
Sebuah kompetisi menyajikan dua hal pada ujungnya. Satu hal bernama kemasyhuran yang ditawarkan gelar juara setelah memuncaki klalsemen dan hal kedua adalah turun kasta, degradasi, sebagai “hukuman” karena kegagalan. Bagaimana jika sebuah kompetisi tak punya skema degradasi sebagai wujud kegagalan?
Sebuah wacana berbahaya mengapung. Pertemuan para manajer di Hotel Mulia, Jakarta, pada Kamis (3/8) yang lalu, melahirkan sebuah pemikiran yang tidak logis. Wacana yang dimaksud adalah meniadakan skema degradasi dari Liga 1 Indonesia tahun 2017 ini.
“Wacana ini diapungkan pada pertemuan informal para manajer. Menurut kami banyak pertandingan yang tidak sesuai dengan aturan yang telah disepakati. Misalnya terkait jadwal tandang atau kandang yang dialami Persiba Balikpapan dan Perseru Serui,” kata Munafri Arifuddin, CEO PSM Makassar, pada jumpa media di sekretariat PSM, Sabtu (5/8/), seperti dilansir oleh Bola.com.
Dari pendapat di atas, bisa terbaca bahwa wacana ini sudah bersemayam di banyak kepala, mengacu pada kalimat “pertemuan informal para manajer”, lebih dari satu orang. Alasan yang menjadi dasar wacana adalah beberapa pertandingan yang tak sesuai dengan aturan, misalnya jadwal. Dan kebetulan, Persiba Balikpapan dan Perseru Serui tengah saling kejar di zona degradasi. Persiba berada di posisi kedua dari bawah, sedangkan Perseru Serui satu tingkat di atasnya.
Jika alasan yang diapungkan adalah masalah jadwal, maka seharusnya, pembenahan jadwal adalah langkah pertama. Langkah kedua adalah mengevaluasi isi badan si pembuat kebijakan. Langkah ketiga adalah mengganti orang-orang yang tak kompeten di dalam badan pembuat kebijakan soal jadwal tersebut.
Langkah keempat, adalah pengawasan, supaya jadwal yang sudah disepakati tak digunakan untuk kepentingan pihak tertentu.
Bagaimana logikanya carut-marut di jadwal pertandingan diejawantahkan dengan menghapus sistem degradasi? Apakah perjuangan klub di Liga 2 tak ada artinya? Selain tentu dana yang tak sedikit, klub-klub Liga 2 juga sudah terlalu banyak mengalah dengan sistem penyiaran pertandingan, seperti yang sempat memicu perdebatan panas di awal musim.