Kolom

Kekalahan Arsenal: Karena Sepak Bola adalah Soal Momentum

Pergantian pemain

Sumbu pendek yang dimiliki Xhaka justru sering meledak dan merugikan timnya sendiri.
Granit Xhaka bermain kurang baik

Granit Xhaka memang tak bermain baik, jauh di bawah standar. Ia sering kehilangan bola, salah mengumpan, hingga kurang jeli mengambil keputusan. Bahkan, salah satu kesalahan mengambik keputusan berakhir dengan gol satu-satunya malam itu. Setelah salah mengumpan, Xhaka berusaha “bertanggung jawab” dengan meninggalkan areanya dan menekan pemain Stoke yang memegang bola.

Keputusan yang keliru, lantaran pemain-pemain Stoke bisa memanfaatkan area yang sangat sangat sangat luas di depan kotak penalti.

Namun, meski tak bermain baik, keberadaan Xhaka sebagai penyeimbang sangat penting. Ia memberikan akses umpan vertikal langsung ke depan kotak penalti. Di babak pertama, lewat permainan kombinasi di depan kotak penalti, The Gunners bisa masuk ke kotak penalti Stoke. Bahkan, beberapa kali langsung berhadapan dengan kiper lawan.

Proses untuk melakukan pemainan kombinasi tersebut dihasilkan dari umpan vertikal dari Xhaka. Mesut Özil, jadi tak harus turun jauh ke bawah untuk menginisiasi umpan vertikal. Ia bisa terlibat dalam permainan kombinasi tersebut.

Ketika Xhaka ditarik ke luar, maka keseimbangan tersebut hilang. Alasan Wenger untuk mengganti Xhaka sebenarnya masuk akal. Ia ingin menambah jumlah penyerang. Namun, kesalahan yang beliau lakukan adalah bukan memasukkan Lucas Perez. Ia justru memainkan Theo Walcott, yang tak efektif dalam situasi pertandingan tersebut.

Taktik pergantian pemain Wenger dipertanyakan setelah ia membiarkan Danny Welbeck bermain selama 90 menit penuh. Sungguh lelucon, ketika Welbeck membuang banyak peluang, Wenger justru menarik keluar Lacazette yang lebih efektif dalam permainan kombinasi Arsenal.

Keberadaan Welbeck dan Olivier Giroud, tanpa penyerang yang bisa melebar membuat Arsenal menjadi sangat monoton. Variasi serangan Arsenal berkurang dan di sini, keberadaan Walcott tak memberi dampak yang diharapkan. Walcott diharapkan bisa memberi opsi lebar lapangan dan menarik bek-bek Stoke yang menumpuk di kotak penalti.

Wenger punya momentum menggantikan Welbeck sejak awal babak kedua, ketika ia belum membuang peluang lagi. Sayang, kebiasannya mengganti pemain di atas menit 65 membuat Arsenal kehilangan momentum.