tingkat pengertian yang memuaskan dengan Dani Parejo. Soler menunjukkan teknik mengumpan yang sangat baik. Ia bermain stabil sepanjang pertandingan dan membuat Valencia tersenyum.

Masih berusia 20 tahun ketika Soler menunjukkan kematangan dan ketenangan yang luar biasa. Waktu itu, Valencia menjamu Celta Vigo, menit ke-85, dan skor sama kuat 2-2. Awal menit ke-88, Enzo Perez merangsek ke daerah pertahanan Celta. Ia melihat celah, melihat arah lari Soler di belakang bek lawan.

Umpan terobosan dilepaskan Enzo, dan Soler mengejarnya. Ketika bola sampai di kaki Soler, kiper Celta Vigo keluar dari sarang. Melihat keputusan kiper, Soler melakukan hal yang tak terduga. Ia mencungkil bola melewati jangkuan kiper. Seorang pemain muda, seperti lupa dengan semua tekanan, bisa melepaskan tembakan seperti itu.

Selain ketenangan sekokoh kristal, Soler bisa bermain di tiga posisi. Posisi aslinya ketika bermain di akademi adalah penyerang. Namun, ia juga bisa bermain sebagai gelandang serang atau gelandang tengah. Satu hal lagi yang luar biasa, ia bisa bermain sama baiknya di tiga posisi tersebut. Bahkan ketika ia harus bermain melebar dalam pola 4-4-2 ala Marcelino, pelatih Valencia saat ini.

Marcelino, mengindikasikan akan menggunakan skema 4-4-2 dengan Soler berada di kiri. Ia bukan pemain sayap. Soler akan bermain seperti David Silva di Manchester City, seorang playmaker yang bermain dari sisi lapangan dan bergerak ke tengah.

Pada akhirnya, Soler yang dipaksa menunggu di bangku cadangan demi memberi panggung untuk Villalba, yang justru bersinar lebih terang. Ia justru menjadi pengejawantahan impian Valencia melahirkan “David Silva baru”.

Dari balik punggung pemain lain, dari balik tabir, Soler mengintai situasi. Seperti harimau, dengan sabar ia menentukan target. Mengukur semua situasi, mempelajari semua kemungkinan. Ketika mendapatkan momen yang tepat, singa dari Valencia ini menerkam kesempatan dengan paripurna.

Ia yang mengintai dari balik punggung, yang kini justru memegang kunci masa depan. Namanya, Carlos Soler.

Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen